Jurnal

Pencapaian Terbesar Dalam Hidupku (Sunshine After the Rain)

pencapaian terbesar dalam hidup

Pencapaian Terbesar Dalam Hidup Seorang Renov. Ada beberapa reaksi orang ketika ditanya kilas balik hidupnya. 

1) dengan bersemangat menceritakan perjalanan hidup bersama pencapaiannya.

2) merasa berat dan tidak mampu mengingat. 

3) merasa tidak pernah merasa mencapai apapun, karena takut bermimpi dan mewujudkan impiannya.

4) antara senang dan sedih, mengingat kembali apa yang dilalui dan apa yang sudah dicapai.

Kalau kamu akan menjawab yang mana?

Kalau jawaban saya nomor 4. 

13 to 30

Saya pikir, saya tidak akan pernah bahagia. Tragedi menyapa saya beruntun. Sampai pernah di satu titik dimana saya lelah, sangat lelah dan bertanya kapan ini akan berakhir.

Dimulai dari Ibu yang mendadak sakit, kemudian keluarga Ibu yang kemudian mengasingkannya. Jangankan memberikan support moral, lambat laun mereka menutup pintu rapat untuk anak kecil berusia 13  tahun dan 8 tahun. 

Tempat saya bercerita adalah Medy, pacar LDR saya saat itu. Sayang, tak berapa lama dia gone too soon

Medy meninggal setelah operasi sumsum tulang belakang dalam rangka pengobatan Leukimia.

Sepeninggal Medy, keadaan Ibu makin memburuk. Bahkan sampai pernah mengumpulkan saudaranya untuk membagikan warisan. Saya dan Adik melewatkan hari dengan kurang tidur. 

Kebanyakan hari dilalui berdua dengan adik, karena Ayah bekerja di pulau lain. Pelarian saya saat itu hanyalah ikut segudang ekstra kurikuler dan bimbel.

Saya pikir badai akan segera berlalu. Namun itu ternyata hanya prolog.

Karena tragedi demi tragedi terus terjadi selama belasan tahun , bahkan lebih dari umur saya yang berusia 13 tahun saat itu pertama kali muncul.  

Family isn't defined by blood

Ketika keluarga mengasingkan, itu berdampak besar bagi mental seorang anak.

Saat ketidak hadiran keluarga itu, Allah menghadiahkan sahabat-sahabat terbaik yang menguatkan perjalanan hidup saya. 

Karena mereka, saya merasakan bagaimana rasanya hidup dalam keluarga normal, dicintai tanpa syarat dan dilindungi.

It's not easy to be me

Walau saya memiliki sahabat yang keluarganya membukakan pintu. Namun saya masih mencoba datang ke rumah keluarga Ibu, bersilaturahmi, dan mencoba mencari jawaban mengapa seorang Ibu tidak mencintai anaknya. 

Saya pikir,

mungkin nenek terlalu sedih dengan hidupnya, sehingga dengan menyingkirkan Ibu bisa membuat dia lebih berbahagia. 

Mungkin buat nenek, lebih baik menghapus kami dari keluarga daripada memiliki keluarga yang tidak dapat dibanggakan, bahkan mungkin memalukan untuknya.

Ketika berkunjung itu, saya menyadari bagaimana mata tajam mereka mengikuti kemana saya pergi seakan saya ini pencuri. Belum lagi hinaan yang kerap dilontarkan.

Ah, tapi itu kan sudah biasa. Sejak saya kecil, ocehan serupa biasa saya dengar. 

Saya tidak pernah cukup baik buat mereka dan saya merasa tidak perlu membuktikan apa-apa karena bukan saya yang kurang. Mungkin hati mereka yang terlalu sempit untuk sekedar memberikan apresiasi.

Saya masih bersabar sampai di hari itu tiba,

Di hari lebaran, Ibu bersikeras mengunjungi rumah Nenek. Tidak ada satu orang dari kami yang mau menemani beliau. Kemudian malam itu, beliau pulang dengan mata lebam karena ditinju oleh adik laki-lakinya.

Semenjak itu, saya menutup hati untuk keluarga Ibu.

Addiction

Tragedi yang saya alami mengakibatkan saya addicted to pain and suffering

Mengapa bisa?

Karena emosi baik itu positif maupun negatif adalah campuran senyawa kimia yang dihasilkan otak untuk merespon pikiran. Bahayanya lagi, senyawa kimiawi ini sangat adiktif ketika sudah berlangsung cukup lama. 

Tampaknya yang saya lakukan hanya menjauhkan saya dengan impian. Panic attack mulai sering saya alami. Saya kembali pada pola “sulit untuk menyelesaikan apa yang saya mulai”.

Dalam hubungan pun, saya selalu menyukai seseorang yang tidak mungkin dan lebih memilih hubungan platonis. Saya juga menolak untuk menikah.

Saya membutuhkan rasa sakit sampai pada akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia. 

Become a fighter

Pencapaian terbesar dalam hidup saya berawal ketika saya bertekad menjadi fighter. 

Pernah melihat pertandingan tinju? 

Selain melontarkan pukulan kepada pihak lawan, kita harus bangkit setiap kali jatuh dan kembali bertarung. 

Begitu juga dengan hidup.

Di dunia pekerjaan, saya mulai kembali mengumpulkan serpihan kepingan diri. Merangkainya satu persatu. Saya juga diberikan kepercayaan memimpin sebuah tim, dimana mereka membutuhkan seseorang yang kuat dan bisa mengarahkan. 

Proses penyembuhan diri terus saya lakukan. 

Saya berjuang melawan depresi, dengan menendang diri sendiri untuk bangkit di pagi hari dan pergi bekerja. Saya berjuang mengatasi panik attack dan pikiran pikiran tidak rasional padahal pekerjaan saya terkadang penuh kejutan yang tidak terduga. Dan masih banyak lainnya.

Setiap harinya, saya berjuang melawan monster dalam diri.

 

Pencapaian Terbesar Dalam Hidup

"If you want the rainbow, you gotta put up with a lot of rain"
profile
Renov Rainbow
Blogger

Pencapaian adalah sesuatu yang terukur dari target yang kita tuju. Tiap orang punya versi achievement yang berbeda-beda, tergantung apa yang menurut dia penting dan besar yang terjadi dalam hidupnya. 

Buat saya, pencapaian terbesar dalam hidup adalah ketika saya berangsur-angsur mengalahkan monster dalam diri.

Saya beralih dari yang membenci diri sendiri menjadi mencintai diri sendiri. Hidup pun perlahan membaik. 

Perjalanan karir membawa saya memimpin departeman HRD di sebuah hotel bintang 5 di Bali. Selama menjabat, saya banyak membawa perubahan positif yang tercermin di setiap audit hotel dan survey kepuasan karyawan.

Saya menjalin persahabatan baru, dikelilingi oleh kolega dan bos yang saya sayangi dan hormati. 

Saya juga bertemu pria yang baik, paling sabar dan sayang tidak hanya pada saya tapi juga pada keluarga dan teman. Sesuatu yang terbaik yang pernah saya temukan dalam hidup. Tidak lama kami pun kemudian menikah.

Kesimpulan

Selama kita bernafas, kita masih diberikan kesempatan untuk menanamkan kebiasaan baik, meraih impian, berbuat baik, bertanggung jawab atas hidup kita, dan apapun lainnya yang kita inginkan. 

Seperti yang ditulis dalam buku “Berani Tidak Disukai“, kita yang sekarang tidak ditentukan oleh siapa kita di masa lalu. 

Saya bisa, dan saya yakin kamu juga pasti bisa.

Saya masih berjuang melawan monster saya setiap hari sampai sekarang. Saya menganggap kalau saya diberikan kesempatan untuk belajar dan berjuang lebih banyak dengan sesuatu yang disebut “kekurangan” oleh orang lain.

Bagaimana dengan kalian? Apa pencapaian terbesar dalam hidup? share di kolom komentar ya!

Jika kalian menemukan artikel ini bermanfaat, jangan segan untuk mensharenya dengan saudara atau keluarga.

 

Stay safe … xoxo

 

Baca juga: Harapan Terbaik untuk Blog di 2021 (Cinta Saja Tidak Cukup)

#BPNRamadan2021 #Day4

3 Komentar

  • Kyndaerim

    Teh, 13 tahun udah pacaran? Aduh, aku mah masih maen di sawah, haha..

    Terkadang, sahabat memang bisa menghadirkan cerita-cerita seru dan bersama mereka hidup terasa lebih berwarna (daripada keluarga sendiri) ya, teh, hihi..

    Kalo aku rasanya masih belum bisa mencapai impian yg sebenarnya, apalagi untuk bahagiain orangtua, rasanya masih belum cukup sempurna, huhu..

    Semoga apapun itu, kita bisa membahagiakan diri sendiri dengan cara kita masing-masing dan tanpa merugikan siapapun 🙂

    Semangat teh Renov :*

    • renov

      hehehe iya, aku udah kelas 1 SMA waktu itu. Dia kuliah tingkat 1.
      Aamiin, semoga dirimu dikasih rejeki dan kesempatan untuk membahagiakan orang tua dan orang-orang di sekelilingmu ya.
      Nuhun udah mampir neng xoxo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!