Career Skills

3 Teknik Mindful Listening yang Mampu Meningkatkan Kualitas Hubungan

tipe komunikasi

Mindful Listening. Di jaman sekarang dimana aliran informasi begitu banyak ternyata mempengaruhi kemampuan komunikasi kita. 

Jaman sebelum teknologi chat misalnya, hampir tidak ada distraksi ketika kita mengobrol dengan teman-teman. 

Sekarang kita mengalami orang bahkan lebih sibuk dengan ponselnya ketimbang terlibat dengan percakapan nyata dengan orang yang duduk di satu meja dengan mereka.

Adanya pembagian konsentrasi antara percakapan nyata dengan kegiatan online membuat kita tidak bisa menangkap keseluruhan pesan yang disampaikan, dan dapat berpotensi mengurangi kualitas hubungan.

Tidak percaya?

Seberapa sering kita terlibat dalam percakapan, yang tidak mampu kita recall ingatan kita ketika selesai? Kita lupa (bisa jadi sebagian besar) apa yang dibicarakan oleh lawan bicara kita. 

Seberapa sering ketika lawan bicara sedang berbicara, kita sibuk memikirkan respon apa yang akan kita sampaikan? Atau mungkin pikiran kita sibuk memikirkan kejadian yang sama yang menimpa kita.

Jika jawabannya sering, mungkin sudah saatnya kita menjawab tantangan hidup di era teknologi dan berlatih mindful listening dari sekarang, supaya kita dapat merespon dengan kata-kata yang tepat, cara yang tepat dan di waktu yang tepat.

mindful listening

Apa itu Mindful Listening?

Mindful listening lebih dari active listening atau mendengarkan dengan aktif.

Jika active listening adalah kemampuan mendengarkan dengan seksama dan memberikan respon atau tanggapan yang tepat.

 

Mindful listening adalah mendengarkan dengan seksama tanpa terdistraksi, sadar akan present moment, dan tanpa memberikan judgement / penilaian agar kita bisa menangkap pesan yang disampaikan.

 

Seperti juga kegiatan mindful lainnya, seperti misalnya mindful photography, kegiatan ini menekankan supaya kita ada pada saat sekarang (present moment), tidak menjalankan otak kita ke mode autopilot, dan tidak sibuk memikirkan apa yang sudah terjadi dan akan terjadi. 

Kunci yang kedua dari mindful adalah tidak memberikan judgement atau penilaian, melepaskan distraksi dan reaksi fisik dan emosi atas apa yang orang lain katakan kepada kita. 

Ketika kita tidak mindful, kita akan mudah terdistraksi dengan pikiran kita dan mungkin juga kecemasan yang kita rasakan, yang membuat kita gagal untuk mendengar dan melihat apa yang orang lain katakan dan perbuat. 

Kesalahan dari "Mendengar apa yang ingin kita dengar"

Ketika performance appraisal tahunan, saya duduk bersama atasan untuk membahas perfoma kerja tahun lalu dan pencapaian KPI (Key Performance Indicator). Di akhir sesi, saya mengatakan hendak mengundurkan diri dengan alasan, saya merasa atasan membenci saya.

Saya kemudian memberikan beberapa contoh konkrit untuk memperkuat alasan. Tak lupa saya mengutip juga beberapa perkataannya.

Si bos terkejut dan tidak menyangka saya sampai kepikiran hal itu. Dia mengatakan bahwa apa yang dikatakannya tidak ada hubungannya dengan saya, lagipula sejauh ini dia menyukai cara dan hasil kerja saya. 

Hari itu saya memetik sebuah pelajaran, yaitu:

Manusia mempunyai kecenderungan hanya mendengar apa yang ingin ia dengar, dan itu adalah kesalahan. Ini terjadi akibat emosi yang ia rasakan dan didukung oleh suara yang ada di dalam kepala.

Seperti yang terjadi pada kasus saya ini, saya gagal menterjemahkan informasi karena apa yang bos katakan selalu saya kaitkan dengan perasaan. Ada yang pernah mengalami serupa?

Teknik Mindful Listening

Ada beberapa teknik yang dapat diterapkan, yang saya ambil dari buku Search Inside Yourself karya Chade Meng Tan. 

Meng Tan dulunya adalah seorang Engineer di Google dan berhasil mengembangkan cara untuk meningkatkan mindfulness dan emotional intelligence (kecerdasan emosional).  

1. Attention Training

Sesuai dengan kunci pertama dari kegiatan mindfulness, ada beberapa latihan yang bisa kita coba supaya kita bisa fokus pada saat sekarang atau istilahnya present at the moment.

Latihan itu diantaranya,

1. Teknik bernafas. 

2. Meditasi. 

Sama halnya dengan latihan lain. Misalnya latihan berjalan kaki supaya otot kaki menjadi lebih kuat, latihan membaca supaya bisa mengerti isi bacaan. Latihan dengan teknik bernafas dan meditasi adalah latihan untuk pikiran kita. Semakin sering kita berlatih, semakin baik dan cepat kita mengkondisikan pikiran.

Untuk apa latihan meditasi ini?

Agar pikiran kita menjadi lebih tenang, dapat berpikir dengan jelas, dan meningkatkan fokus. 

Bagaimana penerapannya ketika kita akan berbicara dengan seseorang?

Cukup mengambil waktu melakukan teknik pernafasan dan atau meditasi sebelum pertemuan. Teknik bernafas kini bahkan bisa terbantu dengan fitur bernafas yang ada di smart watch, seperti Apple watch misalnya. Tidak memerlukan waktu lama, cukup dengan 1-2 menit.

Begitu pula dengan meditasi, cukup memerlukan waktu 5-10 menit saja. Namun teknik mengosongkan pikiran ini dapat membuat ruang dalam pikiran kita untuk mendengarkan pendapat orang lain.

Ketika kita sedang terlibat dalam pembicaraan dan menyadari kalau pikiran mulai tidak fokus, coba kontrol diri kita dan pusatkan kembali pada orang itu dengan mengajukan pertanyaan yang relevan.

2. Meminimalisir Distraksi

Usaha meminimalisasi hal yang dapat mendistraksi kita bisa dengan cara memilih tempat mengobrol yang sesuai, misalnya di ruangan khusus, atau di taman, atau di pojok cafe. 

Selain itu jauhkan kita dari alat elektronik, seperti ponsel atau komputer, atau tahan keinginan untuk melihat jam ketika notifikasi muncul di smart watch yang kita kenakan.

Camkan dalam pikiran, kalau orang yang sedang berbicara ini penting  dan karena itu kita memprioritaskan perhatian sehingga orang itu merasa dihargai.

3. Self-Awareness

Self-Awareness adalah mengerti diri sendiri, emosi yang kita rasakan, preferensi, apa yang mentrigger perasaan kita dan bagaimana kita bereaksi.

Self-Awareness adalah bagian dari emotional intelligence. Semakin kita mengerti akan diri kita, kita juga semakin bisa memberikan respon yang tepat terhadap apa yang orang lakukan atau katakan. 

Kita dapat meningkatkan empati, sehingga kita bisa menempatkan diri dan mengerti sudut pandang orang lain. 

Empati tidak berarti kita harus setuju dengan pendapatnya, namun kita menghargai dan menerima pendapat orang lain yang berbeda dengan kita.

Meningkatkan Kualitas Hubungan dengan Mindful Listening

Dengan melakukan latihan ini, kita bisa melatih diri kita untuk menjadi lebih sabar, dan lebih efektif dalam menangkap pesan yang disampaikan.

Dengan begitu kita dapat mengurangi kesalahpahaman sekaligus orang lain merasa dihargai, sekalipun itu adalah anak kita. 

Cukup luangkan waktu untuk berlatih misal 10 menit dalam sehari, dan lihat bagaimana hubungan sosialmu menjadi lebih baik.

Sudah Siapkah untuk Menjadi Pribadi yang Lebih Baik?

Mindful listening adalah teknik mendengarkan tanpa memberikan judgement, tanpa melontarkan kritik dan bahkan menginterupsi lawan bicara. Di sisi lain kita juga tidak sibuk dengan internal voice dan mencemaskan atau menyiapkan jawaban dan hal hal yang dapat membuat komunikasi menjadi tidak efektif.

Teknik ini tidak terbatas pada percakapan dengan orang lain, namun juga dengan suara di dalam pikiran kita, juga dengan sekitar dimana kita berada sekarang.

Dengan berlatih teknik di atas, kita dapat meningkatkan kualitas hubungan kita dengan orang lain karena kita tidak mempergunakan lagi autopilot hanya sekedar ada dan menunjukan reaksi dengan anggukan tanpa mendengarkan apa yang sebenarnya orang lain katakan.

Sudah siapkah untuk berlatih teknik ini? Atau kalian punya pengalaman sendiri? share pengalaman kalian di kolom komentar di bawah ya.

 

Stay safe … xoxo

*Tulisan ini diikutsertakan dalam tema bulanan Komunikasi 1M1C.

Referensi

Search Inside Yourself karya Chade Meng Tan

Journal paper: The Impact of Mindfulness on Empathy, Active Listening, and Perceived Provisions of Emotional Support, reserarchgate.

3 Komentar

  • Dodo Nugraha

    Mendengarkan apa yang ingin kita dengar. Itu kuncinya, yaa mbak…
    Setuju sih, jadi kita hanya fokus ke hal itu saja, tanpa membuang energi untuk mendengarkan hal lain, yang bisa jadi melelahkan juga yaak hahaa

    • renov

      bukannnn mas. hehehe.
      Justru kita harus mendengarkan dengan seksama apa yang orang itu bicarakan, jangan melibatkan emosi dan perasaan atau suara di dalam pikiran kita.

      Manusia punya kecenderungan mendengar hanya apa yang ingin dia dengar karena terlalu sibuk dengan pemikiran dan perasaannya sendiri.

  • Ghina

    Sedang melatih diri untuk bisa mindful listening nih teh. Aku suka dengerin pdocast, tapi bahkan aku seringnya denngerin pdocast pasti sambil nyambi2 masak atau beberes. Emang susah ya untuk fokus dan aware di masa digital ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!