Kesehatan

Lahan Gambut, Kekayaan Alam Indonesia yang Mampu Menyelamatkan Jutaan Umat Manusia

Perubahan Iklim di 2021

Selamatkan Lahan Gambut = Selamatkan Dunia. Berbicara tentang perubahan iklim, banyak sekali peristiwa bencana yang terjadi di tahun 2021. Belum selesai permasalahan dengan Virus Corona, sekarang kita menghadapi permasalahan yang sudah mendekati titik klimaks, yaitu pemanasan global (global warming).

lahan gambut quote

Perubahan Iklim

Salah satu dampak dari perubahan iklim adalah terjadinya bencana alam. Negara Jerman yang belum pernah mengalami banjir bandang, merasakannya di bulan Juli kemarin. Kejadian ini juga terjadi di kota tempat saya tinggal, Wuppertal dan beberapa daerah lainnya. Hujan intensif selama satu hari membuat debit air di sungai naik dan bendungan meluap.

Saat di Jerman mengalami banjir bandang, salah seorang teman yang tinggal di California mengkhawatirkan tingginya suhu yang bisa mencapai di atas 40 derajat.

Cuaca setempat juga terasa “galau” sekarang ini. Saya yang setiap hari naik sepeda ke tempat kerja merasakannya.

Dengan windbreaker jacket, saya mengendarai sepeda dari rumah saat hujan rintik dan angin yang bertiup kencang. 10 menit kemudian, matahari terasa terik menyengat. Saya pun berniat untuk membuka jaket. Di dalam jaket sudah mulai terasa seperti sauna. Namun, cuaca berubah dan kembali mendung. Sampai akhirnya sampai di tempat tujuan, dengan banjir keringat karena temperatur cuaca meningkat.

Perubahan iklim juga terasa di minggu ini (9 – 15 Agustus 2021). Teman yang sedang berlibur di kampung halamannya di Sisilia, Itali mengatakan kalau mereka tidak bisa keluar rumah karena suhu mencapai 51 derajat Celsius. Bayangkan bagaimana panasnya?

Sementara teman yang pulang kampung ke Turki mengatakan cuaca beragam di negaranya. Tanggal 13 Agustus kemarin kembali terjadi banjir bandang di Turki utara, sementara bagian Turki lain mengalami kenaikan suhu sampai 43 derajat Celsius.

Eco Blogger Squad's Gathering Edisi Agustus

Eco Blogger Squad adalah komunitas para blogger yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup , terutama perubahan iklim dan perlindungan hutan.

Edisi Gathering yang rutin diadakan setiap bulan, baik itu berbagi ilmu yang disampaikan oleh pakar lingkungan hidup maupun juga capacity building untuk meningkatkan kemampuan menulis. Acara ini diorganize oleh Blogger Perempuan, HIIP Indonesia dan partner terkait.

Dalam acara gathering bulan Agustus mengangkat topik Lahan Gambut sebagai kekayaan Indonesia yang harus dilindungi demi melindungi fauna Indonesia. Tema yang dibawakan oleh Kak Ola Abas dari pantaugambut.id dan Ibu Dr. Herlina Agustin dari Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Universitas Padjadjaran.

Lahan Gambut Indonesia

Lahan gambut Indonesia mempunyai luasan wilayah terbesar keempat di dunia, setelah Kanada, Rusia dan Amerika Serikat. Luasnya adalah sebesar 15 – 20 juta hektar. Sementara untuk kategori gambut tropika dunia sekitar 50 % ada di Indonesia dengan cadangan karbon berkisar 40-45 juta ton.

Lahan gambut punya berbagai istilah berbeda, misalnya peat (Inggris dan Eropa), fen (Amerika Utara), musked (Kanada), bog (Irlandia, Rusia dan Amerika), mire (Finlandia), dan moor (Jerman).

Begitu pula dengan masyarakat daerah atau suku di Indonesia yang mempunyai sebutan sendiri, antara lain tanah hitam (Jawa), tanah rawang atau tanah payo (Sumatera, khususnya Riau, Jambi), ambul (Kalimantan Selatan) dan sepuk (Kalimantan Barat).

Nama yang berbeda ini terkait dengan karakteristik dari gambut.

Asal Nama Gambut

Nama gambut yang dipakai di Indonesia berasal dari kosa kata suku bahasa Melayu Banjar.

Apa itu Gambut?

Kebanyakan dari kita pasti pernah mendengar lahan gambut dan bahkan pernah mempelajarinya di sekolah, tapi karena tidak terlihat oleh kita sehingga mungkin kita tidak lagi aware dengan kehadirannya.

Jadi apa sih gambut itu?

Secara harfiah, 

gambut adalah timbunan materi organik yang berasal dari sisa tanaman, pohon, rerumputan dan lumut juga jasad hewan yang membusuk yang tertimbun dalam masa dari ratusan sampai bahkan ribuan tahun.

Menurut epistemologi,

gambut adalah material atau bahan organik yang tertimbun secara alami dalam keadaan basah berlebihan atau jenuh air, bersifat tidak mampat dan tidak atau hanya sebagian yang mengalami perombakan (decomposed).

Menurut konsep pedologi,

gambut adalah bentuk hamparan daratan yang morfologi dan sifat-sifatnya sangat dipengaruhi oleh kadar bahan organik yang dikandungnya.

Menurut konsep ekologi,

gambut adalah sumber dan rosot (sink) karbon sehingga dapat masuk sebagai sumber emisi gas rumah kaca (GRK) yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global.

Ciri Lahan Gambut

ciri lahan gambut
Sumber: Slide presentasi Ola Abas, pantaugambut.id

Secara karakteristik, tanah gambut berbeda dengan tanah mineral. Namun tidak berarti tanah gambut mempunyai nilai yang kurang dibandingkan dengan tanah mineral.

Gambut dapat dijadikan sebagai lahan pertanian, lahan penggembalaan, hutan alam, hutan rawa, bahan tambang, bahan media tumbuh, bahan kompos, bahan bakar dan bahan industri.

Tahukah Kamu?

lahan gambut tropis tertua

Tahukah kamu kalau lahan gambut tropis tertua di dunia berada di Indonesia? 

Ya, Indonesia yang memiliki luasan 50% gambut tropis dunia juga mempunyai lahan gambut tertua di Kalimantan, yaitu terbentuk sekitar 47.800 tahun yang lalu, dengan kedalaman lapisan 18 meter.

Berbeda dengan gambut iklim sedang yang umumnya merupakan gambut serat-seratan (fibrous/sedge peat), gambut di wilayah tropika umumnya adalah gambut kayuan (woody peat).

Regenerasi gambut tropis sangat lambat dibandingkan gambut iklim sedang, yaitu puluhan bahkan sampai ratusan tahun sehingga pasokan ketersediaan tidak dapat berkesinambungan.

Oleh karena itu pemanfaatan dan pembukaan lahan gambut harus menganut wise use, dilakukan secara bijak karena selain masa regenerasi yang lama juga harus waspada agar pelepasan emisi GRK berlebihan dapat dihindarkan.

Seperti juga hutan yang punya pola dibakar untuk pembukaan lahan, begitu juga dengan tanah gambut. Padahal fungsinya sangat besar … jika kita tahu dan mau perduli.

Peran Penting Tanah Gambut

Beberapa peran lahan gambut diantaranya,

1. Mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau. Gambut mempunyai daya serap tinggi membuat gambut berfungsi tandon air, karena dapat menampung 450 – 850% dari bobot keringnya. Selain itu gambut yang terdekomposisi dapat menampung 2 – 6 kali berat keringnya.

2. Menunjang perekonomian lokal. Di Indonesia, lahan gambut dikembangkan untuk berbagai jenis komoditi pertanian seperti padi, sagu, palawija, sayuran dan hortikultura sampai tanaman keras seperti kopi, cokelat, karet, kelapa dan kelapa sawit. Serta juga pengembangan perikanan seperti kolam atau tambak.

3. Habitat untuk perlindungan keanekaragaman hayati. Flora dan fauna yang tumbuh dan tinggal di lahan gambut berguna bagi masyarakat dan juga mempunyai peran penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem.

4. Menjaga perubahan iklim. Gambut menyimpan cadangan karbon yang besar, yaitu dua kali lebih banyak dari karbon hutan yang ada. Ilustrasinya adalah setiap 1 juta ha lahan gambut yang dibakar, dapat melepaskan karbon sebanyak 2,2 -3,7 juta ton per tahun.

Sayangnya ...

Sayangnya perhatian terhadap konservasi dan pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan sangat kurang dan terlebih terhadap bencana dari dampak perubahan iklim yang sering terabaikan.

Coba kita perhatikan lagi tentang perubahan iklim yang saya sebutkan di awal artikel ini. Perubahan dan variabilitas suhu, peningkatan curah hujan, semakin panjangnya musim hujan, rentang waktu datangnya kemarau panjang yang semakin singkat, dan peningkatan muka air laut adalah kondisi-kondisi lingkungan yang semakin nyata.

Kondisi lingkungan yang disebutkan adalah indikator yang menunjukan semakin kritisnya kondisi lingkungan akibat perubahan fungsi lahan basah/gambut. 

Kerusakan lahan gambut juga menyebabkan dampak besar bagi ekologi. Selain berkurang dan hilangnya flora yang tumbuh juga tersingkirnya tempat hidup bagi fauna.

Peran Besar Lahan Gambut Dalam Mencegah Perubahan Iklim

Pada Konferensi G-20 dan Pertemuan Para Pihak (COP) ke-15 pada bulan Desember 2009, Indonesia menyatakan kesiapannya untuk memerangi perubahan iklim dengan target penurunan emisi GRK sebesar 26%. Perubahan iklim merupakan salah satu isu kunci dalam pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan.

Gambut adalah rosot (sink), tetapi dapat juga menjadi sumber karena melepaskan GRK seperti CO2, CH4, N2O dan lainnya. Bukan merupakan tindakan yang bijak membiarkan gambut sehingga rusak dan bongkor karena terbakar setiap tahun dan masyarakat di sekitarnya tetap miskin.

Hilangnya Fungsi Gambut

Pengeringan gambut berdampak pada tingkat kebakaran tinggi. Fungsi penyerapan air pada gambut yang sangat kering akan sulit dilakukan karena dalam kondisi seperti itu gambut sudah tidak lagi berfungsi sebagai tanah. Melainkan sebagai ranting yang menyulut api semakin besar.

Akibat dari kebakaran ini tentunya menimbulkan kabut asap yang berpengaruh pada kesehatan manusia dan terganggunya aktivitas. Belum lagi ancaman bahaya banjir karena hilangnya daya serap air dari lahan gambut.

Semua mahluk hidup yang tinggal berdekatan dengan area gambut ini akan merasakan dampaknya. Keseimbangan ekosistem terganggu, belum lagi zat karbon yang dilepaskan ke udara, yang mempercepat laju perubahan iklim.

Ancaman Terhadap biodiversitas

Biodiversitas lahan gambut sangatlah kaya. Hampir semua keluarga dari kerajaan animalia ada di sini. Menghilangkan tempat tinggal mereka, akan berdampak tinggi pada ekosistem.

Lebih jauhnya perubahan iklim berdampak terhadap perubahan perilaku satwa dan kerentanan pada reproduksi satwa.

Mungkin kebanyakan manusia lupa kalau satwa bukanlah objek melainkan mahluk hidup yang keberadaannya juga penting di dalam ekosistem. Jika mereka terancam punah, keberadaan kita pun akan sama terancam.

Solusi

Beberapa hal dapat kita lakukan diantaranya restorasi gambut, mendorong komitmen pemerintah dan konsisten menyuarakan isu perlindungan lahan gambut. 

Referensi

Eco Blogger gathering

Lahan Gambut, Pengembangan, Konservasi dan Perubahan Iklim, Muhammad Noor (2018)

12 Komentar

  • Rizky Kurnia Rahman

    Salut banget sih kepedulian para blogger terhadap lingkungan, utamanya lahan gambut ini. Apalagi jika menampilkan ulasan pentingnya lahan gambut ini. Sebenarnya tidak hanya mengharapkan pemerintah, tetapi juga kita dan masyarakat.

  • Diah Alsa

    sungguh, lahan gambut adalah kekayaan Indonesia yang sepertinya masih dikesampingkan ya, nyatanya masih juga terjadi kebakaran hutan gambut padahal gambut punya banyak manfaat bagi kehidupan 🙁

  • Supadilah

    Lahan gambut harus dijaga juga Untuk menjaga keseimbangan gas rumah kaca. Kalau terlalu dieksploitasi, masyarakat sekitar juga kena dampaknya. Bahkan seluruh dunia kena juga. Artikel keren. Menyadarkan pentingnya memelihara lahan gambut.

    • Supadilah

      Besar nian fungsi gambut dalam menjaga iklim bumi. Sayangnya kepedulian masyarakat kurang. Banyak pembakaran gambut. Akhirnya membuat karbon lepas di atmosfer kita. Semoga bisa dikurangi hal seperti ini

  • Nanik Nara

    Seingat saya dulu pas pelajaran di SD, lahan gambut tuh tanahnya nggak bisa dimanfaatkan. Tapi ternyata bisa juga buat bercocok tanam ya, dan memiliki beberapa manfaat lainnya.

    Saya juga kaget mbak pas denger berita beberapa negara di Eropa mengalami banjir, seumur-umur kayaknya baru kali ini denger ada bencara banjir di di sana

  • Sitatur rohmah

    Semoga kita memiliki kesadaran yang tinggi ya kak, untuk bersama sama menjaga ekosistem gambut ini, memang udah banyak berita di televisi pembakaran lahan gambut secara besar besaran, yang tentu saja dampaknya sangat luar biasa.

  • Muhammad Rifqi Saifudin

    Penting sekali ya ternyata gambut ini buat keberlangsungan ekosistem bumi ini, dan Indonesia menjadi salah satu lahan gambut terbesar. Mari kita jaga bersama lahan gambut agar bisa terus ada dan membawa dampak positif bagi kita semua

  • Santi suhermina

    Jujur aku baru fakta tentang lahan gambut ini setelah banyak baca artikel teman-teman. Keren, kekayaan Indonesia ini luar biasa ya. Harus dijaga dan dilestarikan karena banyak dari kita yang nggak aware ama lingkungan.

  • Shafira-ceritamamah.com

    jadi ingat kuliah dahulu, lahan gambut sendiri bisa beberapa mata kuliah. betapa Allah berikan tanah gambut ini penuh kekayaan untuk kita. Mulai dari animalia sampai mikro, meso dan makroorganisme ada di lahan gambut. ah, semoga kita bisa menjaganya ya mbak renov

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!