Puisi dan Cerpen

Pulang (Part 1)

Pulang. – Langkahku menembus malam di tengah kota Munich. Malam ini angin bertiup sangat kencang menjadikannya begitu dingin. Aku menarik kerah mantel sampai menutupi mulut dan berusaha mengenali jalan di tengah gelapnya malam.

 

Aku berjalan sambil tanganku menarik koper hitam 28 inch. Di samping kanan kiri jalan terdapat sederetan toko diterangi cahayanya yang terang dan menghangatkan, tapi pemandangan ini bagiku sangat asing dan dingin.

 

Selama bertahun-tahun aku melewati jalan yang sama, tetapi aku tidak menyadari situasi sekitarnya. Masih teringat di benakku, tahun kegelapan itu. Tahun yang kujalani dengan penuh ketidak-pedulian, selain patah hati juga renggangnya hubungan dengan Tari, Kakakku.

 

Dua bulan yang lalu aku menerima telepon dari Bapak mengatakan kalau Tari melahirkan anak pertamanya. Semenjak itu Bapak jadi sering mengirimkan photo si bayi, sambil menanyakan kapan aku pulang. Bosan mendengar pertanyaan yang sama, akhirnya sebulan yang lalu kuputuskan, hari ini untuk pulang ke rumah.

 

Kulirik jam di tangan kiri menunjukkan pukul 7 malam. Aku mampir sebentar untuk minum kopi di sebuah cafe dekat Hauptbahnhof*. Cafe yang tidak terlalu besar, tapi selalu ramai pengunjung. Aku masih punya cukup waktu sebelum keberangkatan pesawat.

 

Setelah memesan secangkir cappucino, aku duduk di kursi di dekat jendela. Biasanya spot ini selalu terisi. Aku selalu memilih kursi ini, agar aku bisa mengamati pemandangan di luar dan orang yang lalu lalang. Sebuah meja yang tidak terlalu besar, cukup untuk menyajikan makanan buat dua orang. 

 

Aku melepaskan mantelku, dan menyeruput kopi. Pikiranku yang tadinya buram, kini mulai sedikit benderang. Sejak hari kemarin aku sudah mengambil cuti, dan yang kulakukan di apartemen hanya menangis dan termenung. Aku benci harus pulang.

 

Aku memandang keluar jendela, kulihat sepasang muda-mudi sedang berpegangan tangan. Entah kenapa setiap kali melihat pemandangan ini, ingatan melayang pada Jamie, bukan pada Mario kekasihku.

 

Jamie, tetangga di samping rumah di Bandung. Dia seusia dengan Tari, bahkan mereka selalu pergi ke sekolah yang sama. Aku hanya sempat satu sekolah saat kami menginjak Sekolah Dasar. Perbedaan usia 3 tahun membuat kami menjadi teman sepermainan. 

 

Entah mulai kelas berapa, tetapi sejak kami kecil, Jamie selalu ikut kami jika musim liburan tiba. Matanya yang kecil berwarna kecoklatan akan berbinar dan pupil matanya membesar, setiap kali Ibu mengajaknya pergi liburan. Nenek Jamie tampak tidak keberatan.

 

Waktu aku menginjak kelas 1 SMA, Jamie dan Tari masuk ke Fakultas di Perguruan Tinggi yang sama. Hari itu di bulan November, ada Pekan Seni dari tempat mereka kuliah, Jamie mengajakku untuk datang bersamanya. Tari yang hari itu sedang sakit, tidak diizinkan oleh Ibu untuk ikut pergi. Ibu hanya berpesan kepada Jamie, agar menjagaku terutama di kerumunan orang banyak. Ibu mengingatkan bagaimana drama hilangnya aku setiap kali kami liburan. Kami pun tertawa tergelak.

 

Pulang-Pekan-Seni
Pulang. Pekan Seni. Source by. jenni-miska-unsplash

Pekan Seni yang aku datangi sangat meriah. Banyak stand dan aksi seni yang menarik. Belum ditambah dengan pagelaran musik. Semakin sore, semakin ramai. Waktu kami sedang sedang berada di satu stand, tiba-tiba kerumunan di sekeliling riuh ramai, dengan cuitan dan teriakan kaum hawa. Aku melihat band indie yang aku suka. Aku yang terpana , melangkahkan kaki mengikuti mereka. Jamie yang tersadar, menarik tanganku dan memegangnya erat.

Aku merasa seperti terkena serangan listrik. Jantung berpacu kencang, terutama ketika tangannya menggenggam tanganku. Dengan lembut dia berbisik ke telingaku,

 

Stay beside me. Aku tak sanggup mencari kalau kamu tinggal pergi.”.

 

Sejenak aku tercengang, entahlah, mungkin aku yang salah mengartikan. Mungkin maksudnya, dia tidak sanggup mencari di tengah ribuan orang. Melihat ekspresi wajahku yang kebingungan, dia tertawa sambil mengacak-acak rambutku. Selanjutnya dia membawaku kesana kemari, aku sudah tidak bisa mengingat dengan jelas. Entah apa yang terjadi, aku memandang Jamie kali ini dengan tatapan berbeda.

Ketika kami bertemu dengan teman-teman satu fakultasnya, dia memperkenalkan namaku, dan bukan “ini adik Tari”. Teman-temannya tertawa, beberapa menggoda dan kulihat pupil mata Jamie membesar, sama seperti ketika dia menerima undangan liburan. Kulit mukanya yang putih memerah, sembari mempererat genggamannya.

Aku bisa saja protes, berusaha melepaskannya. Namun tidak, aku malah balik menggenggamnya erat. Aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Pikiranku menyangkal keras, tidak mungkin aku jatuh cinta dengan sahabat dari kecil. Sahabat yang sudah kuanggap seperti kakak sendiri.

Namun tampaknya aku tidak bisa membohongi perasaan hati, perasaan bahagia yang menjalar ke seluruh tubuh. Di samping Jamie detik ini, aku merasa miliknya. Apalagi ketika kami melihat pertunjukan seni, dan Jamie melingkarkan lengan di sekeliling bahuku, memeluk dari belakang. 

Aku pun meletakkan kepalaku di dadanya. Tidak peduli nanti Bapak berkata apa. Aku cuma ingin menikmati saat ini saja.

Di perjalanan pulang, Jamie berkata apakah aku menikmati hari ini. Aku mengangguk. Dia mengacak rambutku, sambil terus bercerita menerangkan apa yang kami lihat tadi di Pekan Seni. 

Aku tidak bisa mendengar apa yang dia bicarakan. Aku sibuk memandang wajahnya, mengagumi rahang wajahnya, memandang bibirnya yang merah yang tidak ternoda oleh nikotin. Ingin aku mengambil tangannya dari kemudi, dan menggenggamnya kembali.

Perjalanan kali ini terasa seperti hanya sekilas cahaya. Kini kami sudah berada di pekarangan rumah. Jamie mengantarkan sampai ke depan pintu rumah. Aku mengetuk pintu dengan jantung yang masih berdetak kencang. Jamie sesekali tersenyum sambil menatapku.

Tak lama pintu terbuka, Bapak berdiri disana. 

Kini aku panik, menyembunyikan perasaanku. Bapak yang super galak tidak boleh sampai tahu. Namun apa yang aku takutkan sepertinya malah menjadi, suara Bapak menggelegar “Kamu kenapa Nina?”. Bapak mengamati wajahku curiga, dan melemparkan wajahnya ke Jamie.

Jantungku berhenti, keringat dingin membasahi tangan, sebelum aku sempat membuka mulut, tiba tiba sayup terdengar suara ….

Bersambung …

 

*

Hauptbahnhof: Stasiun kereta utama

13 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!