Jurnal

Bumi Semakin Panas. Panik Nggak? Panik lah Masa Nggak

bumi semakin panas

Seperti lagu dangdut yang dibawakan oleh Cucu Cahyati, semakin tahun terasa bumi semakin panas. 

Duh rasanya perih dan menyakitkan ketika sinar matahari mencium kulit. Tidur pun sulit buat nyenyak karena gerah dan tubuh banyak mengeluarkan keringat. 

Dari sisi lain, hal lain yang diuntungkan dari temperatur ini salah satunya adalah kegiatan menjemur baju.

Begitulah kira-kira celotehan teman-teman Eco Blogger Squad tentang temperatur udara yang tidak normal saat acara gathering dengan Madani pada tanggal 15 Oktober 2021 yang lalu. Seperti salah seorang teman yang tinggal di Pekanbaru mengatakan untuk keluar rumah saja rasanya enggan. 

Hal yang sama dirasakan juga oleh teman teman di Jakarta dan pelbagai kota lainnya. Saya sendiri mempunyai komentar yang serupa. Berhubung sekarang sudah memasuki musim gugur, wajar jika cuaca semakin dingin.

Namun, cuaca nyaman untuk berjalan-jalan di udara terbuka belakangan ini agak sulit, padahal baru saja memasuki awal musim. Padahal kalau dilihat dari photo-photo tahun sebelumnya, masih bisa menggunakan pakaian dan jaket tipis. Beda banget deh dengan tahun sekarang.

Gimana enggak.

Hujan turun hampir setiap hari. Udara semakin dingin, bahkan di malam hari bisa sampai menyentuh minus derajat. Duh, belum winter aja sudah dingin begini, nggak kebayang beberapa bulan ke depan bakal sedingin apa.

Kalau kondisi bumi semakin memanas ini tidak segera ditanggulangi, mungkin anak cucu kita tidak dapat lagi tinggal di bumi.

Panik nggak?

 

Panik lah masa nggak …

Apakah ini ada hubungannya dengan perubahan iklim dunia?

Bumi Semakin Panas. Panik Nggak? Panik lah Masa Nggak | Jurnal | bumi semakin panas | RenovRainbow

Para pakar meteorologi di Jerman memprediksi kalau musim dingin tahun 2021 yang akan dimulai pada bulan  Desember akan lebih dingin dari musim dingin tahun 2010 yang konon dingin banget. 

Pernyataan ini ada hubungannya dengan prediksi retaknya pusaran kutub, Suhu di artik memanas lebih cepat dari belahan dunia lainnya. Ini menyebabkan kecilnya perbedaan temperatur sehingga pusaran kutub melemah dan menjadi tidak stabil.  Pusaran kutub yang tidak stabil di kutub utara ini dapat menyebabkan cuaca ekstrem yang terjadi di Jerman. 

banjir di Beyenburg Wuppertal

Di tahun ini memang di Negara tempat saya tinggal ini banyak mengalami cuaca ekstrem. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya di tanggal 14 Juli di kota saya (Wuppertal) dan kota terdekat sekitar di wilayah Jerman lainnya di Nordrhein Westphalia dan Rheinland Pfalz mengalami banjir bandang. Keduanya berada di daerah Jerman bagian Barat. Kemudian disusul dengan kota-kota  di daerah Jerman Selatan.

Penyebabnya adalah hujan lebat selama 24 jam padahal kejadiannya sendiri terjadi di musim panas.

Ini adalah tragedi bencana besar di Jerman yang menewaskan sekitar 216 korban yang meninggal (termasuk 36 korban negara Belgia yang bersebelahan dengan Jerman), seperti dikutip dari website wirtschaft.com.

Photo sebelum dan sesudah banjir bandang. Sumber: DW.com
Photo sebelum dan sesudah banjir bandang. Sumber: DW.com

Tidak hanya memakan korban jiwa, dalam bencana ini juga memakan kerugian negara yang mencapai sekitar 12 milliar Euro atau setara trilliunan rupiah. Kerusakan yang terjadi banyak menimpa rumah penduduk, sekolah, jalan dan tempat umum. 

Selain sistem kanalisasi yang harus diperbaiki, para ahli dan politik juga menekankan bahwa setiap orang dapat memberikan kontribusi di dalam perlindungan lingkungan dengan tujuan menurunkan temperatur bumi sampai sekitar 1,5 derajat Celcius sebelum masa industri.

Hal yang serupa juga berlaku di Indonesia. Sebagai negara berkembang, Indonesia termasuk yang sangat rentan terhadap dampak krisis iklim, seperti banjir dan kekeringan, kenaikan muka air laut, perubahan pola curah hujan dan kenaikan suhu. Hal ini dikarenakan oleh populasi padat di wilayah rentan dan ketergantungan tinggi pada sumber daya alam. 

Mau Tinggal di Bumi yang Seperti Apa?

Pertanyaannya adalah sebenarnya kita mau tinggal di bumi yang seperti apa? Terutama untuk anak cucu kita yang nantinya akan menghuni bumi .

Sikap arogansi kita dan ketidakpedulian akan lingkungan hidup ditunjukkan lewat cara kita meninggalkan jejak karbon. Perilaku konsumtif kini lebih disangkutpautkan dengan status sosial.

Semakin seseorang mampu membeli sesuatu dianggap mempunyai pendapatan yang mencukupi untuk menikmati gaya hidup yang diinginkannya. Secara tidak langsung itulah opini yang ditangkap dari para pengikutnya di media sosial.

Meningkatnya Kecemasan

“Cemas itu seperti kursi goyang. Membuatmu melakukan sesuatu, tetapi tidak membawamu kemana pun…”
Bumi Semakin Panas. Panik Nggak? Panik lah Masa Nggak | Jurnal | bumi semakin panas | RenovRainbow
Peribahasa

Sedemikian penuhnya hidup kita di jaman sekarang yang penuh kekhawatiran sehingga itu praktis menjadi cara kita melewatkan banyak waktu dan menjadi hobi yang kita geluti sehari-hari.

kecemasan iklim

Kecemasan terkait dari mulai aktivitas sehari-hari sampai ke persoalan besar seperti masalah politik, lockdown covid sampai ke dampak pemanasan global, yang lebih dikenal dengan kecemasan iklim atau climate anxiety.

Lewat ponsel pintar, kita selalu terhubung dengan lubang hitam web yang memastikan kita tidak akan ketinggalan satu berita buruk pun yang terjadi kapan saja dan dimana saja di dunia.

Bumi Semakin Panas. Panik Nggak? Panik lah Masa Nggak | Jurnal | bumi semakin panas | RenovRainbow

Berita kebakaran hutan dan lahan gambut membuat kita sedih apalagi jika terjadi di Indonesia. Melihat saudara-saudara kita yang tinggal di daerah sekitar wilayah kebakarannya saja, sudah cukup membuat kita menangis. 

Bayangkan saja betapa banyak anak-anak yang tidak pergi sekolah karena kabut tebal. Belum lagi efeknya yang buruk bagi kesehatan, yaitu dapat menimbulkan penyakit ISPA.

Apalagi jika memikirkan pengaruhnya terhadap pemanasan global karena pengaruh kebakaran dapat membuat bumi semakin panas. Tidak heran dari peristiwa-peristiwa buruk yang berkaitan dengan lingkungan, muncullah climate anxiety atau pakar lingkungan hidup menyebutnya juga sebagai Eco anxiety.

Eco anxiety adalah kecemasan yang muncul perubahan lingkungan yang drastis di sekitar kita terutama perubahan iklim dan perasaan tidak berdaya yang muncul terhadap konsekuensi yang kita hadapi sekarang dan bahkan untuk generasi masa depan.

 

Adakah upaya yang bisa kita lakukan untuk menangani kecemasan ini?

Lakukan Sesuatu yang Produktif

Kita tahu kalau memelihara kecemasan saja tidak akan membuahkan solusi, apalagi bisa merubah dunia menjadi lebih baik. 

Kak Anggi dari Madani Berkelanjutan mengajak kami yang tergabung dalam Eco Blogger Squad di acara Gathering pada tanggal 15 Oktober 2021 yang lalu, untuk berbagi informasi dengan teman-teman yang lain tentang peran kita di dalam menyelamatkan bumi.

Eco Blogger Squad sendiri adalah komunitas yang beranggotakan para blogger yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup, terutama perubahan iklim dan perlindungan hutan. Komunitas ini merupakan juga bagian dari Blogger Network Perempuan (BPN).

Di bulan Oktober ini, BPN dan HIIP mengundang kak Anggalia Putri, Knowledge Management Manager yayasan Madani Berkelanjutan dalam memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, Hari Pangan Sedunia, Hari Sumpah Pemuda dan menyambut COP26 mengangkat tema Bumi Semakin Panas. Kode Merah Kemanusiaan.

Sewaktu gathering kemarin, kami benar-benar terbukakan matanya untuk mulai melakukan sesuatu untuk bumi ini. Apa saja kira-kira? 

Yuk kita lihat apa yang bisa perbuat..!

Indonesia bisa mulai melakukan ini

Mengacu pada kesepakatan di Paris (Paris Agreement), Indonesia harus mulai fokus di dalam meningkatan NDC (Nationally Determined Contributions) dan mencapai NZE (Net-Zero-Emissions) di tahun 2050. 

Beberapa hal ini dapat negara kita mulai lakukan, diantaranya:

1. Stop penggunaan batu bara dan beralih ke energi bersih terbarukan (tenaga surya, angin, dan lain-lain).

2. Lindungi hutan alam tersisa dan menekan deforestasi.

3. Jangan membuka lahan gambut dan cegah karhutla.

4. Restorasi dan rehabilitasi ekosistem alam, termasuk hutan, mangrove, gambut.

5. Adaptasi, terutama untuk kelompok rentan.

Sementara Kita Sebagai Generasi Muda Bisa Melakukan Ini

Generasi muda punya andil yang sangat besar, apalagi jika kita fokus pada lingkungan hidup dan mengerti bagaimana setiap individu memberikan kontribusi.

Sebagai generasi muda ini yang bisa kita lakukan,

1. Mengurangi jejak karbon lewat Food, Fashion and Fuel. Mulai mengkonsumsi produk lokal, jika belum bisa menerapkan pola hidup minimalisme setidaknya bisa mulai mengurangi membeli pakaian dan mulai menggunakan sarana transportasi umum.

2. Organize and Mobilize, termasuk menulis bersama. Oh iya kita juga bisa menyumbang tulisan tentang lingkungan hidup di komitmeniklim.id. Bersama-sama kita menyebarkan hal positif.

3. Tuntut perubahan sistemik.

Self-care Nggak Hanya Baik Buat Kesehatan Mental tapi juga Buat Lingkungan Hidup

Untungnya kita sekarang ini hidup di era dimana orang mulai menyadari akan pentingnya kesehatan mental. Banyak di sosial media yang mempromosikan pentingnya mencintai diri sendiri, dan apa yang bisa kita lakukan melalui self-care sebagai perwujudannya.

Self-care yang kita lakukan bisa banget mengurangi kecemasan terhadap bumi semakin panas.

Ah masa bisa sih?

Seriusan, bisa …

Saya menuliskan ini berbicara dari pengalaman sendiri, dimana kondisi saya dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) membuat kecemasan menjadi menu sehari-hari. Yang bisa saya lakukan adalah meningkatkan kadar dopamin (note: kadar dopamin penderita ADHD lebih rendah dari orang normal) dengan melakukan sesuatu melawan kecemasan itu.

Bike to work

bike to work

Salah satu upaya meningkatkan dopamin adalah dengan berolahraga. Dikarenakan sekarang sudah mulai memasuki kondisi new normal, yang artinya sudah mulai normal masuk kerja, saya memanfaatkannya dengan bersepeda.

Saya bersepeda sekitar 4-5 kali dalam seminggu dengan jarak tempuh sekitar 15-16 km setiap harinya. Medan yang naik turun juga merupakan tantangan selain hujan yang sering menyapa, karena kebetulan kota tempat saya tinggal ada kota hujan di Jerman.

Dikarenakan cuaca sekarang mulai dingin, saya mulai naik transportasi umum yaitu kereta. Ini juga bisa dijadikan upaya untuk mencegah bumi semakin panas.

strava renov

Memberikan Kontribusi Lewat Suara

Suara disini maksudnya bukan sebagai seorang penyanyi, namun lebih kepada mendukung kegiatan-kegiatan lingkungan hidup seperti menyumbangkan suara melalui petisi lingkungan hidup, menuliskan artikel tentang lingkungan hidup, berhenti menyebarkan hoax tentang isu isu lingkungan dan bisa juga bergabung dengan organisasi lingkungan hidup.

Sejak beberapa tahun terakhir, saya berusaha untuk aktif di organisasi global citizen yang menyuarakan isu isu kemanusiaan dan lingkungan hidup. Biasanya saya ikut memberikan suara buat petisi-petisi, lewat twitter atau bahkan sampai menuliskan e-mail kepada pemimpin negara.

Sebagai rewards atas peran aktif yang saya berikan, saya mendapatkan point yang bisa ditukarkan dengan merchandise dan bahkan tiket konser, dari mulai konser Ariana Grande, Billie Eilish, Trevor Noah dan sampai undangan menghadiri Global Citizen Festival.

Global Citizen Festival yang pernah saya datangi adalah yang di Hamburg pada bulan Juli 2017, menampilkan Coldplay, Shakira, Perdana Menteri Kanada-Justin Trudeau, Pharell Williams, Ellie Goulding, Lena, dan Herbert Grönemeyer. Dua artis terakhir yang disebut adalah dari Jerman.

Justin Trudeau di Global Citizen Hamburg 2017
PM Kanada Justin Trudeau di Global Citizen Hamburg 2017. Photo: koleksi pribadi

 Festival Global Citizen saat itu diadakan satu hari sebelum pertemuan G-20 di Hamburg merupakan festival yang tidak terlupakan buat saya karena ribuan orang yang datang dan di antara kami mempunyai kesamaan , yaitu peduli pada isu-isu lingkungan dan kemanusiaan.

 

Di tahun 2019, kembali saya mendapatkan tiket untuk festival Global Citizen di Berlin tapi tidak saya hadiri karena satu dan lain hal.

Anak muda sekarang bisa juga menyumbangkan suaranya dengan menjadi volunteer di organisasi lingkungan atau yang paling mudah adalah dengan berkontribusi dengan tulisan. Salah satu platform yang bisa jadi wadah kalian adalah  komitmeniklim.id.

Mencintai produk lokal

Produk lokal yang saya maksud disini termasuk juga bahan makanan. Mengkonsumi produk yang berasal dari daerah kita ketimbang produk impor dari luar negeri bisa mengurang efek bumi semakin panas.

Indonesia mempunyai banyak sekali sumber pangan. Mulailah dengan pola kebiasaan mengganti asupan nasi dengan sumber karbohidrat yang lain. 

Perhatikan piringmu dan pastikan juga mengkonsumsi buah dan sayuran. Konsumsi daging bisa kita kurangi menjadi 2 x dalam seminggu. Tahukah kamu kalau produksi massal daging mempunyai potensi yang sama besar dengan polusi di dalam menambah gas emisi rumah kaca?


Konsumsi daging lokal selain lebih sehat juga dapat mendukung perekonomian petani lokal. 

Yuk Berhenti Cemas

Begitulah, cemas sudah menjadi modus baku reaksi kita karena hal dan kejadian buruk sudah menjadi norma dan bukan lagi pengecualian. Otak kita memang mengharapkan berita buruk. Semakin kita berharap, semakin banyak kita menyaksikannya terjadi, yang membenarkan perkiraan kita dan melegitimasi kecemasan-kecemasan kita.

Hal ini membawa kita kepada pertanyaan: apa gunanya cemas bila hanya menambah masalah dan tidak menyumbang apapun sebagai solusi?

Perubahan iklim terjadi sekarang dan kita butuh kekuatan untuk mendengar dan melakukan aksi.

 

Kita sudah tahu bumi semakin panas. Pengaruh dari perubahan iklim ini juga berdampak pada semua orang di semua negara dan di semua benua. Merubah pola cuaca dan bencana alam akan berpengaruh pada kemampuan negara untuk memberi makan populasi penduduknya, meningkatkan rasio pendidikan anak, membangun infrastruktur berkelanjutan dan memperluas lapangan pekerjaan.

Kini saatnya kita melakukan upaya dalam kapasitas terbaik kita mengurangi jejak karbon dan menyebarkan informasi yang memberikan manfaat. Tanpa aksi yang signifikan, efek perubahan iklim akan memperkuat pengaruhnya terhadap komunitas lemah.

Jangan kalah dengan Cucu Cahyati yang bahkan menyadari kalau bumi semakin panas.

Stay safe

xoxo

WHO CAN HELP

Referensi

Eco Blogger Gathering, “Bumi Semakin Panas, Kode Merah Kemanusiaan.

Journal Mental Health 2019, Eco-anxiety: How thinking about climate change-related environmental decline is affecting our mental health.

Journal Anxiety Disorder 2020, Climate anxiety: Psychological responses to climate change

Nasihat buat Sehat, Dr.dr. Tan Yen Shot

11 Komentar

  • Hendra Suhendra

    iya saya juga ngerasain akhir-akhir ini cuaca dingin banget. Hampir setiap hari daerah Tegal diguyur hujan. Kadang disertai angin kencang. Kalo pagi hari bisa dingin banget dah. Beruntung banget sih bisa menjadi bagian dari Eco Blogger Squad. Dapat banyak teman sekaligus wawasan baru soal lingkungan hidup.

  • Lithaetr

    Ya ampun dikasih link lagunya lo, hehehe. Auto goyang saya. Iya bumi semakin panas, hiks hiks sedih. Saya termasuk yang merusak juga secara tidak sadar. Sekarang saya melakukan gerakan gerakan kecil yang saya bisa demi menjaga bumi, bismillah semoga kita bisa menjaga bumi

  • Nanik Nara

    Sepakat mbak, cemas saja tidak akan menyelesaikan masalah, malah bisa-bisa membuat diri sendiri menjadi sakit. Sakit fisik maupun psikis karena cemas berlebihan.

    Daripada cemas terus-terusan mending segera bergerak, melakukan hal-hal “kecil” untuk keselamatan bumi. Seribu orang berbuat kecil, akan menjadi gerakan yang besar pula

  • Hani

    Ngomong-ngomong tentang ‘bumi semakin panas’ bener sih. Saya yg tinggal di Bandung merasakan juga. Sekarang kalau siang bisa 30 derajat juga. Gimana Jakarta yah. Pasti lebih panas lagi…
    Jadi ingat berita banjir bandang di Jerman itu ya…Banyak berita akibat climate change juga…
    Harus dimulai dari diri sendiri nih menjaga lingkungan.

  • Avi

    Belakangan emang laagi hot. Bahkan mau tidur pun kudu kipas2.

    Emang ga boleh panik ya. Yg pentinh action dan usaha utk mencintai bumi. Salah satunya dengan naik kendaraan umum.

  • Mutia Ramadhani

    Saya memimpikan 2045 Indonesia benar-benaran jadi negara maju. Namun, agaknya impian itu harus tertunda juga kesekian kalinya karena masalah perubahan iklim ini. Bumi makin panas, apalagi kita ini negara kepulauan, pasti sangat terdampak bencana global ini.

  • Susindra

    Kabar tentang ini sudah sampai pada saya beberapa tahun lalu. Dapat ajakan untuk ‘menenangkan’ bumi dari rumah. Jadi ya saya mulai berkebun sampai kemudian terlalu rakus menanam.
    3 tahun ini saya sangat memperhatikan cuaca dan terutama kekeringan. seperti sekarang ini banyak tetangga saya yang begdang tiap maam demi beberapa ember air. Air baru mengalir mulai jm 12-an malam. Kadang jam 2 malam baru keluar dan hanya bisa ambil 3-4 ember. MCK di sungai.
    Banyak sungai yang kering juga.
    Alhamdulillah meski tidak banyak tapi sumur kami masih lancar.

  • Andayani rhani

    Setuju banget mba! Nggak cuma di Jerman, di rumahpun kerasa banget cuaca sekarang sangat berbeda dari tahun” sebelumnyaa. Bahkan kemarin cuaca di tempat saya dingin banget padahal masih musim kemarau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!