Cerita Sahabat

Beralih Profesi Karena Pandemi

Beralih Profesi Karena Pandemi. Sejak pandemi Corona yang muncul di tahun 2020 ini, banyak orang yang beralih profesi. Dalam kondisi yang sulit ini, banyak perusahaan yang mengambil kebijakan yang paling bijaksana yang dapat mereka ambil untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya.

 

Teman-teman tempat saya bekerja dulu di Bali juga banyak yang dirumahkan, tidak sedikit pula yang diberhentikan. Sebagian masih bekerja kira-kira sekitar 15 hari di dalam sebulan.

 

Bali yang mengandalkan sektor pariwisata, di masa corona ini kesulitan untuk mendatangkan tamu ke properti mereka.

 

Begitu pula dengan cerita sahabat saya yang tinggal di Yogyakarta. Sama seperti di Bali, Yogyakarta memiliki banyak industri yang bergerak di sektor pariwisata.

 

Beralih Profesi Karena Pandemi

beralih-profesi-karena-pandemi
Pak Ateng. Source by. istimewa.

Sore itu di awal bulan September, saya berbincang dengan sahabat yang bernama Pak Ateng Aditya, kerap disapa Pak Ateng, di rumahnya di kawasan bantul Yogyakarta.

 

Dia tengah merawat salah seorang kucingnya bernama Bruno. Bruno adalah seekor kucing jenis Persian peaknose, pejantan unggulan di Cat House miliknya. 

Usaha yang bermula dari hobi ini, kini sudah mantap ditekuninya.

Pekerjaan Pak Ateng sebelumnya adalah seorang Executive Assistant Manager, orang nomor 2 di sebuah hotel bintang 5 di bawah naungan grup hotel Internasional. Tidak terlintas kesedihan di balik senyum di wajahnya ketika dia memilih untuk mengambil break dan beralih profesi karena pandemi.

Sembari menunggu kondisi pekerjaan menjadi normal, langkah ini diambilnya sebagai cara untuk bertahan dan tetap produktif selama masa pandemi.

Berkah, Cat House Yogya. Awalnya sampingan kini utama.

Berkah-cat-house
Berkah-cat-house-jogja

Kemantapan hatinya untuk menjalankan Cat house yang diberi nama Cat house Berkah, berlokasi di Bantul Yogyakarta ini tidak dilakukan tanpa alasan. Ketika saya tanya apa alasan tekadnya beralih profesi karena pandemi corona, Pak Ateng menjawab,

 

“Pilihlah usaha yang sesuai dengan minat atau hobi kita. Sehingga apapun yang kita usahakan tidak menjadi beban”.

 

Pak Ateng yang saya kenal, adalah sosok penyayang binatang. Ketika dulu bekerja di Bali, dia pun memiliki juga binatang peliharaan, yaitu 2 ekor anjing yang diberi nama Rocky, dan Casey. 

Ketika rotasi pekerjaan mengharuskan dia untuk pindah ke Yogyakarta hampir 6 tahun yang lalu, entah kenapa dia bilang dia menjadi jatuh cinta pada kucing. Mulailah dari situ lah, dia merawat kucing.

Selama merawat kucing ini, dia belajar banyak tentang grooming, kesehatan, makanan, vitamin dan segala hal berkaitan dengan kucing. 

Seiring berjalannya waktu, ketika kucingnya kawin dan beranak, dia memeliharanya terus. Sampai akhirnya muncul untuk ide breeding. 

Dengan kemantapan hati, berbekal pengalaman dan pengetahuan dunia perkucingan, dia menambah pengetahuannya dengan buku-buku. Kira-kira sekitar dua tahun yang lalu, akhirnya dia mencoba bisnis sampingan cat house. 

Pak Ateng menegaskan untuk yang ingin memulai bisnis

 

“Apapun jenis usaha harus selalu didukung dengan ilmu pengetahuan” Usahakan jangan sampai buta sama sekali dengan apa yang digeluti, sehingga kita melupakan yang namanya manajemen risiko”.

 

Mengamati kucing-kucing di Cat House “Berkah”, saya pun tergelitik untuk bertanya apa yang membuat dia mempunyai usaha sampingan. Saya hanya bisa membayangkan pekerjaan tetapnya saja pasti menyita banyak waktu dan pikiran. 

Pak Ateng yang sedang duduk di sofa ruang tamu di rumahnya minimalis menjawab,

 

“Jangan bergantung kepada satu sumber penghasilan, tidak mengandalkan gaji. Terbukti ketika ada pandemi, dan pekerjaan utama hilang, ini bisa menimbulkan keputusasaan dan depresi”.

 

Faktor lain mengapa bisnis ini cocok baginya yang beralih profesi karena pandemi, yaitu usaha ini tidak memerlukan tempat usaha khusus dan dapat dilakukan di rumah. 

 

Sehari-hari perawatan kucing selain dilakukan sendiri olehnya, juga oleh keponakannya, Ahmad. Ahmad yang sedang menempuh kuliah S2 Keperawatan di Universitas Gadjah Mada, sangat telaten merawat kucing-kucing ini.

 

Cat House Yogja “Berkah” yang sekarang dia rintis selama 2 tahun, sudah mempunyai sekitar 7 kucing indukan, 6 ekor betina dan 1 ekor pejantan.

Total kitten yang siap lepas adopsi ada sekitar 10 kitten.

Kucing yang dimilikinya berjenis Persian Peaknose, Persian Flatnose, Persian Longhair dan Persian Shorthair (exotic).

Tidak hanya melepas kucing untuk adopsi saja, tetapi juga menerima jasa kawin (pacak), grooming, penitipan dan mandi untuk kucing yang berkutu atau berjamur.

Jangan lupa kunjungi IG Berkah Cat House juga ya,

Persian Exotic Peaknose

Imajinasi Kebaikan

imajinasi-kebaikan
Prinsip Imajinasi Kebaikan Pak Ateng. Source by. Istimewa.

Pak Ateng tentunya seperti para pelaku usaha lainnya, menginginkan usahanya terus berkembang. Dia berharap ke depannya bisa membangun pet house.

Prinsip imajinasi kebaikan adalah prinsip yang diyakininya. Imajinasi disini berasal dari hal yang memang sudah ada dasarnya ketika kita menekuni sesuatu. Semakin kita fokus pada hal ini, kemungkinan tercapai akan lebih besar. Jadi bukan halu ya …hehehe.

Sebelum pandemi, memang tidak terbayangkan untuk fokus serius di usaha sampingannya. Namun pandemi corona tidak banyak memberikan opsi kepada kita.

 

Pak Ateng berharap impiannya ini dapat terwujud.

 

Lalu bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga termasuk yang beralih profesi saat pandemi? Sudah memulai usaha apa saat pandemi ini?

 

Stay safe …xoxo

 

Reference:

 

Interview dengan Pak Ateng Aditya tanggal 2 September 2020.

14 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!