Hidup di Jerman

Harapan Tahun Baru & 8 Tipe Orang yg Mencari Alasan

harapan tahun baru

Harapan Tahun Baru. Bunyi kembang api di luar rumah terdengar sangat jelas. Lockdown tidak menghilangkan keinginan untuk merayakan hari pergantian tahun. 

Lagipula larangan pemerintah di Jerman bukan pada kembang apinya melainkan larangan berkumpul lebih dari 2 keluarga, tidak boleh lebih dari 5 orang dan mereka yang berkumpul harus tetap mematuhi protokol kesehatan.

Bunyi kembang api itu sudah mulai terdengar dari pukul 23:30 dan berakhir pada pukul 01:00 CET. Di dalam rumah saya bisa melihat kembang api yang membumbung tinggi ke udara di tengah gelap dan dinginnya malam di musim dingin ini.

Kami sendiri tidak merayakan pergantian tahun ini. Suami terhanyut dengan game Dungeon Dragonnya sementara saya menonton film Babadook. Hmmm … Ada yang pernah menonton film ini?

Saya yang penakut memang menyukai film horror. Walau bayangan yang menakutkan itu terkadang sulit dilupakan namun saya tidak bosan untuk mencari film lain dengan genre yang sama. 

Reaksi saya ketika menonton biasanya sama, jantung berdebar, perasaan tidak nyaman, kecemasan muncul dan terkadang menimbulkan emosi yang berlebihan. 

Menurut sebuah study yang meneliti mengapa orang menyukai film horror menyatakan kalau reaksi kita ketika menonton film bergenre ini cenderung konsisten. Itu juga yang saya rasakan, reaksi saya tidak berbeda antara satu dengan lainnya,  seperti misalnya di satu film merasa ada kepuasaan dan di film lain merasa ketakutan.

Kembali lagi ke film Babadook, di penghujung film, saya tersadar akan suatu hal kalau Babadook ini adalah representasi dari trauma kita atau peristiwa yang menyebabkan kita menjadi depresi, sedih, ketakutan dan ketidakmampuan kita menghadapi kenyataan.

Jika saya jujur pada diri sendiri, di beberapa tahun terakhir ini saya banyak terjebak dalam ketakutan sendiri dan rasa khawatir yang banyaknya tidak beralasan. Biasanya ketakutan itu saya tuliskan ke dalam bentuk to-do list, agar bisa mengeliminasi apa yang saya takutkan. 

Misalnya saya ketakutan akan ujian presentasi, maka yang saya lakukan adalah menuliskan to-do list untuk mempersiapkan bahan presentasi dan latihan. 

Sayangnya satu tahun terakhir, saya menjadikan to-do list ini tidak berarti, dan saya tetap lari dalam ketakutan.

Seusai film diputar, saya membuka buku catatan saya. Setidaknya sampai bulan Februari sudah terisi to-do list yang ingin saya kerjakan. Namun ada yang “missing” di sini, saya tidak menuliskan apa pun harapan tahun baru dan to-do list ketakutan saya itu.

Harapan Tahun Baru 2021

Alasan saya tidak menuliskan harapan tahun baru, ada hubungannya dengan apa yang terjadi di tahun ini.

Tahun 2020 merupakan tahun yang luar biasa, pandemi COVID-19 dengan seketika merubah prioritas kita dan cara pandang kita akan sesuatu. 

Jika prioritas kita sebelumnya adalah karir, sekarang ini mungkin berganti menjadi keluarga. Memperhatikan anak dan suami lebih dari tahun-tahun sebelumnya, dan memberikan support kepada keluarga jauh walaupun dilakukan secara virtual. 

Kita juga sudah mengetahui jika kematian seseorang sudah pasti, namun di tahun ini kita merasa dibayang-bayangi oleh kematian yang tampak begitu dekat.

Mungkin itu salah satu alasan saya tidak menuliskan harapan tahun baru 2021. Atau mungkin juga karena saya takut berharap atau karena saya ingin lebih realistis atau hanya ingin fokus pada apa yang bisa saya kerjakan sekarang .. saya pun terus menambahkan deretan alasan.

Setelah merenung lama...

Setelah merenung cukup lama, akhirnya saya menemukan apa harapan tahun baru 2021. 

Harapan saya adalah merubah kebiasaan buruk dengan stop making excuses, karena mimpi saya banyak terhenti karena saya punya banyak segudang alasan.

Apakah saya aja yang seperti ini?

Kita suka mencari alasan, pembenaran dan membatasi diri sendiri as to why we can’t do something.

Misal kita pengen banget rutin olahraga, tapi setiap waktunya berolahraga kita bilang “besok lagi aja deh, hari ini cuaca nggak bagus atau lagi banyak kerjaan.”.

Atau misal kita melihat ada posisi yang kita kepengennn banget dan sesuai dengan kualifikasi kita tapi harus bisa berbahasa Inggris. Lalu kita bilang ,”Nanti kalau saya udah jago bahasa Inggris, baru melamar deh.” atau “Saya nggak mungkin diterima, jadi buat apa melamar.”

Coba deh lakukan money test, seandainya kita ditawari uang sebanyak 1 milyar untuk melakukan sesuatu yang kita bilang nggak bisa itu. Kemungkinan sebagian besar dari kita akan melakukannya.

Lalu jika sekarang dibalik, apakah mimpi kita lebih rendah nilainya dari uang itu? Sampai kita tidak mau bersikeras melakukannya.

Oleh karena itu harapan dan fokus saya adalah berhenti mencari alasan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan.

Menurut Lauren Handel Zander dalam bukunya “Maybe It’s You“, dia mengemukakan ada beberapa tipe orang yang suka mencari alasan.

Apa aja tipenya, yuk simak di bawah.

8 Tipe Orang yang Mencari Alasan

1. Tipe Pura-Pura Tidak Perduli

Kamu meyakinkan diri sendiri kalau kamu nggak perduli dan butuh apa yang hendak dicapai. Padahal jauh di dalam lubuk hati terdalammu, kamu menginginkannya bahkan memimpikannya. Terkadang terbersit perasaan tidak nyaman ketika orang lain berhasil mencapai hal itu.

Kamu kah salah satu tipe ini?

2. Tipe Orang Pasif.

Kamu berpikir kalau hidup ya cukup dijalani aja, dan berpikir “kalau sudah rejeki, pasti nggak kemana tanpa harus berusaha”.

Memang kalau sudah rejeki, hal itu akan datang kepada kita. Namun kita juga tetap diwajibkan untuk ikhtiar dan berusaha. Poin yang terpenting adalah prosesnya, bukan kita yang menentukan urusan hasil/result.

3. Tipe Genetik

Kamu terlahir dengan genetik suka mencari alasan. Kedua orangtua suka mencari alasan, mengkritik tanpa memberikan solusi, dan menyalahkan orang lain atas sesuatu yang tidak dapat mereka raih.

Jika orang meminta kamu untuk berhenti beralasan, kamu akan menyalahkan orangtua atau akan bilang “Iwas born this way“.

4. Tipe Playing Victim

Pokoknya apapun yang terjadi, bukan kesalahanmu. Kamu terlambat pulang ke rumah, karena teman-teman ngajakin nongkrong dulu. Kamu ngemil tidak sehat, karena Ibumu menyediakan di lemari dapur.

Kamu lebih suka menghindari tanggung jawab, dan mencari alasan yang bisa dibuat dari sekelilingmu.

5. Tipe Semua Orang Juga Gitu

Karena orang lain melakukan atau tidak melakukan itu, kamu juga akan mencontohnya.

Misal kalau sudah menikah, nggak perlu tampil menarik lagi di rumah dan bahkan lupa mandi pun gak apa apa, karena orang lain juga begitu kok.

6. Tipe Berkaca Pada Pengalaman Sebelumnya

Dulu kamu pernah mencoba berkali-kali tapi tidak berhasil. Jadi sekarang pun kamu berpikir “Dulu nggak bisa, ya buat apa cobain sekarang? Pasti nggak akan berhasil juga”.

Misal kamu payah dalam mengatur waktu, atau selalu lupa ulang tahun orang terdekat.

7. Tipe Mengungkit Masa Lalu

Kamu merasa kalau kamu tidak mungkin mendapatkan apa yang kamu inginkan. 

Misal, karena kamu berasal dari keluarga broken home, maka kamu nggak mungkin jadi orang yang sukses.

8. Tipe Penuh Pengalaman

Enggak ada seorang pun yang berhak memintamu untuk melakukan sesuatu di luar yang kamu sudah capai. 

Misal kamu sudah bekerja di perusahaan itu lebih dari 15 tahun, jika atasan memintamu mengerjakan tugas baru, kamu akan menolaknya. 

Kesimpulan

Rasa takut, tidak nyaman dan kurangnya kepercayaan diri sering membuat kita mencari alasan, seakan alasan-alasan itu adalah solusi terbaik.

Perlu dibedakan ya antara excuse dengan reason di dalam melakukan sesuatu.

Excuse ada kaitannya dengan lari dengan kenyataan, kurang rasa tanggung-jawab, perasaan “terdesak” atau bahkan sebagai alat pertahanan diri.

Sementara reason adalah hal yang mendasari kita melakukan sesuatu, kalau kita menyadari kesalahan itu dan mengambil tanggung jawab karenanya sehingga kejadian ke depannya tidak terulang lagi.

Buat saya, harapan tahun baru 2021 adalah menyadari bentuk excuses yang selama ini saya lakukan, dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab atas hidup dan mimpi-mimpi saya.

Sudah terlalu banyak saya “terpenjara” dengan alasan saya sendiri. Tahun ini sudah saatnya menghadapi ketakutan itu. Kalau bukan saya yang mencintai diri saya sendiri, lalu siapa lagi? :). Harus semangat dan terus berjuang nih.

Kamu sendiri bagaimana? Apa harapan tahun baru 2021?

Stay safe … xoxo

Baca juga: Cara mewujudkan impian, santai tapi tercapai.

Referensi

Jurnal ilmiah, Why do you like scary movies? A review of the empirical research on psychological responses to horror films.

Lauren Handel Zander, buku Maybe It’s You. Cut the crap. Face your fears. Love your life.

28 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!