1 Minute Reading,  Hidup di Jerman,  Puisi dan Cerpen

I Have Learned. Pelajaran Penting di Balik Pertemuan (2021)

i have learned

I Have Learned. Hari Senin kemarin (22.03.21) saya kedatangan teman dekat yang sudah sejak pandemi tidak bersua. Saya merasa dari pertemuan kemarin ini, banyak belajar dan menghargai sekecil apapun kesempatan yang diberikan.

Berbeda dengan masa sebelum pandemi yang bisa janjian ketemuan kapan saja. Pertemuan kali ini harus penuh persiapan.

Apa saja yang dipersiapkan?

 

Ine, yang kebetulan juga pemilik apotek di Düsseldorf mengirimkan tes rapid mandiri, seminggu sebelum ketemuan. Selain itu dia mengirimkan bonus lainnya seperti krim untuk kulit kering, karena winter kali ini menyebabkan gatal akibat kulit kering buat saya.

Masker FFP2 nggak lupa dia kirimkan juga. Jazakillah khoiron.

tes rapid mandiri
Schnelltest atau Tes Rapid Mandiri
cara tes rapid mandiri
Isi di dalam tes rapid mandiri pack

Di dalam satu pack Schnelltest atau tes rapid mandiri terdapat botol cairan, Nasenabstrich atau Nasal swab – alat untuk mengambil cairan di hidung bagian dalam serta alat testnya.

Kami sepakat untuk melakukan tes rapid mandiri di Senin pagi sebelum Ine berangkat dari Düsseldorf ke rumah saya di Wuppertal.

Sebaiknya tes rapid mandiri ini dilakukan mepet dengan jadwal pertemuan kita. 

Cara tes rapid mandiri ini berikut tahapannya:

1. Nasal swab dikeluarkan dari plastiknya dan diusapkan kira-kira 10 kali di dalam tabung plastik dengan tutup berwarna biru.

2. Masukan ke dalam hidung sampai mentok. Pastikan ada cairan yang terambil. Saya dan Akang bersin setelah nasal swab ini.

3. Usapkan nasal swab ke alat tes yang ada dalam kemasan RapidFor.

4. Tunggu hasil 15 menit. Sebaiknya pasang timer, karena hasil tidak valid setelah 30 menit.

5. Jika hasil ada di garis C maka negatif, sementara jika di garis T maka positif.

Hasil tes rapid mandiri
Hasil tes rapid mandiri saya dan Akang.

Selain persiapan dan masing-masing pihak melakukan tes rapid mandiri, ketemuan kali ini juga berbeda. 

Biasanya kami ketemuan di cafe, namun kali ini di kediaman saya. Untuk meminimalisir kontak juga dengan orang asing lainnya. Orang lain yang datang ke cafe belum tentu juga melakukan tes rapid mandiri kan hehe.

Yang berbeda lainnya adalah saya menyadari kalau setelah satu tahun mengisolasi diri, saya juga butuh terlibat dalam percakapan yang nyata dengan teman. Percakapan yang nyata disini maksudnya adalah bukan bersifat virtual, namun face to face. 

Percakapan selama beberapa jam hari itu mengingatkan saya akan pelajaran hidup yang telah saya pelajari.

Apa saja? Silahkan dibaca di bawah ini.

 

I Have Learned

I have learned that you cannot make someone love you. All you can do is be someone who can be loved. The rest is up to them;

 

I have learned that no matter how much I care, some people just don’t care back;

 

I have learned that it takes years to build up trust, and only seconds to destroy it.

 

I have learned that you can get by on charm, for about fifteen minutes. After that, you’d better know something;

 

I have learned that either you control your attitude or it controls you.

 

I have learned that no matter how hot and steamy a relationship is at first, the passion fades and there had better be something else to take it’s place.

 

I’ve learned that sometimes the people you expect to kick you when you’re downhill are the ones to help you get back up.

 

I have learned that sometimes when I’m angry I have the right to be angry.

 

I have learned that true friendship continues to grow, even over the longest distance. Same goes for true love.

 

I have learned that just because someone doesn’t love you the way you want them to doesn’t mean that they don’t love you with all they have.

 

I have learned that maturity had more to do with what types of experiences you’ve had and what you’ve learned from them and less to do with how many birthdays you’ve celebrated.

 

I have learned that your family won’t always be there for you.

 

I have learned that no matter how good a friend is, they’re going to hurt you every once in a while.

 

I have learned that it isn’t always enough to be forgiven by others. Sometimes you have to forgive yourself.

 

I have learned that no matter how bad your heart is broken, the world doesn’t stop for your grief. (Life goes on)

 

I have learned that our background and circumstances may have influenced who we are, but we are responsible for who we become.

 

I have learned that just because two people argue, it doesn’t mean they don’t love each other. And just because they don’t argue, it doesn’t mean they do.

 

I have learned that we don’t have to change friends if we understand that friends change.

 

I’ve learned that two people can look at the exact same thing and see something totally different.

 

I have learned that no matter how you try to protect your children, they will eventually get hurt and you will get hurt in the process.

 

I have learned that your life can be changed in a matter of hours by people who don’t even know you.

 

I have learned that it’s hard to determine where to draw the line between being nice and not hurting people’s feelings and standing up for what you believe.

Aku Sudah Belajar

Aku sudah belajar bahwa kamu tidak dapat membuat seseorang mencintaimu. Yang bisa kamu lakukan adalah menjadi seseorang yang dapat dicintai. Selanjutnya terserah mereka;

 

Aku sudah belajar bahwa segimanapun aku peduli, segolongan orang tidak menjadi balik peduli;

 

Aku sudah belajar bahwa butuh waktu bertahun tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya sedetik untuk menghancurkannya.

 

Aku sudah belajar kalau kamu bisa mengandalkan pesonamu selama kira-kira 15 menit. Setelah itu, sebaiknya kamu tahu tentang sesuatu;

 

Aku sudah belajar bahwa jika kamu tidak mengendalikan perilakumu maka perilaku yang mengendalikanmu.

 

Aku sudah belajar bahwa tidak peduli seberapa pun membaranya sebuah hubungan di awal, hasrat lama kelamaan akan memudar dan sebaiknya ada sesuatu yang lebih baik yang menggantikannya.

 

Aku sudah belajar bahwa terkadang orang yang kita harapkan menendang kita saat mengalami kesulitan adalah justru orang yang membantu kita bangun kembali.

 

Aku sudah belajar bahwa terkadang ketika aku sedang marah, aku punya hak untuk itu.

 

Aku sudah belajar bahwa persahabatan sejati terus tumbuh, meskipun terhalang jarak. Hal yang sama berlaku untuk cinta sejati.

 

Aku sudah belajar bahwa hanya karena seseorang tidak mencintaimu seperti yang kamu inginkan, bukan berarti mereka tidak mencintaimu dengan segala yang mereka miliki.

 

Aku sudah belajar bahwa kedewasaan berhubungan dengan jenis pengalaman hidup yang kamu miliki dan apa yang kamu pelajari dari situ dan sedikit hubungannya dengan berapa banyak ulang tahun yang kamu sudah rayakan (sedikit berhubungan dengan usiamu).

 

Aku sudah belajar bahwa keluargamu tidak akan selalu ada untukmu.

 

Aku sudah belajar bahwa seberapapun baiknya teman kita, mereka akan menyakitimu sesekali.

 

Aku sudah belajar bahwa tidak selalu cukup untuk dimaafkan oleh orang lain. Terkadang kita juga harus memaafkan diri kita sendiri.

 

Aku sudah belajar bahwa tidak peduli segimanapun kamu patah hati, dunia tidak berhenti untuk kesedihanmu. (Hidup terus berjalan).

 

Aku sudah belajar bahwa latar belakang dan keadaan kita mungkin mempengaruhi siapa kita sekarang, tetapi kita bertanggung jawab untuk menjadi siapa kita nantinya.

 

Aku sudah belajar bahwa hanya karena dua orang berselisih pendapat, bukan berarti mereka tidak mencintai satu sama lain. Dan bukan karena mereka tidak berselisih, tidak berarti mereka saling mencintai.

 

Aku sudah belajar bahwa kita tidak perlu merubah teman jika kita mengerti kalau teman berubah.

 

Aku sudah belajar bahwa dua orang bisa melihat sesuatu yang sama persis dan melihat sesuatu yang sama sekali berbeda.

 

Aku sudah belajar bahwa tidak peduli bagaimana pun kamu mencoba melindungi anak-anakmu, mereka akan terluka dan kamu akan terluka dalam prosesnya.

 

Aku sudah belajar bahwa hidupmu bisa berubah dalam hitungan jam oleh seseorang yang bahkan tidak mengenalmu.

 

Aku sudah belajar bahwa sulit untuk menentukan garis pembatas antara bersikap baik dan tidak menyakiti perasaan orang lain dengan membela apa yang kamu yakini.

 

Penutup

Bagaimana versi I Have Learned teman-teman? Apa yang sampai sekarang sudah kalian pelajari dalam hidup yang enggak didapat dari pendidikan formal?

Share di kolom komentar di bawah ya.

Jangan lupa juga untuk melakukan tes rapid manual atau dibantu oleh tenaga kesehatan jika hendak berpergian menggunakan pesawat misalnya. Untuk lebih lengkap mengenai rapid test COVID-19 sebelum travelling bisa dibaca di blog Kak Citra.

 

Stay safe … xoxo

 

Sumber

Paulo Coelho, I Have Learned.

 

13 Komentar

  • Ipeh alena

    Jadi inget waktu itu ada video di tiktok yang headlinenya “cara mendapatkan orang yang mencintaimu” dan jawabannya ada tiga yaitu “love yourself, love yourself, love yourself” dari situ aku agak bingung. Sampai kemudian, beberapa psikolog yang mainan tiktok pun membahas dan mengatakan “bagaimana kamu membagi cintamu kalau kamu sendiri enggak cinta sama dirimu sendiri?”

    dari situlah aku bener-bener paham. Menjadi pribadi yang dicintai karena mencintai diri kita sendiri itu butuh proses panjang banget ya

  • Aisyah Dian

    Aku sudah belajar seberapa kuat ingin mempertahankan Namun Ketika takdirnya hancur akan tetap hancur
    .
    Yang perlu Kita lakukan hanyalah mengikhlaskan Dan membiarkannya menjadi kenangan
    .
    Move on

  • fanny_dcatqueen

    Yg pasti selama pandemi ini, aku belajar,

    1.beradaptasi itu harus dilatih. Adaptasi memakai masker, adaptasi utk LBH sering di rumah, adaptasi utk rutin olahraga 😀
    2. Selalu ada hal bagus, bahkan dlm suatu musibah sekalipun :D. Jd belajar juga utk mencari hal positif dalam setiap kesulitan.

  • www.derisafriani.com

    Saya jadi penasaran sama si Ine. Sepertinya kunjungan dan pertemuan yang sangat berkesan. Seseorang yang bisa diajak bertukar pikiran dalam banyak hal. Akhirnya banyak belajar dari sekadar pertemuan sejenak. Inilah hidup.

  • i n n a

    Belajar mencintai dan membahagiakan diri sendiri dulu sih , kalau aku wkwkw kesannya egois ya, ya tapi harus begitu kalau gak kita sendiri yang membahagiakan diri kita siapa lagi?

  • Icha Marina Elliza

    Kak, karena tes mandiri berdua di rumah, ngetest masing-masing atau gantian. Misalnya kakak yang menyiapkan punya suami, trus nanti suami yang periksa kakak.

    I have learned versi kakak bagus banget.

    Kalo akuuuu,
    I have learn that no matter how big your anger to your FAMILY, they always be your FAMILY. I mean, you always have love inside for them.

    • renov

      Test ini bisa dilakukan sendiri kak. Nggak perlu saling mempersiapkan, karena mudah.

      Wah bagus nih I have learned versi Kakak. Betul banget kalau ke saudara kandung, segimana pun marahnya pasti akan balik lagi. Wajar sih kalau ada api atau pertengkaran karena sering bergesekan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!