Pengembangan Diri

QuBisa, Aplikasi Siap Kerja yang Mendukung Karir

Tantangan Karyawan Jaman Now

Beberapa waktu yang lalu, atasan mengajak saya berbincang dan menanyakan apakah ada gap kompetensi antara Key Performance Indicator dengan aktual yang ada di lapangan. 

Untuk yang bekerja di bagian HRD/SDM pasti paham, akhir tahun adalah waktu yang disibukan untuk penilaian karyawan, melakukan update job analysis dan training analysis (TNA) untuk tahun berikutnya. 

Namun ada yang berbeda setelah adanya pandemi COVID. Dengan kebijakan-kebijakan baru, perusahaan membutuhkan karyawan melakukan re-kompetensi dan bahkan memiliki kompetensi baru.

Bagaimana kita selaku karyawan menjawab tantangan ini?

 

otodidak atau autodidak

Bertahan mengikuti perubahan

Mengutip perkataan Warren Buffet, “Semua orang mengatakan bahwa saat ini penuh tidak kepastian. Padahal setiap waktu adalah ketidakpastian”. 

Pandemi menyadarkan kita akan hakikat hidup bahwa tidak satu pun abadi dalam kehidupan ini (the law of impermanence). Segala sesuatu akan mengalami perubahan (the law of change).

 

Adakah diantara kamu yang merasa  tuntutan pekerjaan untuk tetap produktif semakin tinggi walaupun wfh (work from home)? Adakah yang merasa resah menghadapi perampingan karyawan? Adakah yang merasa stres karena tidak bisa bersaing dengan pendatang baru?

Kebanyakan dari kita sebenarnya sudah mengalami kecemasan bahkan sebelum adanya pandemi. Ini terjadi bukan saja buat mereka yang bekerja kantoran, tapi juga untuk para freelance dan yang mempunyai usaha sendiri. Bahkan dengan latar belakang pengalaman bertahun-tahun, kita terkadang merasa kalau tetap kalah dengan anak baru. 

Jika sudah muncul rasa ketidaknyamanan dalam diri,  terkadang kita menyalahkan usia dan kemampuan otak yang menurun. Padahal, bisa jadi itu muncul dari ketidakmauan kita untuk keluar dari zona nyaman dan kembali belajar menjadi pemula.

Mengutip sebuah pembukaan menarik dalam buku MarkPlus yang ditulis oleh Jacky Mussry, Deputi CEO MarkPlus, bahwasanya ada dua syarat utama untuk seseorang bisa bertahan dalam kondisi apapun, yaitu Kompetensi dan Relevansi.

Kompetensi dan Relevansi

Syarat pertama yang disebutkan oleh Jacky Mussry adalah kompetensi

Berdasarkan pengalaman pribadi, cara paling efektif untuk menilai apakah kompetensi kita masih sesuai, adalah dengan melihat poin-poin Key Performance Indicator yang ada di form penilaian karyawan. 

Hal lain yang bisa kamu lakukan adalah ketika kamu kesulitan menjalankan satu pekerjaan baru. Ini bisa menjadi indikator kalau ada kompetensi yang hilang atau harus ditingkatkan. 

Hal lainnya adalah dengan melihat rujukan list kompetensi yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF). Sebuah studi mengatakan bahwa ada 100 juta orang yang akan berpindah pekerjaan di tahun 2030.

 

Adanya pandemi, mempercepat proses digitalisasi, serta keberadaan the future of jobs yang pernah diterbitkan oleh WEF di tahun 2016.

 

Syarat yang kedua adalah relevansi. Jika kompetensi kamu semisal sudah sangat tinggi tapi sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan jaman, nantinya akan tertinggal. 

Relevansi berhubungan dengan kemampuanmu beradaptasi dengan situasi, trend, perkembangan dan teknologi sekarang. 

Suka atau tidak suka, kompetensi di masa depan tidak akan sama dengan sekarang dan pekerjaan yang kamu lakukan bisa jadi bukanlah pekerjaan yang kita kenal sekarang. 

Dan kita sebagai karyawan atau bahkan seorang pemimpin perusahaan tidak boleh menyerah akan perubahan karena satu satunya yang konstan adalah perubahan

Sebaiknya kita sudah mulai mempersiapkan diri dengan upskilling dan re-skilling kemampuan yang kita punya.

 

Jam belajar Generasi Z tinggi ... bahkan sangat tinggi

Generasi Z yang berusia 18 -24 tahun percaya kalau belajar mampu mengantarkan mereka pada gerbang kesuksesan. Mereka yang sudah terbiasa dengan teknologi, dapat memanfaatkan pandemi dengan belajar lebih banyak lagi. 

Mereka terbiasa dengan belajar otodidak dan menggunakan platform belajar online dibandingkan generasi milenial yang lahir di tahun 80’an dan 90’an. 

Jika kamu  bukan generasi Z, seperti juga saya, ada baiknya kita mulai melirik platform belajar seperti QuBisa, yang belakangan ini bikin saya terobsesi dengan belajar.

Pengalaman Pribadi menggunakan quBisa

Adanya kebutuhan untuk mengupskilling dan re-skilling tadi membawa saya kepada QuBisa, sebuah aplikasi siap kerja yang memberikan kita banyak pelatihan, dari mulai gratis sampai berbayar dengan biaya terjangkau.

 

Awal pandemi sempat membuat saya termenung, apalagi ketika salah satu pekerjaan part time yang menjadi mata pencaharian memberhentikan saya. 

Saya kemudian mengisi waktu dengan membaca buku dan menganalisa posisi kompetisi saya dibandingkan dengan yang dicari di job market. Bagaimanapun kita harus bekerja untuk hidup, selain untuk beribadah.

Dari berbagai macam platform belajar online, saya jatuh hati dengan QuBisa. Saya bahkan berpikir, Kemana aja saya selama ini”. 

Ada beberapa alasan saya sebagai orang yang bekerja di bagian SDM memilih menggunakan aplikasi belajar online QuBisa.

1. User friendly

qubisa platform
Tampilan Menu Home QuBisa di Browser

Baik itu akses di website maupun di aplikasi, QuBisa mempunyai interface yang memudahkan penggunanya.

Kita bisa dengan mudah memilih topik belajar online yang sudah dikelompokkan menjadi Keterampilan Sukses Milenial (KSM), Keterampilan Digital Milenial (KDM) serta Konten PopulerKSM dan KDM berisikan kumpulan kursus, belajar kilat dan microlearning. 

Atau bisa juga kamu memilih berdasarkan jenis topiknya, antara lain business, design, finance & accounting, human resource, IT & software, IT development, lifestyle & health, personal development, sales & marketing, dan teaching & academics.

Bentuk pelatihan adalah berupa video yang terkadang mempunyai pre-test dan post-test. 

Jika kamu seorang profesional, kamu juga bisa memilih filter Pengembangan Karir. Begitu juga jika kamu seorang fresh graduate, filter Siap Kerja memudahkan untukmu.

 

login QuBisa dengan gmail

Agar history belajarmu tercatat dan kamu juga bisa mendapat sertifikat untuk webinar yang kamu ikuti, kamu bisa mendaftarkan diri dulu. 

Lebih mudahnya lagi, kamu bisa daftar dengan akun google. Semisal, jika kamu daftar webinar, QuBisa akan menambahkan  event ke kalendar Google-mu.

Kamu bisa melihat dari photo di samping, bagaimana app QuBisa dirancang agar pengguna mudah memilih apa yang dia butuhkan.

Kelebihan lain dari menggunakan app adalah kamu nggak perlu connect ke zoom ketika mengikuti webinar. Jadi cukup dari app QuBisa saja.

Selain itu poin menonton video untuk di kursus atau microlearning hanya kamu dapatkan jika menonton di app.

QuBisa, Aplikasi Siap Kerja yang Mendukung Karir | Pengembangan Diri | qubisa | RenovRainbow

2. Memilih sesuai keinginanmu

Kamu bisa memilih jenis training selain sesuai dengan topik, juga dari berapa banyak waktu luang yang kamu punya

Ada webinar yang berdurasi sekitar 1,5 – 2 jam. Ada kursus dengan durasi dari mulai 15 menit sampai satu jam. Beberapa kursus dibagi menjadi beberapa video pendek sesuai sub topik. Lama durasi video pendek berkisar dari 2 menit sampai 15 menit. 

Jika kamu ingin belajar dengan metode sekali tuntas, ada microlearning yang membutuhkan waktu sekitar 5 menit. 

 

3. Materi ter-update

Masih ingat tadi di atas kita membicarakan tentang rujukan list kemampuan dari World Economic Forum (WEF)?

Nah, QuBisa ini mengikuti rujukan kompetensi tadi yang dikelompokan menjadi Keterampilan Sukses Milenial dan Keterampilan Digital Milenial.

Penasaran keterampilan apa yang dibutuhkan di tahun 2025 nanti? Simak di bawah ini. 

Top Skills of 2025 WEF
Top Skills of 2025 WEF

Enak banget kan? Semua sudah disusun dengan matang oleh QuBisa. Kamu tinggal milih topik yang sesuai dengan prioritas.

Jangan ketinggalan pula materi webinar yang topiknya tuh update banget kaya misalnya, “Jagain Jodoh Orang”, “Hubungan Beda Keyakinan” dengan pembicara seorang psikolog atau “Dilema Anak Magang” dengan pembicara HR Manager Astra-Honda. 

Webinarnya juga dibawakan serius santai. Pembicara kompeten, asyik plus moderator yang rame dan kocak. Setiap webinar memberi pengalaman berbeda, pokoknya.

 

4. Instruktur yang kompeten

Kalau dari tadi kita ngomongin materinya, sekarang beralih ke profil instruktur.

Latar belakang instruktur, ada yang berasal dari kalangan akademisi dan juga profesional. Mereka yang memang kompeten di bidangnya, memberikan pelatihan dan materi. 

Dari kelas nasional, aplikasi siap kerja ini mempunyai instruktur dari kalangan para dosen, para managers, CEO, sampai Sandiago Uno yang adalah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sampai kelas internasional, yaitu Ram Charan, World Renowned Advisor, Author dan Speaker.

 

5. Ngumpulin poin

Setiap mengakses satu materi, kita akan diberikan poin dengan sistem bobot p yang berbeda.

Poin yang tertinggi, diberikan kepada kelas Webinar berbayar. Kamu bisa ngumpulin sampai dengan 7500 poin. 

Webinar juga kasih poin lumayan tinggi yaitu 170 poin. Paling kecil adalah microlearning,  minimal kamu bisa memperoleh poin 15.

Kamu juga berkesempatan untuk mengikuti liga poinqu yang buat periode 15 November – 31 Desember 2021 berhadiah jalan-jalan ke Belitung dengan akomodasi ditanggung, smartphone dan pulsa GoPay. 

Saya baru mengumpulkan poin 7.735 nih. Kalau sahabat sudah dapat berapa nih? 

Jika jadwalnya pas, biasanya saya menyempatkan untuk ikut webinar karena selain tema yang menarik, mendapat sertifikat (beberapa webinar memberikannya) dan tidak ada rekaman ulang. 

Sedangkan kursus dan microlearning bisa saya akses dimana saja dan kapan saja termasuk ketika geje di perjalanan.

PoinQu QuBisa
History QuBisa

6. All in One

Siapa bilang aplikasi siap kerja QuBisa hanya untuk meningkatkan kompetensi saja? 

Tanggal 11 Desember 2021, mereka bakalan punya Job Fair Online. Ke depannya mereka bakal punya fasilitas job share juga. Wah nggak sabar, pengen tahu nih. Buat sahabat yang berniat mencari pekerjaan, aplikasi ini recommended banget.

Eh tapi, QuBisa juga membuka kesempatan buat kamu mengumpulkan pengalaman dan pundi pundi rupiah sebagai content writer dan instruktur loh. 

Kamu bisa mengupload video mu atau bisa juga mempergunakan fasilitas yang dimiliki QuBisa yang pastinya dengan teknologi yang mereka punya bakal menghasilkan kualitas video upload yang optimal. 

Kalau kamu kurang suka berada di belakang kamera, bisa juga menulis artikel di mode instruktur.

 

Siap dengan tantangan baru

Tidak perlu resah lagi dengan tantangan pekerjaan di masa depan karena aplikasi siap kerja QuBisa dapat membantu mewujudkan mimpi karir kita.

Para ahli memprediksi akan semakin banyaknya hybrid work paska pandemi COVID.

Apa sih hybrid work?

Hybrid work adalah situasi dimana karyawan memadukan antara kerja di kantor dan work from home, yang artinya mereka tidak perlu datang setiap hari ke kantor. Jadwal akan dirancang sedemikian rupa tergantung individual dan kebutuhan.

Sekarang pun kita sudah mulai transisi ke arah sana. Ada baiknya kita mulai mempersiapkan diri termasuk kemampuan berkolaborasi menggunakan teknologi sehingga projek bisa dikerjakan meskipun orang-orang yang terlibat di dalamnya berbeda-beda tempat, kemampuan mengelola waktu dan kemampuan lain yang kita rasa perlu.

Jadi siapa takut menghadapi tantangan baru?

Dengan QuBisa, aku bisa … kamu bisa.

Stay safe … xoxo

 

QuBisa, Aplikasi Siap Kerja yang Mendukung Karir | Pengembangan Diri | qubisa | RenovRainbow

QuBisa

Biar nggak ketinggalan update dari aplikasi belajar online QuBisa, kamu bisa follow akun mereka di bawah ini.

Referensi

QuBisa Microlearning, Persiapkan Karirmu Kuasai Kompetensi Digital oleh Husein Samy – Country Manager HR IBM Indonesia.

QuBisa Kursus, Cara Tetap Eksis Menghadapi Persaingan di Era Global oleh Dr. Abdul Latief – Head of CS Network & People Development PT Astra International Tbk – Honda

QuBisa Kursus, Stronger in New Normal oleh Dr. Sandiaga Salahuddin Uno – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Kabinet Indonesia Maju.

QuBisa Kursus, Managing Millenials oleh Bayu Setiaji – Chief of Learning Development Solution PT. GML Performance Consulting.

World Economic Forum, The Future of Jobs Reports 2016

World Economic Forum, These are the top 10 job skills of tomorrow – and how long it takes to learn them.

LinkedIn, Workplace Learning Report 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!