Blogging

10 Tips Agar Bisa Lulus ODOP (One Day One Post)

Lulus ODOP (One Day One Post) yang pasti adalah keinginan semua peserta yang mengikuti program ini. Lulus, tamat, selesai adalah sebuah tujuan bagi seorang yang sedang mengikuti pendidikan formal maupun non formal, juga tujuan bagi orang yang sedang mengerjakan suatu projek.

 

Seperti juga peserta lainnya, saya adalah salah seorang yang ingin sekali lulus ODOP. Saya adalah peserta program ODOP 8 yang dimulai di awal bulan September 2020. Bagi penulis yang baru saja terjun ke dunia literasi, kelas menulis dan komunitas adalah salah satu faktor penunjang keberhasilan. 

 

Menulis adalah salah satu poin yang harus saya tingkatkan, karena sebenarnya saya lebih suka membaca. Di dalam keseharian sendiri, saya lebih suka menuliskan poin-poin kecuali jika harus membuat laporan misalnya. Singkat kata, menulis adalah kelemahan saya.

 

Sebelum kita bicara lebih jauh tentang strategi lulus ODOP apa yang akan saya terapkan, mari kita kenalan lebih dulu dengan program ODOP.

Program One Day One Post (ODOP)

Program ODOP adalah program yang diusung oleh kumpulan Blogger profesional bagi siapa saja yang ingin mengasah bakat dan minat di ranah literasi. Program ini spesial karena diadakan satu tahun sekali dengan menawarkan banyak program terkait literasi.

 

Seperti akronim dari program ini yaitu One Day One Post, kewajiban utama peserta program ini adalah memposting artikel di blog, atau posting di Instagram atau Facebook setiap hari. Setiap peserta program dapat memilih salah satu dari media sosial ini. 

 

Selain posting juga peserta diwajibkan untuk blog walking (BW), atau jalan-jalan ke blog peserta lain. Tujuan dari BW ini adalah untuk memperkaya pengetahuan peserta, mengenal berbagai macam gaya penulisan, belajar membaca dan mengerti sebuah tulisan, dan masih banyak lagi.

 

Tidak hanya kegiatan utama menulis dan BW, peserta  juga harus mengikuti program lainnya yang sudah disusun oleh tim penyelenggara.

 

Acaranya apa saja? Dari mulai seminar literasi, perkenalan dengan tim penyelenggara, perkenalan dengan peserta lain sampai program bedah tulisan.

 

Menarik? Tentu saja.

 

Bayangkan dari sekian banyak program itu, semua diselenggarakan secara gratis. Siapa yang nggak mauuu coba kalau ada yang menawarkan program ini.

 

Eits, tapi seleksinya juga tidak main-main. 

 

Setiap minggu akan ada yang namanya seleksi berdasarkan poin. 

Jadi setiap kegiatan dan kewajiban yang kita ikuti ada poinnya. Jika kita berada di bawah poin minimal, maka kita harus say bye-bye sama ODOP ini.

 

Supaya nggak say bye-bye sebelum farewell kelulusan, kita mesti dong punya yang namanya strategi biar lulus ODOP. 

 

10 Strategi Lulus ODOP

Setiap orang pastinya punya strategi sendiri yang dirasa paling tepat. Sifatnya yang personal menjadikan strategi ini mungkin ada yang dirasa kurang tepat buat yang lainnya.

Kira-kira seperti ini gambaran strategi saya,

1.             Berdoa.

Berdoa itu penting banget kalau buat saya. Berdoa supaya kapasitas memori otak saya mampu menampung materi, supaya cache-nya dihapus biar konsentrasi, biar lancar, biar membawa berkah dan banyak berkah lainnya yang diminta.

 

Strategi Lulus ODOP
Half Full Half Empty. Source by morning-brew-unsplash

2.             Half Full Half Empty.

Ketika ada materi yang akan diberikan, mencoba memahaminya dulu. Baca-baca dulu yang terkait itu. Bebas sih mau ambil dari artikel, wikipedia atau buku. Pokoknya jangan kosong. 

Kenapa jangan kosong?

Supaya ngerti apa yang dijelaskan.

Kalau udah ngerti kan enak, biar bisa nanya juga (ngumpulin poin dari nanya juga hihihi).

Nggak enak aja kalau pas materi disampaikan, terus otak kita “hmmm … ini ngomongin apa ya sist”

 

Kalau misal materi yang diberikan udah ngerti, coba lihat dari sudut pandang lain. Kalau saya udah denger suara di kepala bilang “yaa, ini sih udah tau atau ini sih udah sering ngerjain”, langsung aja saya matikan pikiran itu atau langsung saya nyinyiran lagi “kalau udah ngerasa paling pintar, ngapain ikutan kelas ini”. Cara lain baca Istighfar, ini bantu loh. 

 

Ego itu bahaya banget guys. 

Serius.

Bikin kita nggak nambah pintar.

 

3.             Senyum.

Setiap kali kesulitan menulis, senyumin aja dulu. 

Santai tapi narget, nikmati prosesnya, senyum dan jangan jadikan ini beban.

Ini latihan menulis, bukan latihan angkat beban.

 

Tendang itu si “aduhh udah mesti nulis lagi”, “aduhh nggak ada ide”. 

Jangan juga panik dan terapkan prinsip TANPA KAMU.

Ingat senyum!

 

4.             Percaya kalau ide itu bisa dicari.

Apapun bisa jadi tulisan. 

Ngga usah yang fantastis, futuristik, masterpiece, 

Tulisan dari ide sederhana pun, asalkan bisa mengolah bahasanya, pasti jadi bagus.

Buatlah ini mudah untuk diri kita sendiri

Ingat, ini literasi. Mengubah yang sederhana menjadi seni.

Melatih Kebiasaan Menulis. Source, lukas-blazek-unsplash
Melatih Kebiasaan Menulis. Source, lukas-blazek-unsplash

5.             Awal kelas tulislah yang ringan.

Dimana-mana juga pemanasan dulu, stretching, biar gak kram ototnya.

Otak juga mengandung otot loh, makanya kalau kita banyak belajar, brain muscle ini menguat. Di dalam otak kaya diterangi lampu Philips 40 watt. Beda banget waktu kita sedang malas, nggak pernah baca, main game (itu pun bukan game strategi), brain muscle melemah, ruangan dalam otak pun redup gitu.

 

6.             Mengatur waktu.

Saya sendiri menyisihkan waktu 2 jam di pagi hari dan 2 jam di malam hari. Bagaimana pun kita harus tetap beraktivitas yang lain. Keseimbangan itu perlu, sahabatku,

 

Kalau terlalu diforsir, nantinya tidak menyenangkan lagi. 

Kalau sudah tidak menyenangkan, susah buat ngajakin otak kompromi buat menerima.

calendar editorial
Calendar Editorial September 2020 Renov Rainbow

8.             Buat persediaan artikel, photo, ilustrasi (kalau bisa).

Artikel tanpa ada photo, itu bagaikan di gurun sahara.

Tapi mencari photo atau membuat ilustrasi ini membutuhkan waktu yang lama, bahkan bisa sama dengan waktu yang kita habiskan menulis artikel.

 

9.             Buat list buku yang akan dibaca.

Buku selain penting untuk dapat menambah referensi tulisan kita, juga bisa digunakan sebagai media untuk belajar penulisan. Belajar bagaimana seorang penulis menuangkan ide, struktur penulisan, gaya penulisan.

 

10.         Sediakan buku catatan khusus ODOP. 

Buku catatan ini untuk menuliskan hal-hal penting yang kita dapat selama pelatihan, insight yang kita dapatkan selama Blog walking, dan selama materi.

 

Tujuan juga dituliskan di bagian depan sebagai pengingat, bahwa kita kesini untuk suatu misi. Di perjalanan juga selalu mengingatkan diri sendiri untuk membandingkan dengan orang lain, tapi membandingkan diri sendiri sebelum dan sesudah pelatihan.

Just Do It

Mempersiapkan itu lebih aman dan nyaman dibandingkan terjun ujian tanpa strategi dan senjata. Dengan strategi yang tepat, kita dapat mempergunakan senjata yang efektif ketika dihadapkan dalam satu situasi. 

 

Strategi yang saya sampaikan di atas hanya akan jadi seperti resolusi tahun baru tanpa kata kunci buat lulus ODOP, yaitu Just Do It.

 

Kalau di tengah perjalanan, merasa stuck dan ngga mood. Coba lakukan kegiatan untuk yang bisa jadi mood booster. Kalau seandainya stress, pusing, bisa coba lihat artikel saya tentang 101 cara sederhana mengurangi stress.

 

Sahabat disini apakah punya tips lain yang bisa membantu saya supaya lulus kah? atau mungkin mau share juga tips kalian? Mangga … silahkan di kolom komentar ya.

 

Stay Safe … xoxo

Referensi

Dee Lestari, author

Sang Amurwabumi, founder ODOP

Ani Berta, founder ISB, Female Digest.

3 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!