Jurnal

Menggapai Mimpi, Self Discovery Day 7

Menggapai Mimpi #SelfDiscovery #Day7– Apa yang terlintas di benak kita ketika membaca menggapai mimpi? Pikiran kita otomatis melayang pada list daftar mimpi yang ingin kita wujudkan.

 

Saya yakin Sahabat punya yang namanya mimpi, entah itu mimpi jadi penulis besar, menerbitkan buku, punya bisnis sendiri, atau bahkan travelling keliling dunia.

 

Saya pun sama, setidaknya ada list mimpi mimpi kecil dan mimpi besar. Membedakannya yang mana yang kecil dan mana yang besar buat saya, dilihat dari seberapa intens saya memikirkannya. Jika setiap hari memikirkannya dalam jangka waktu periode yang lama, masuk ke kategori mimpi besar. 

 

Menggapai Mimpi

Menggapai Mimpi Self Discovery day 7

Tantangan hari ke-7 ini adalah hal apa yang selalu ingin saya lakukan dan apa yang membuat langkah saya terhenti mewujudkannya.

 

Saya akan menguraikannya disini menjadi dua, karena disini ada dua pertanyaan. Yang pertama adalah dream board saya dan kedua apa rintangannya.

Dream Board saya

Buat saya sendiri ada 3 mimpi besar yang tidak pernah lekang dari ingatan saya setiap harinya.

 

Girodet Trioson, Louvre Museum. Koleksi pribadi
Girodet Trioson, Louvre Museum. Koleksi pribadi

1. Membahagiakan kedua orang tua.

Jika melihat mimpi di atas, adalah mimpi yang kurang spesifik dan sulit diukur keberhasilannya jika tidak ada indikator yang jelas. 

Karena itu mimpi besar nomor 1, saya break down ke dalam mimpi yang lebih memudahkan saya untuk mengukur keberhasilannya dan bisa menggapai mimpi ini.

 

1.a. Tinggal bersama dan merawat Mama.

Selama ini Mama tinggal bersama adik lelaki saya di kota Lampung. Untuk membawa orang tua tinggal di Jerman sendiri bukanlah hal mudah, jika rencananya adalah beliau permanen tinggal disini.

 

Alternatifnya:  membawa Mama kesini untuk tinggal selama 3 bulan menggunakan Visa tipe kunjungan keluarga. 

 

Baik itu alternatif ataupun poin yang utama merawat Mama, membutuhkan mimpi besar saya nomor 2.

 

Apa mimpi besar saya nomor 2? Nanti ya.. Satu per satu. 

 

Mama adalah orang yang pertama kali mendorong atau mengarahkan saya untuk menulis, karena melihat saya yang kesulitan untuk berkonsentrasi. Sayang, di umur saya sekitar 14 tahun, beliau sakit dan tidak pulih sampai saya setua ini. 

 

Beliau tidak pernah meminta untuk tinggal bersama saya, karena tidak mau merepotkan. Keinginan Mama hanya satu yaitu pulang ke Bandung, supaya dekat dengan keluarganya. Keluarga yang sebenarnya kalau seandainya dapat beliau sadari, telah “membuangnya”.

 

Sorry, I got carried away. Kalau ngomongin soal ini, selalu emosional dan ingin nangis bawaannya.

1.b. Mencarikan Papap kegiatan yang produktif.

Papap adalah nama sebutan untuk Ayah saya. Papap adalah tipe orang yang harus selalu punya kegiatan. Kalau tidak aktif, biasanya beliau sakit.

 

Saya melihat Papap sebagai orang yang serba bisa, dan tipe observer. 

 Jika diminta mengerjakan sesuatu, Beliau selalu mengatakan “pasti bisa”. Beliau adalah kebalikan dari saya, yang sekarang ini banyak ragu untuk mencoba dan banyak rasa takut .

Bahkan waktu berkunjung kesini tahun lalu, saya yang keukeuh (bersikeras) nggak mengijinkan beliau buat nggak naik arena mirip “pontang-panting” di Dufan. Wong, saya aja jiper liatnya. #tutupmuka

 

Sekarang ini karena Corona, beliau tidak punya banyak kegiatan, sehingga beliau pun banyak sakit sakitan.

 

Mungkin membangun rumah dengan kebun di belakang, yang bisa beliau manfaatkan untuk area bercocok tanam, bisa mewujudkan keinginan saya ini.

 

2. Bekerja full time di bidang yang saya punya passion di dalamnya.

Nomor 2 ini saya mengalami  self-doubt. 

 

Saya percaya, Human Resources adalah bidang yang saya punya passion gede disana. Namun apa yang saya lakukan tidak mencerminkan apa yang saya percayai. Bahkan bahan untuk ujian saja, sudah berbulan-bulan tidak saya sentuh. 

 

Bagaimana dengan menulis? 

Menulis bukanlah passion saya, tetapi lebih didorong pada kebutuhan. Kebutuhan untuk memperbaiki cara berkomunikasi, meningkatkan kemampuan menyerap ilmu pengetahuan dan membantu untuk lebih berkonsentrasi. 

Tujuan akhir dari menulis selain memenuhi kebutuhan saya di atas, juga untuk memberikan manfaat bagi sesama.

 

pesantren impian
Dream Board Pesantren+Panti Asuhan. Source by. ivan-bandura-unsplash

3. Membangun pesantren sekaligus panti asuhan yang ramah lingkungan.

Di dalam dream board saya, pesantren yang saya bangun juga tempat anak-anak yang sudah tidak punya orang tua. 

 

Pesantren ini dibangun di daerah pedesaan, dengan luas tanah minimal 1 ha. Tipe pengajaran selain juga berlandaskan agama juga mengadopsi konsep sekolah alam. 

 

Dari segi gedung, dibuat dengan konsep banyak bukaan, langit-langit yang tinggi, sehingga tidak memerlukan pemakaian AC

 

Fasilitas di dalamnya adalah Masjid sebagai tempat beribadah dan fasilitas lain seperti kebun, dapur umum, kantin, tempat pengolahan sampah, tempat workshop seperti pertukangan, perkayuan dan art gallery.

Untuk bisa mewujudkan keinginan saya ini, saya pun memerlukan mimpi nomor 2 dan memperluas networking saya. Memperluas networking gunanya agar pesantren dan panti dapat membiayai sendiri, meskipun ketika saya sudah tiada.

 

Saya ingin anak-anak di pesantren panti ini, tidak pernah merasa hidupnya kurang beruntung dibandingkan mereka yang punya keluarga utuh, karena mereka punya satu sama lain yang mereka anggap sebagai saudara sendiri dan Ustad serta Ustadzah yang mereka anggap sebagai orang tua.

 

Mungkin Papap juga bisa tinggal di komplek pesantren ini untuk membantu memonitor operasional. Mungkin anak-anak setelah lulus suatu saat bisa kembali lagi ke pesantren dan menjadi tenaga pengajar menggantikan generasi sebelumnya.

 

Kendala dalam Menggapai Mimpi

Rasa takut yang tidak beralasan dalam menggapai mimpi nomor 2. Rasa takut yang membuat saya seperti membuang waktu di dalam 6 tahun terakhir hidup saya. 

 

Rasa takut lah yang memisahkan jarak besar antara saya dan impian saya.

 

Sedih, because i used to be cautious but fearless.

Yang lalu tapi sudah berlalu, sekarang saya tahu bahwa saya harus melawan rasa takut dan procrastination berlebihan ini.

 

Oia, jika saya bisa mewujudkan nomor 2, maka apa yang saya peroleh bisa dijadikan bahan bakar untuk dijadikan kendaraan dalam menggapai mimpi nomor 1 dan nomor 3 setahap demi setahap.

 

Buat kalian yang ingin juga menggapai mimpi, bisa juga baca artikel saya tentang mewujudkan mimpi dengan santai tapi tercapai.

 

Apakah kalian punya mimpi yang ingin kalian lakukan tapi belum terwujud?

 

Yuk mari share pengalamannya.

 

Stay safe … xoxo

 

Baca juga, Hari yang Sempurna, self discovery journal hari ke-6.

Baca selanjutnya, Perasaan Puas. Benarkah Ada Hubungannya dengan Kebahagiaan?, self discovery journal hari ke-8.

5 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!