Jurnal

Hati-Hati Membeli Properti Syariah!Pengalaman Buruk Pribadi.

Properti syariah

Beberapa tahun terakhir bisnis properti syariah menjamur dimana-mana. Target market mereka adalah mereka yang sedang hijrah dan ingin mempunyai rumah dengan sistem syariah, atau ingin tinggal di lingkungan yang lebih islami.

Saya pun termasuk salah seorang yang melirik properti syariah dan artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi. 

Semoga dapat diambil manfaatnya.

Nama pengembang dan identitas lain akan saya samarkan dulu karena permasalahan ini belum menemukan titik terang sampai dengan sekarang.

Saya juga akan menuliskan tips membeli properti syariah yang bisa jadi pertimbangan ketika memutuskan akan membeli.

Pengalaman Membeli Properti Syariah

Di pertengahan tahun 2017 saya tertarik dengan iklan salah satu pengembang properti syariah yang berlokasi di daerah Padalarang. Lokasi disebutkan di websitenya terletak di belakang Kota Baru Parahyangan. Namanya pun bahkan mirip dengan komplek besar ini, namun pada akhirnya pihak pengembang menggantinya terkait dengan hak nama.

Di dalam website mereka, disebutkan bahwa mereka membangun di beberapa tempat lain seperti di Bogor, Bekasi dan Soreang kalau tidak salah. Selain berbentuk kompleks, mereka juga memiliki proyek apartemen syariah juga.

Kami tertarik dengan properti ini karena akses ke pintu tol yang tidak begitu jauh, selain itu karena dua adik saya ada yang bersekolah di daerah Padalarang, sehingga kami berpikir nantinya bisa dihuni oleh Ayah saya dan keluarganya. Itulah harapan saya pada waktu itu. 

Siapa yang mengira kalau harapan itu harus kandas.

 

Gathering Penjualan

Untuk melakukan pemesanan, para calon pembeli mengikuti gathering yang pada saat itu diadakan di daerah Cimahi. Setiap peserta gathering harus membeli yang mereka namakan dengan tiket senilai Rp 150 ribu, berlaku untuk dua orang.

Di developer lain, biasanya calon pembeli yang diundang tidak harus membayar apapun. Namun gathering yang mereka lakukan ini, seakan para calon pembeli yang membiayai biaya operasional seperti penyewaan gedung. 

Namun kami menyetujuinya, dan adik saya pun hadir bersama dengan saudara. Di gathering, mereka menginformasikan rencana pembangunan komplek sampai 20 ha ke depannya, kemudian fasilitas yang akan mereka bangun seperti Rumah Tahfidz, Rumah Sakit, Arena Memanah sampai Tempat Berkuda. 

Mereka juga menginformasikan bahwa perijinan sedang diurus, dan mereka ingin mengurus sesuai dengan syariat islam yang artinya mereka tidak akan melakukan hal di bawah tangan dan sebagainya.

Selesai mereka presentasi, lalu sesi shalat dzuhur dan makan siang. Setelah itu adik saya harus menunggu sekitar 3-4 jam sampai dipanggil ke meja pemesanan dengan marketing.

Saat itu kami memutuskan membeli kavling seluas 111 m2 dengan cara pembayaran tunai dibayar tiga kali. Kami juga membayar uang down payment sebesar Rp 2 juta rupiah. 

Pembayaran pertama, kami lakukan dua minggu setelah tanda tangan Akad Pemesanan Kavling dan pembayaran kedua dan ketiga, kami lakukan bulan berikutnya.

Di dalam perjanjian akad pemesanan tercantum bahwa developer harus menyelesaikan pembangunan dalam kurun waktu dua tahun.

 

Bansos 300 ribu

Kavling Berikutnya

Awal tahun 2018 kami membeli kembali kavling kedua dan ketiga sebesar 180 m2 dengan harga jual yang sudah lebih tinggi dibandingkan saat gathering. Cara pembayaran masih sama, diangsur selama tiga kali. 

Di pembayaran yang kedua kami tidak kunjung menerima kwitansi, dan permintaan kami pun mereka indahkan. Perlu saya jelaskan disini bahwa selama hampir satu tahun itu, tidak pernah ada komunikasi developer kepada konsumen baik itu melalui e-mail ataupun pesan.

Sampai akhirnya kami mengancam untuk tidak membayarkan cicilan yang terakhir agar mereka mengirimkan kwitansi. Baru saat itu mereka turuti dan itu pun menunggu cukup lama. 

Akhirnya kami menerima kwitansi kwitansi  namun kami tidak melakukan pembayaran ketiga karena sudah ada tanda-tanda mencurigakan dari pihak pengembang.

 

Tanda-Tanda Mencurigakan

Saat kami menerima kwitansi dari mereka itu sudah hampir satu tahun dari pelaksanaan gathering. Pihak pengembang sulit sekali jika dihubungi, dan jika diminta keterangan lewat pesan, mereka akan menjawab sedang mengurus perijinan.

Dari akhir 2018 sampai pertengahan 2019, kami meminta Ayah untuk datang langsung ke Desa dan Kelurahan untuk menanyakan proses perijinan mereka. Disitu kami mengetahui bahwa mereka masih mengurus syarat-syarat perijinan perusahaan dan belum sampai syarat pengurusan pembuatan sebuah komplek pemukiman. 

Mereka juga sudah lama terhenti melakukan pembayaran kepada pemilik tanah dan kinerja mereka juga sangat lambat untuk memfollow up hasil pertemuan. Setidaknya itulah yang kami dengar dari pihak Desa dan juga dari sebagian warga. 

Kami mulai merasakan kalau pengembang memang tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan kewajibannya. 100% marketing mereka yang kami hubungi menyatakan mereka sudah tidak bekerja lagi di sana.

Ketika saya pulang ke Indonesia bulan Januari 2019, lahan pembangunan kurang lebih masih sama seperti ketika adik saya melakukan survey di tahun 2017 dan plang perusahaan di rumah kontrakan yang mereka sewa untuk kantor pun sudah tidak ada.

Beberapa bulan sesudah itu, Ayah saya mendatangi kantor pemasaran dan tidak ada seorang pun di sana. Bahkan dari tetangga diketahui bahwa sewa mereka akan habis dan mereka tidak akan melanjutkan kontrak.

Tidak berbeda dengan kantor pemasaran dan operasional di Bandung, kantor pusat pengembang di Bogor pun juga pindah. Tanpa ada pemberitahuan kepada konsumen.

Pemimpin proyek juga sulit dimintai keterangan dan jika ada keterangan yang keluar pun, tidak dapat dijamin kebenarannya. 

 

Drama Dimulai

Saat sudah mendekati batas waktu dua tahun seperti yang tercantum di akad, bulan Juli 2019 pihak pengembang di Bandung mengumpulkan semua konsumen dalam grup Whatsapp. 

Mereka menginformasikan bahwa operasional akan berpindah manajemen, ke manajemen yang baru. Kami yang kebingungan pun aktif bertanya, yang menyebabkan kami ditendang dari grup Whatsapp.

Saya tidak percaya bisa-bisanya pengembang tidak melayani pertanyaan dari konsumen dan malah mendepak keluar dari grup. Padahal kami sopan dan tidak marah-marah dalam mengajukan pertanyaan.

Apalagi dengan kenyataan bahwa tidak ada surat pernyataan dari mereka mengenai peralihan ini, dan tiba-tiba dengan mudahnya mereka mengalihkan tanggung jawab. 

Para konsumen akhirnya diberikan pilihan untuk refund (pengembalian) atau melanjutkan dengan manajemen properti syariah yang baru, yang sebenarnya adalah perusahaan yang didirikan oleh pimpinan proyek yang lama.

Setelah peralihan itu, konsumen meminta adanya progress dari manajemen dan di dua tiga bulan itu si pimpro properti syariah tampak melakukan sesuatu dan melaporkan perkembangan.

Kami pun menimbang dan awal November 2019 akhirnya memutuskan untuk refund. Kami bersama beberapa konsumen lainnya termasuk ke dalam grup refund gelombang kedua, dan dijanjikan pengembalian selama tiga bulan dengan menandatangani surat refund atau pengembalian.

Pengembalian yang sudah dijadwalkan di bulan Desember tidak pernah terjadi dan di bulan Januari drama lain muncul. 

Pihak pengembang utama properti syariah pun kembali mengadakan gathering untuk klarifikasi di Hotel Aston Pasteur Bandung. Tentu saja peserta yang mau ikut harus membayar. 

Di sana Pemilik perusahaan datang dengan ditemani dengan kuasa hukum dan guru besar (Ustadnya). Dia dengan santainya menginformasikan bahwa mereka tidak bisa mengelola dana dengan baik dan tidak bisa memberikan uang konsumen yang sudah masuk kira kira sebesar 12 Miliar. 

Mereka bilang sebagian sudah berbentuk tanah yang tidak seberapa besar, dan ada yang dipakai biaya operasional. Sisanya mereka hanya meminta maaf.

Ironisnya saat itu, pemilik perusahaan masih gencar mengadakan workshop tentang bisnis properti syariah dan training pelatihan terkait yang sama. Sungguh berbeda dengan kenyataan bahwa dia tidak mampu mengelola bisnis properti.

Bukan hanya di Bandung, di daerah lain pun tidak dilanjutkan kembali pembangunannya.

hujan

Drama Baru

Saat mengetahui manajemen baru tidak memenuhi janji, saya sudah berniat akan menyewa pengacara yang sebelumnya sudah mau saya lakukan saat pergantian manajemen. 

Seharusnya memang saya lakukan saja di bulan Agustu 2019 itu, dan bukannya menunggu perkembangan. Namun karena saya memang ada rencana pulang ke Indonesia akhir tahun 2019, akhirnya saya menundanya.

Drama baru muncul ketika di bulan November 2019 manajemen baru mulai membuat kerjasama dengan perwakilan konsumen untuk menyelesaikan proyek. Mereka mengadakan pertemuan, dan pada akhirnya kami sebagai konsumen menyetujuinya karena tidak melihat ada alternatif lain.

Sebagai tanda support kembali kami diminta mengirimkan surat pernyataan dan bantuan uang operasional sebesar Rp 2.500.000 per konsumen. 

Beberapa bulan setelah itu, konsumen diminta meneruskan cicilan dan bahkan yang sudah lunas diminta untuk membayarkan biaya notaris dan pajak di awal. 

Ada beberapa konsumen yang melanjutkan cicilan, namun kami tidak melanjutkannya karena update progress pun hanya diberikan di awal awal saja. Belum lagi terpotong dengan corona, menjadikan alasan yang dikemukakan menjadi dimaklumi.

 

Drama Lagi

Uang operasional dan cicilan yang dibayarkan konsumen tidak bisa dibilang memberikan progress yang signifikan . Mereka masih berkutat di ijin perusahan dan kini ternyata proses peralihan antara manajemen lama dengan manajemen baru belum selesai.

Untuk proses peralihan karena akan dibantu oleh pengacara yang hendak melakukan review berkas dan perjanjian, kembali mereka meminta konsumen untuk membantu sampai terkumpul dana 20 juta. Mereka berjanji akan mengembalikan dana ketika properti syariah ini sudah ada yang terjual.

Setelah dana terkumpul di awal bulan November 2020, mereka memilih pengacara mereka, yang bahkan di awal tidak melakukan review untuk berkas perjanjian. 

Berkas itu direview oleh konsumen dan pengacara mereka hanya menyusun draft final. Konsumen melakukan review karena pasal pasal di dalamnya sangat memberatkan konsumen, dan bahkan ada pasal dimana kami harus membayar kerugian tertentu kepada pihak manajemen jika ada pasal yang kami langgar. Sungguh keterlaluan.

Sekarang setelah semua itu,  kembali mereka tidak bisa memberikan informasi yang akurat. 

 

Kesimpulan

Hati-hati jika kalian hendak membeli properti syariah. Banyak penipuan perumahan syariah yang marak terjadi. 

– Pastikan jika pengembang mempunyai kredibilitas tinggi dan bukan pengembang baru yang belum berpengalaman. Jika pengembang baru, kemungkinan mereka masih berkutat di perijinan perusahaan mereka.

– Pastikan track record pengembang.

– Sebisa mungkin membeli rumah di komplek yang sudah ada pembangunannya dan bukan dari scratch.

– Pastikan tanahnya bukan tanah sengketa, dengan bertanya langsung ke Desa atau Kelurahan.

– Pastikan sesuai dengan kaidah jual beli islam dan sesuai syariat agama.

– Ikuti kata hatimu. Banyak Istikharah sebelum memutuskan membeli.

– Jangan melibatkan emosi ketika berinvestasi. Ketika kita bahagia dan suka dengan apa yang kita lihat, pikirkan kembali. 

 

Sekarang ini kami sudah di tahap mencoba ikhlas, walau dana yang keluar, besar nilainya buat kami. Impian pun gagal sudah. 

Tidak dapat dipungkiri, kami masih berharap mereka bisa mengembalikan dana yang sudah masuk, dan berharap Allah memberikan ampunan atas dosa dosa kami dan memberikan rejeki yang jauh lebih besar dan lebih diridhoi dari ini.

Apakah kalian mempunyai pengalaman tertipu properti syariah? Tuliskan di kolom komentar ya.

Please bantu share artikel ini juga supaya masyarakat tidak lagi tertipu dengan oknum oknum yang tidak bertanggungjawab, karena ini sudah termasuk penipuan berkedok agama.

 

Stay safe … xoxo

 

65 Komentar

  • Kartika

    Turut berduka ya Teh.

    Memang drama membeli/membangun rumah ini kebanyakan kerugian ada di tangan pembeli. Sudahlah kita keluar uang banyak, barang yg dibeli buat jangka panjang, mau dijual pun tidak semudah menjual emas.

    Saya sepakat dengan simpulan Teh Renov. Memilih developer yg track recordnya jelas dan terpercaya itu sangat penting. Saya sendiri yg sudah sangat yakin memilih developer yg namanya “besar” pun, masih merasa dibohongi dengan kualitas bangunan, krn ternyata sub kontraktor yg mereka tunjuk tidak amanah. Lagi2 tentunya pembeli yang rugi krn tahunya setelah rumah ditempati beberapa bulan.

    Bukan hanya yang developer syariah saja kok. Penipuan bisa dan mungkin terjadi pada developer apapun. Tapi memang, saya akui banyak yg mengaku “syariah” tapi tidak syariah sama sekali. Dan bukan soal pembelian properti saja sih, banyak persoalan lain yg mengaku syariah tapi tidak amanah.

    Semoga permasalahan Teh Renov bisa segera selesai ya. Balasan atas kejahatan tentu ada, tapi di dunia, oknum2 seperti ini seharusnya diproses dengan hukum yang benar dan bisa mengembalikan kerugian konsumen. Imho.

    • renov

      Hallo Kak Kartika, makasih banget sudah mampir.
      Memilih developer sekarang memang nggak semudah dengan jaman orang tua kita membeli rumah dulu ya.
      Dulu mungkin bahan-bahan bangunan nggak terlalu banyak variannya seperti sekarang ini, yang istilahnya ada grade B.
      Aamiin yaa robbalalamin
      Makasih doanya Kak.
      Semoga mereka menyelesaikan dan nggak bikin drama baru lagi, sehingga proses hukum nggak perlu kami tempuh.

    • Shady

      Aku turut prihatin, kak baca cerita pengalaman kakak. Banyak oknum tidak bertanggungjawab yang mencari keuntungan dan merugikan banyak pihak. Makasi sharingnya, tentu jadi pembelajaran untuk kami yang membacanya.

  • Muna Fitria Hidayat

    Kak Renov, aku turut prihatin mendengarnya.
    Mudah-mudahan harapan Kakak dan keluarga diijabah dan segera terwujud.

    Sungguh mencurigakan saat yang dulu saja belum beres eh minta dana lagi. Tapi kok masih banyak yang mau dan percaya ngasih duit lagi? Terpaksa mungkin ya, tidak ada pilihan.

    Klaim syari tapi ndak bisa amanah. Naudzubillah min dzalik.

    • renov

      Hallo Kak Muna,
      Makasih banget sudah mampir.
      Mereka dapat konsumen kali ini yang “balageur” atau baik.
      Yang cerewet dan kritis bertanya aja bisa dihitung dan yang marah-marah kesini kesini malah nggak ada. Padahal banyak banget yang butuh rumah, ada yang bahkan mengalokasikan uang pensiunnya untuk beli rumah ini untuk anaknya, ada yang dagang bertahun tahun lamanya untuk mewujudkan mimpi ini. Sayangnya kebaikan konsumen ini malah dimanfaatkan.

  • Aya Zahir

    Jadi sampai sekarang uangnya belum kembali kak? Subhanallah semoga saya dijauhkan dari orang-orang tidak amanah seperti ini. Pembelajaran banget untuk proses memilih property, syariah atau non syariah.

    Thanks for sharing kak, semoga kebaikan selalu menyertai keluarga. Semoga masalah segera terselesaikan, yang terbaik untuk kakak.

      • ilmair

        Ya Allah … turut prihatin Kak, semoga bisa segera selesai masalahnya ya Kak, kembali uangnya dan diganti dengan yang lebih lagi rezekinya aamiin. Sayang embel-embelnya syariah ya Kak, tapi oknum pengembangnya tidak amanah seperti itu, harus hati-hati banget memang ya Kak.

        Saya 2 tahunan lalu pernah gabung grup WA marketing property syariah, tapi galau karena memang masuk karena diajak teman dan belum ketemu langsung dengan yang punya grup, lokasi propertynya juga di berbagai daerah, tapi karena belum banyak paham jadi khawatir juga soal kepercayaan dan belum serius jalanin promosinya. Ah baca cerita Kakak ini jadi makin hati-hati lagi.

        Makasih udah sharing Kak

        • renov

          Hallo Mbak Ilmair,
          makasih sudah mampir.
          Aamiin yaa robbal’alamin.
          Hati-hati aja mbak karena jika kita membantu memasarkan produk yang kurang terpercaya, kasihan ke yang belinya.
          Padahal setahu saya, marketing syariah grup ini tidak mendapatkan penghasilan juga, bahkan buat yang jadi memesan tidak dapat persentase.

    • Putri Zhea

      Gencar banget sih ini. Ehem.. salah satu anggota keluarga aq juga ad ayg tertipu ini kak. Curiga sama nama perusahaannya. Kenapa membawa syariah klo memang tidak bisa syariah..

    • Visya

      Ya Allah Mbak turut berduka.. semoga Allah ganti dengan yang lebih baik. Jadi ingat salah seorang teman blogger bercerita sekitar tahun 2018 juga pernah tertipu, pengembang Syariah di Parung Bogor dan ternyata lokasinya sangat dekat dengan domisiliku. Akupun pernah membaca iklannya saat itu tapi entah mengapa belum tertarik. Alhamdulillah Allah ganti yany lebih baik buat temanku itu

      • Sugi

        Saya kira kalo urusan penipuan, mau syariah atau tidak, sama saja, penipuan. Mungkin khusus syariah, lebih menyakitkan karena ada embel-embel agama dan semua kepercayaan bahwa yg ditawarkan sesuai tuntunan agama.
        Kuncinya memang harus lebih jeli dan sangat hati-hati. Apalagi kalo sejak awal sudah harus bayar seminar/workshop untuk customer yg jelas2 akan menjadi customer mereka. Waspada itu yang utama.

  • Nchie Hanie

    Hiks, sedih banget yaa, banyak penipuan mengatasnamakan agama. Selalu dan selalu terulang lagi.
    Baca cerita di atas jadi teringat temanku, yang sama kena tipu juga, berbasis syariah.
    Pengalaman di atas membuat kita semua lebih hati2 lagi dalam memilih properti, jangan sampai tergiur karena murahnya saja, banyak hal yang perlu diperhatikan seperti Renov ungkapkan.
    Semoga saja ada gantinya yang lebih yaa. Tetep semangaat.

  • Ina Tanaya

    Pelajaran berharga dengan harga yang mahal. Penipuan pengembang marak terjadi. MEskipun menyandang nama besar pun mereka berani menipu. Di sini sulit untuk mempailitkan pengembang , saya pernah diajak teman hadir pengadilan untuk kasus yang mirip sekali, pengembang mengemplang, dan akhirnya dinyatakan pailit. Uang yang kembali hanya l/3 setelah 13 tahun. SUngguh menyedihkan.

  • fanny_dcatqueen

    Hai mba, aku ikut prihatin dengernya. Semoga yaaa bisa mendapat solusi yg terbaik nantinya. Aku bisa ngerti keselnya gimana, apalagi ini menyangkut uang yg sudah lumayan besar dikeluarkan.

    Kmrn2 case yg aku baca malah ttg peternakan kambing syariah. Sorry to say, aku ga abis pikir Ama orang2 yg berani bawa2 istilah syariah tp malah tidak syariah samasekali. Apa ga ada takutnya kepada Tuhan nanti :(. Itu tetep hutang, dan hutang dibawa mati. Btw, jujur aku agak heran dengan perumahan yg bawa2 syariah, pengen membuat komplek perumahan islami, apa itu berarti non muslim tidak bisa menempati? Ntahlaaah, aku merasa yg seperti kok sepertinya pgn ekslusif. Tidak mau berbaur. Sorry kalo pemikiran ku salah.

    Aku bakalan LBH hati2 kalo ketemu penawaran seperti ini mba. Syariah atopun tidak, aku memang LBH suka membeli property dr developer yg sudah punya nama drpd yg baru mulai. Jujurnya dngn banyaknya kasus syariah begini, apalagi bawa2 ustad, ada sedikit rasa ga percaya lagi Ama segala sesuatu yg berbau bisnis begitu. 🙁

    • renov

      Hallo non,
      makasih banyak sudah mampir.
      Iya gereget banget sekarang ini banyak banget yang memakai konsep syariah termasuk peternakan dan perkebunan. Kalau nggak salah ada juga tuh kurma atau apa gitu, itu juga nggak jalan.
      Kalau soal penghuni non islam, aku kurang tahu. Pertimbangannya hanya bokap udah sepuh, jadi kalau ibadah di komplek yang fasilitas islaminya lebih banyak akan lebih mudah. Apalagi beliau termasuk yang aktif dan nggak bisa diem santai di rumah. Kalau adikku sih sekarang malah udah mau pada kuliah, kemungkinan nggak akan tinggal lagi di situ. Mangkrak kelamaan sih.

      Iya, lain kali memang bakal beli yang sudah ada aja perumahannya.Pelajaran yang mahal banget ini.

  • Hastira

    turut prihatin mbak, wah memang ya kita harus teliti banget , soalnya sekarang banyak yang pakai embel2 syariah agar laku saja. padahal mereka tuh gak bisa menjalankannya.

  • Alya

    saya pernah denger sih atau pernah liat berita tentang penipuan propeti di TV kak, seingat saya kalau gk salah propetinya itu mirip seperti syariah gitu

  • Ghina

    jadi was-was juga nih teh, sekarang lagi nunggu kepastian tanah juga. tapi bukan dari pengembang sih, perseorangan, cuma gatau ini udah sebulan urusannya kok belum kelar-kelar. semoga segera ada kabar yaa.

    Memang iming-iming tahidz, pesantren, anak yatim, dan masjid gt suka dipakai utuk promo syariah yaa. Ya jelas aja membuat banyak yang tertarik, tapi kalau banyak yang ditagih gt, memang harusnya waspada yaa. semoga pihak2 sana mendapatkannya balasan yang setimpal yaa. sudah membuat kedzaliman atas nama agama.

  • Yopi Saputra

    Halo kak salam kenal.
    Duh, kak semoga diganti yang lebih baik lagi ya. Memang sih ya orang-orang sekarang tuh banyak menggunakan kata “Syariah” atau “Halal” untuk suatu produk/brand mereka agar menjamin orang/konsumen yang mau ditipu. Duh sedih sekali sih ini semoga pengalaman ini bisa jadi contoh bagi kita semua, ya. Terima kasih sudah berbagi info kak semoga diganti dengan yang lebih baik, ya.

  • Adhe

    Semoga segera menemukan titik terang yah Mba. Sebenarnya ini nih salah satu yang paling saya takutkan untuk investasi ke sesuatu yang mohon maaf belum jelas kredibilitas pengembang nya. Tapi justru setelah baca ini jadi bisa lebih hati-hati lagi yah Mba Renov. Ini akan bermanfaat banget bagi orang banyak terlebih bagi mereka yang sedang investasi ke properti. Terima kasih sudah berbagi 😉

  • BayuFitri

    Sebelumnya saya ikut prihatin dengan kasus yang dialami mbak Renov, semoga Allah SWT menggantikan dengan rejeki yang lebih lagi dikemudian hari. Sekedar saran saja mbak, berdasarkan pengalaman saya untuk konfirmasi pembelian proprerty tanah/ kavling sebaikanya cek ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) atau kalau mau membeli property melalui agency property seperti ERA Indonesia karena mereka punya kuasa hukum dan resmi serta bisa bantu cek untuk legalitas kepemlikian property atau tanah.

    • renov

      Aamiin yaa robbal’alamin.
      Makasih juga buat informasinya mbak, lain kali akan cek ke BPN untuk tanah dan agen properti untuk perumahan.
      Ada fee nya tapi memang lebih aman, jika dibandingkan dengan resiko memang lebih mending milih yang ini.

    • Chairina

      Ngeri bsnget aku tuh sama properti yang baru2 gitu dengan label syariah padahal menipu. gak ada maksud untuk menjatuhkan pihak manapun tapi ngeliat beberapa kali kasus jadi parno sendiri. Jangan sampe deh kena tipu sama yang begitu. Yang sabar ya mba. InsyaaAllah musibah apapun yang kita hadapi InsyaaAllah kita bisa mengatasinya.

  • MpoRatne

    Mpo turut sedih dan simpatik atas musibah yang mba lalui. Semoga ini jadi perhatian bagi kita semua. Untuk kroscek surat developer syariah.

    Semoga Allah menganti dengan rezeki yang lebih baik dan banyak

  • astin

    terima kasih banyak sudah membagikan cerita ini, Mbak.

    Semoga permasalahannya lekas selesai ya. Dan tidak ada lagi pengembang nakal seperti ini. Jatuhnya yang dirugikan adalah kata Syariah dan pengembang kecil yang akan memulai usahanya jadi kurang bisa disupport dengan baik.

  • Fenni Bungsu

    Pelajaran berharga juga untuk yang membaca ini kak, agar lebih waspada dan bener kalau sudah ada yang janggal dan kata hati mulai nggak enak berarti memang harus dihentikan.

    Sabar dan kuat ya kak, insya Allah akan mendapat rezeki yang lebih baik lagi, aamiin

  • Arief Rachman

    Turut prihatin dengan kejadian ini, menjadi sebuah pelajaran berharga, dan terima kasih sudah sharing supaya yang lain bisa terhindar. CUman tega betul ya, menjual konsep shariah padahal pelaksanaannya tidak amanah. Dosanya double tuh. bikin kesel. Semiga banyak rejeki biar cita2nya terkabul

  • Widia

    ini jadi pelajaran buat aku juga nih untuk lebih berhati-hati dalam membeli properti . Terima kasih banyak sharing ya ya, semoga semua hak yang sudah hilang diganti lebih lagi dan barokah dari Allah SWT

  • ZAKIA

    Halo kak, aku ikut emosi waktu bacanya. Kadang banyak yang pake kedok agama gitu aslinya cuma untuk menipu. Padahal kita mah pengen beneran cari yang sesuai syariat dan bebas riba gitu ya kak. Semoga bisa dapat solusi yang terbaik ya kak 🙂

  • Dodo Nugraha

    Subhanallah… Serem sekali yaa mbak ceritanya. Bisa jadi pelajaran buat kita semua, terutama aku nanti kalo mau beli rumah, semoga tetep berhati hati terhadap hal seperti ini.

    Btw, semoga permasalahannya segera kelar yaa mbak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!