Career Skills

5 Tips Bagaimana Menghadapi Orang yang Sulit

5 Tips Bagaimana Menghadapi Orang yang Sulit. Menghadapi orang yang sulit tentunya tidak dapat kita hindari di dalam kehidupan sehari-hari. Dari mulai teman sekolah, teman kerja, sampai saudara dan pasangan kita, mungkin saja termasuk ke dalam kategori orang yang sulit. Hal ini tidak dapat kita hindari, dan seringnya kita menghadapi dengan cara yang salah.

Pernahkah bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya, kemudian kita merasa tidak akan cocok dengan mereka?

 

Atau pernahkah merasa sebel banget dengan seseorang, sampai istilahnya hanya mendengar suaranya saja dari jauh, tekanan darah kita naik, dada kita merasa sakit, tangan bergetar menahan amarah?

Ketika terlibat percakapan dengan orang itu, kita menjadi cepat marah, bisa jadi kita jadi saling berteriak, dan apapun yang kita ungkapkan, kita sudah tidak mempunyai kontrol atas diri sendiri. Biasanya setelah pertengkaran ini, kita akan menyesali apa yang sudah kita katakan tadi.

 

Pengaruh Suasana Hati dengan Kesehatan

Ketika suasana hati kita sedang tidak bersahabat, seperti misalnya situasi yang saya ceritakan di atas tadi. Dia akan mengirimkan sinyal ke otak kita untuk melepaskan hormon kortisol atau hormon stress sebagai sistem pertahanan diri untuk tubuh. Salah satunya adalah dengan fight flight response atau respon bertarung atau lari.

 

Ketika tubuh kita stress, membutuhkan sumber untuk memproduksi hormon kortisol, pertama-tama tubuh akan memproduksi sebanyak-banyaknya gula. Kemudian ketika kadar gula tinggi di dalam tubuh, maka tubuh akan menurunkan kadar gula darah dengan melepaskan insulin.

 

Keluhan lain yang dapat timbul dari keadaan stress kronis bersifat psikologis, seperti depresi, serangan panic, kecemasan. Hal ini disebakan karena kadar kortisol yang telampau tinggi sehingga mengurangi kurir serotonin. Serotonin sendiri bertanggungjawab mempengaruhi mood kita menjadi lebih baik.

Pemberian Label kepada Seseorang

Ketika kita berselisih paham dengan seseorang, akan cenderung untuk kita memberikan label kepada orang tersebut, misalnya saja arogan, narsistik, keras kepala, dan lain lain. Pemberian label ini tentunya berdasarkan penilaian subjektif, dan sifatnya bisa menjadi bias.

 

Contohnya ketika menghadapi orang yang sulit, seperti keras kepala, kita akan menyebutkan bahwa sifat keras kepala itu tidak baik. Sementara jika sahabat /pasangan dengan kita mempunyai sifat keras kepala, kita mengatakannya sebagai orang kuat, mempunyai motivasi yang tinggi,  tahu apa yang dia mau.

 

Sampai disini paham perbedaannya kan?

Dengan sifat dan karakter yang sama, kita menanggapinya berbeda.

Pengaruh Konflik di Dalam Kehidupan

Ketika ketegangan mulai berlanjut, akan timbul konflik. Konflik yang tidak terselesaikan, selain dapat menimbulkan permasalahan kesehatan juga dapat menimbulkan keretakan hubungan. 

 

Jika ini terjadi, dapat menimbulkan misalnya masalah absensi, karena seseorang malas untuk bertemu dan malas menghadapi orang yang sulit. Juga dapat menimbulkan perputaran karyawan di dalam perusahaan menjadi tinggi, jika atasan mereka termasuk ke dalam orang yang sulit.

 

Pernah punya teman kerja yang keluar karena kurang cocok dengan atasan? Nah ternyata memang konflik ini bisa jadi mimpi buruk buat sebagian orang.

 

Begitu juga di dalam kehidupan bermasyarakat, konflik terjadi karena ketidaksukaan seseorang atau suatu kelompok akan kelompok lain. Dalam lingkup yang lebih besar, konflik ini banyak menyinggung akan perbedaan yang timbul dari SARA.

Konflik yang besar akan menimbulkan penyebaran berita hoax, perpecahan golongan/kelompok bahkan peperangan.

Pengalaman Pribadi

Saya sendiri dapat dikatakan cukup memiliki pengalaman beragam menghadapi orang yang sulit, thanks to pekerjaan saya, sewaktu dulu di Indonesia. Menghadapi karyawan resign dikarenakan ketidakcocokan dengan atasan, bukan sesuatu hal yang baru.

Untuk mencari pengganti karyawan yang berselisih tadi, selain dari pengalaman kerja, juga karakteristik dan kepribadian pelamar adalah hal lain yang saya lihat. Terutama jika yang dicari juga adalah posisi manajerial. Untuk membangun satu team yang kuat diperlukan atasan yang bisa bekerja sinergis.

 

Contoh kasus lain, ketika salah seorang manajer bagian A yang bisa dibilang Drama Queen, senang sekali membuat hal kecil menjadi besar. Dia suka mencari kesalahan orang lain, yang biasanya akan dijadikan senjata untuk menyerang ketika kami sedang mengadakan meeting dengan General Manager.

 

Satu kali dia protes soal catering di kantin, yang menurutnya kurang bervariasi dalam masalah menu, dan menu kantin yang tidak ramah untuk orang dengan pola diet vegetarian. Oia kalau kalian bekerja di perhotelan, catering sudah termasuk ke dalam benefit karyawan.

 

Ok, kita lanjutkan ceritanya.

 

Si manajer tadi menuangkan dalam 1000 kata surel kepada saya, lengkap dengan cc General Manager dan Manager lainnya.

 

Yang ditulis dalam surelnya sendiri, tidak hanya soal makanan tetapi juga menyinggung performa kinerja Departemen yang saya pegang.

Akhirnya setelah menelaah isi surelnya. Saya hanya membalas dengan isi surel tidak lebih dari 10 kata.

 

Kenapa tidak lebih dari 10 kata?

 

Tips Toleransi Menghadapi Orang yang Sulit

1. Mengidentifikasi tipe orang yang sulit tersebut.

Menghadapi Orang yang Sulit. Source by. andrew-seaman-unsplash

Orang yang sulit bisa dalam banyak hal, misalnya orang yang menyebarkan gosip seperti Bu Tedjo di film Tilik, orang yang selalu membuat seolah-olah dirinya adalah korban, kemudian ada juga drama queen, orang yang tidak bisa menerima pendapat orang lain, dan masih banyak lainnya. 

 

Menurut David Brown di dalam bukunya berjudul The Art and Science of Dealing with Difficult People menjelaskan tujuh tipe orang yang sulit dan bagaimana sifat mereka ini bisa menyulitkan untuk sebagian yang lain.

 

  1. Perfeksionis.

Untuk pekerjaan yang membutuhkan hasil dan follow up cepat, orang tipe ini bisa membuat kita frustasi. Terutama di perusahaan besar, seringnya bukan pada seberapa lengkap data yang diminta. Namun lebih kepada kecepatan memberikan data sesuai yang diminta dan tepat sasaran.

 

  1. Control Freaks.

Atau orang yang serba mengatur dari A sampai dengan Z. Ketika kita melakukan improvisasi atau tidak sesuai dengan yang dia minta, biasanya akan menimbulkan gesekan dengan control freaks ini.

 

  1. Orang kreatif.

Jika kita membutuhkan ide tentang suatu hal, mereka adalah orang yang tepat. Tetapi pemikiran mereka yang kompleks dapat menimbulkan frustasi ketika kita hanya ingin ide yang sederhana namun cepat.

 

  1. Shapers.

Shapers biasanya adalah orang ekstrovert dan dinamis, yang sangat bersemangat dan fokus pada pencapaian. Tipe orang seperti ini selalu ingin menyelesaikan sesuatu dengan cepat. Sangat kompetitif dan asertif , yang dapat membuat kesal orang lain.

 

  1. Orang yang agresif atau defensif.

Sikap asertif dapat membantu team maju, sementara sikap agresif atau defensif justru mempunyai efek sebaliknya dalam dinamika sebuah team.

 

  1. Orang dengan perilaku submisif.

Orang ini hanya mengikuti permintaan orang lain dan sering mengabaikan perasaannya sendiri. Orang dengan perilaku ini dapat menyulitkan karena kurangnya kepercayaan diri, takut akan kegagalan, sehingga bisa menjadi sumber frustasi.

 
tarik nafas

2. Tarik Nafas Dalam Dalam.

Teknis dalam bernafas dapat mengatur dan mengendalikan emosi. Terkadang saya juga keluar dari ruangan, berjalan untuk meredakan ketegangan.

3. Poker Face.

Poker face adalah ekspresi muka datar, yang menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Belajar bagaimana mengendalikan diri sendiri, dan menghindari reaksi yang dapat memicu perselisihan.

Salah satu cara mengendalikan diri sendiri adalah dengan tersenyum.

4. Toleransi, Mencoba Mengerti.

Mencoba mengerti dan memahami dalam menghadapi orang yang sulit. Selalu ada faktor mengapa seseorang berbuat apa yang dilakukannya. Manusia selalu mempunyai dua sisi. Sisi yang keras tak tergoyahkan dalam hal ini karakter sulitnya dan ada sisi lembutnya. 

Jika kita menghadapinya dengan sisi keras kita, akan lebih memicu konflik yang lebih besar. Coba buat pendekatan, dan merubah bahasa kita, bangun hubungan dengan mereka sehingga kita dapat lebih mengerti bagaimana menangani mereka.

 

Ketika kita akan mengkritik, tidaklah langsung menunjukan kesalahannya. Gunakan pendekatan dan bahasa yang baik dan fokus kepada apa yang menjadi tujuan bersama, dan bukan tujuan individual kita.

 

Ini adalah jawaban mengapa saya menuliskan surel tidak lebih dari 10 kata.

 

Saya hanya fokus pada inti masalah yang coba dia sampaikan.

 

Maka jawaban saya adalah “thank you, i’ll check it out,”

 

Ketika saya sudah melakukan cross check, saya sampaikan keesokan harinya di meeting pagi. Saya menyampaikan berdasarkan data yang sudah saya kumpulkan, dengan tidak menyudutkan dia, saya juga memberikan masukan dan menanyakan feedback atau masukan dari manajer lainnya.

 

Pada akhirnya saya menunjuk manajer yang drama queen itu untuk bertanggung jawab dalam memilih catering yang paling tepat.

Konflik terhindari dan saya pun bisa mendelegasikan salah satu pekerjaan saya. Yeayyy 🙂

5. Memisahkan sifat dia yang sulit dengan pribadi dia secara keseluruhan.

Kita pun mungkin pernah menjadi orang yang sulit bagi orang lain, atau setidaknya saya pernah menjadi atau mungkin masih menjadi orang yang sulit. Sifat yang sulit itu tidak membuat saya menjadi orang yang jelek 100%.

 

Maka menghadapi orang yang sulit adalah tidak membenci dia keseluruhan, hanya sifat dia yang spesifik saja yang harus pintar-pintarnya kita mensiasatinya.

Kesimpulan

Belajar mentoleransi orang yang sulit adalah hal yang sangat menantang. Namun jika kita menemukan caranya, akan lebih mudah mengatasinya ketika kita dihadapkan pada kondisi yang sama.

Lain waktu ketika kita sedang menghadapi orang yang sulit, sedang kesal dengan seseorang. Coba pikirkan kembali apakah orang itu layak untuk menurunkan kesehatan kita?

Seperti prinsip kerja sebuah bumerang, apapun keputusan kita, kita sendiri lah yang menanggungnya. 

Kalau kata Aa Gym, “Jagalah hati” …. dan itu benar adanya.

 

Kalian sendiri pernah punya pengalaman menghadapi orang yang sulit?

Tuliskan di kolom komentar ya :).

 

Stay safe … xoxo

 

Referensi

19 Komentar

  • Dodo Nugraha

    Tak bisa dipungkiri, kita pasti kerap menemui “orang sulit” dalam kehidupan kita yaa mbak. Umumnya aku sebagai mahasiswa, terkadang “orang sulit” yang aku hadapi adalah para dosen. Sulit sekali terkadang untuk menemui minta tanda tangan. Namun tetep aja, ada jg dosen yang mudah dan baik hati. Dosen yg sulit diemui biasanya pejabat kampus, banyak rapat ini rapat itu

    • renov

      iya kak.
      Beragam sifat dan beragam kepadatan aktivitasa.

      Mungkin khusus buat dosen yang super sibuk itu, Coba aja titip di sekertaris jurusan kak.
      Atau buat janji dulu sebelumnya dengan dosen yang jadwal kegiatannya padat.

  • Ghina

    Aku nih Teh Ren suka bingung banget ngadepin orang yang soooo perfeksionis. Ketika dia main ke rumahku yang notabene lagi berantakan, dia akan mengomel lgsg bahwa aku ini jorok. Aku tidak langsung mengelap anak yang bibirnya kotor dari makanan yang dia makan langsung sergap gitu.

    Seringkali aku bingung untuk mentoleransi hal ini. Di satu sisi, aku harus memahami bahwa dia ini perfeksionis maka aku harus maklumi bahwa respon tadi ya karena dia memang begitu. Namun di sisi lain, ingin juga diri ini dipahamkan bahwa i am not to perfect also to make anything clean, apalagi ada anak kecil. Itu contoh kecil sih.

    Jadi, yaaa alhasil biasanya emang inhale exhale aja bisanya

    • renov

      hi neng …
      duh itu mah rempong bener ya.
      Bikin guemessss.
      Kalau dia datang lagi, disindir santai aja neng pas lagi ngomel ngomel bilang jorok.
      Bilang, ya bantuin dong.

      Aku ada temen sekolah dulu yang perilakunya ngga begini sih, tapi sama ngeselin.
      Jadi kalau dia cerita, kita wajib fokus dan antusias buat dengerin.
      Nahhh saat kita mau cerita, dia mah masa bodo. Kadang cuma komen hmmm.

      Toleransinya, dengan jangan masukin omongan dia ke hati atau jadi kepikiran.
      Dia emang kaya begitu, mau kita jadi kesel juga ngga akan berubah.

  • Nufazee

    Pada poin orang kreatif itu kok ya pas 😂 dulu aku stres banget lah ngadepin orang sulit, kalo sekarang aku fokus pada diriku dan fokus pada solusi saat ngadepin orang sulit 👍 jadi no baper baper club

  • Enny

    Duuuuh ini relate banget-banget. Aku juga sebel sama orang perfeksionis yang ga bisa lihat kondisi. Lebih sebel lagi ngoreksinya itu setelah lebih dari 10 hari pekerjaan selesai. Waktu disetor kemana aja? Huhuhu. Sama yang suka ngontrol juga ga suka, kayak ga ada kepercayaan sama kita. Kalau ga percaya kenapa ga kerjaan sendiri. Ckckkc.

    Awal berkarir saya orangnya baper banget, bisa sampai naik asam lambung dan demam karena konflik di kantor. Tapi waktu dan pengalaman mengajarkan saya banyak hal. Kalau ada yang ga enak saya alihkan dengan memikirkan hal lain yg lebih penting dan lebih menyenangkan. Lagi pula sampai di rumah banyak hal lain yg sudah menunggu saya ketimbang hanya urusan kantor melulu.

    • Twitter: @iffiarahman

      Sering kali kita menganggap orang lain sebagai orang yang sulit, tetapi kita tidak menganggap diri kita sebagai orang yang sulit juga 🙂 menurut saya, sebelum menghadapi orang yang sulit, sebaiknya kita menghadapi diri kita sendiri

  • Nurhilmiyah

    Mba Renov, ternyata menurut David Brown orang kreatif juga termasuk orang yang sulit ya, mungkin lebih ke perlakuan yang mesti diberikan ke mereka ya. Ini sama kayak di suatu kelas ada yg terlalu pinter sm ada yg terlalu bodoh, pengajarnya yg akan kesulitan, rekan2nya yg lain juga gitu hehe… nice share Mba Renov ^^

  • Susindra

    SAya sering pakai poker face agar lebih enak dan efisien. Tentu sambil tetap empatik dan simpatik, agar pekerjaan cepat selesai. Kelemahan Virgo saya, kalau tim bekerja lambat, saya akan mengambil alih satu per satu agar cepat.

  • wahyuindah

    sebel banget ya mbak. kalau ketemu orang sulit. menjengkelkan, nyebelin, egois. huh… pengen jitak aja. aku menghindar aja mbak kalau ketemu orang kayak gitu. drpd sakit hati nantinya.

  • Jihan

    Aku cenderung mengemukakan apa yang ada di kepalaku, ngga jarang juga orang yang kuanggap sulit langsung kudamprat begitu aja hahaha. sebenernya ngga baik sih, karena mungkin orang yang bersangkutan bakal terluka atau apa yaa. Poker face ini emang udah paling bener sih, diamin aja. Tarik napas dalam-dalam. wkwkwk

  • kyndaerim

    Aku paling nggak bisa nih ngadepin orang-orang sulit, karena mungkin memang karakterku yang pendiem yak, jadi mending mundur atau pasang wajah datar aja deh, eh sama tarik napas dalam, itu juga salah satu ekspresiku supaya semua teredakan 😀

  • Rini Novita Sari

    hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,, di kantorku juga ada mba revov yang suka besarin hal hal kecil speerti masalah menu makan siang di kantin,,, kadang bikin hebohnya sengaja biar didenger para atasan juga.

    untungnya sih ga semua suara dia di dengar meski dia termasuk yang senior bgt d kntor…

    aku sndiri kayaknya lbh byk cuek dan males ngladenin org2 sulit inih

  • Doel

    Dalam beberapa momentum ketika menemukan orang-orang yang menyebalkan, saya mencoba menerapkan yang poker face ini. Cukup ampuh sih, tapi ya mesti pandai menahan gejolak hati yang emosi 😂

  • Lidia

    Kok aku punya persepsi lain ya k tentang pendapat David Brown, heheheeh karena ini jatuhya udah psikologis atau karakter ngga ya, aku ngga paham sih apa ilmu dan teorinya. Tapi memang dasarnya tiap-tiap orang akan berperilaku berbeda-beda ya, dan faktor eksternal pun berperan kenapa seseorang misalnya menjadi perfeksionis atau lainnya (misal tekanan pekerjaan dari atasan, lamban atau santainya tim kerja dan sebagainya). Pandangan David Brown ini apakah kasuistis yaa Hihihi cmiiw k.

    • renov

      Yang disebutkan oleh Brown ini tidak berdasarkan kasusnya.
      Kepribadian sendiri adalah hal unik yang dimiliki setiap orang, yang seiring berjalannya waktu bisa berubah tetapi dasar mereka yang dominan akan tetap ada.
      Saya ambil contoh, orang perfeksionis itu unik dan sulit dilakukan sekalipun tekanan pekerjaan mengharuskan.
      Orang perfeksionis sebagai bawahan, dia bisa mengerjakan satu tugas yang diminta sampai ke detail, dan sibuk mencek berulang kali agar tidak terjadi kesalahan. Ini akan sulit dilakukan orang yang bukan perfeksionis.
      Orang perfeksionis sebagai atasan, dia akan meminta tugas yang diberikan kepada bawahannya sesuai standar yang dia minta. Dia juga bisa melihat sampai ke detail dan tuntutannya tinggi biasanya.

      Kira-kira seperti itu 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!