Puisi dan Cerpen

Dear Ben #Cerpen

Dear Ben. – Kebahagiaan yang kita pikir adalah dengan memiliki apa yang kita impikan. Namun bagaimana jika yang kita miliki, tidaklah benar-benar kita miliki.

dear ben

New York, 29 Juni 2018
Cerita Gyda

“Kamu tidak pernah salah dalam menilai orang” Itu yang teman-teman dan rekan kerja kerap katakan mengenai diriku. Entah itu di pekerjaan atau di kehidupan sosial, tetapi jika mereka meminta pendapatku tentang seseorang, 80 persen tidak pernah meleset. Aku selalu menjawab kalau itu hanya hasil dari proses mengelola data dan intuisi, selebihnya hanya keberuntungan. 

 

Pagi ini aku ada janji dengan Ben di sebuah cafe dengan konsep Jepang di kawasan Manhattan, New York. Café ini adalah tempat favorite kita berdua, meski itu dulu .. dulu sekali. 

 

Setengah berlari, aku melirik jam di sebelah kiri tanganku,  jam menunjukan pukul 11:20 pagi. Aku sudah terlambat 10 menit. Meeting pagi ini terlambat dimulai. Akhir-akhir ini aku harus menemui dokter lebih lama dari biasanya. Matt sudah bersikeras memintaku untuk beristirahat, terlebih ketika mendengar aku akan menemui Ben hari ini.

 

Sesampainya di pintu café, aku tidak lekas mendorong gagang pintu. Perasaanku berkecamuk, jantung berdetak kencang, dan keringat dingin membasahi telapak tangan. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan Ben dan pertemuan terakhir 7 tahun lalu bukanlah pertemuan yang menyenangkan. 

 

Ketika aku mendorong pintu kaca café, aroma kopi dan makanan langsung tercium, suasana di dalam café dan suara orang berbicara mengingatkanku pada masa lalu. Tidak banyak yang berubah dari tempat ini, pikirku. Kulihat 3 orang pegawai berseragam hitam berdiri di belakang counter bar yang tidak begitu besar. Mataku langsung mencari Ben diantara beberapa orang customer yang duduk di belakang meja yang terletak di depan counter bar. Tidak sulit menemukan Ben, diantara 12 kursi yang sebagiannya masih kosong.

 

Ben duduk di kursi paling sudut counter bar, kursi favorit kami dulu karena bisa dibilang hanya dua kursi pojok ini yang sedikit mempunyai privasi dengan tempat yang lebih besar. Dia sedang membaca menu, rambut cokelatnya yang bergelombang sedikit lebih panjang dari biasanya dengan poni yang jatuh tepat di atas sebelah kanan matanya. Kulitnya tampak pucat di balik kemeja linen berwarna biru muda. Dia mengenakan celana kain longgar berwarna putih dipadukan dengan sepatu mokassin. 

 

“Hallo Ben ..”kataku ketika sudah mendekat, dengan suara bergetar.

 

 Ben menengok ke arah suara ku dan berkata,

“Hi Gyda .. “ Ben seperti sedikit surprise melihat aku sudah berada di dekatnya. Kemudian dia lanjut berkata,

 “Apa kabar? Kamu baik-baik saja kan?” suara bass keluar dari mulut Ben. Dia berdiri dan menyodorkan tangan untuk membantuku membuka blazer.

 

Aku yang melihat bayanganku di cermin besar di belakang Ben pun menyadari kalau blush on pun tidak mampu menyamarkan wajahku yang pucat. Aku lalu berusaha mengendalikan diri dan menjawab sambil membiarkan Ben membantuku.

 

“Lama kita tidak jumpa.  Aku baik-baik, sorry aku terlambat, Matt menahanku di meeting lebih lama. Oh ya dia menyampaikan salam hangat juga buatmu. Kamu sudah pesan? Aroma makanan sangat menimbulkan selera terutama ketika sudah berlari dua blok dari kantor” kata ku dengan nada ringan, sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.

 

“It’s ok” Ben menarik kursi dan baru duduk kembali di kursinya saat aku duduk.

Wangi segar aroma buah-buahan dicampur dengan aroma pohon Birch dan pohon Nilam Patchpouli dari parfum Creed Aventus tercium saat dia menarik kursi nya ke arahku.

 

“Masih aroma parfum yang sama” kataku dalam hati.

 

“Kamu sudah siap untuk memesan?” Ben bertanya sambil memberikan isyarat untuk memesan kepada waiter di belakang counter.

 

“Ethopia kopi” jawabku

 

“Kamu tidak mau memesan makanan?” tanya Ben heran karena sebelumnya aku bilang ingin memesan makanan.

 

“Aku berubah pikiran, akan lebih baik jika menunggu sampai selera makan kamu muncul” jawabku. Ben memang selalu makan pukul 12:30, dan sekarang ini terlalu pagi.

 

Ben tersenyum kemudian memesan 2 cangkir Ethopia kopi kepada waiter.

 

Sejenak beberapa saat kami terdiam, aku berusaha menenangkan diri sambil pura pura mengamati waiter. 

 

“Bagaimana kabar Matt? Dan bagaimana pekerjaanmu?” Ben bertanya, membuka pembicaraan dan memandangku dengan bola mata biru nya.

 

“Matt baik –baik saja, dia akan membuka kantor baru di London. Klien sudah semakin banyak dan kami mempunyai beberapa klien utama yang mempunyai kantor di London. Mungkin itu yang menjadi pertimbangan Matt.” Jawabku singkat.

 

“Wow, London. Apakah kamu akan ditempatkan disana? Kamu tau, hanya mendengar kata London, aku sudah berharap kamu akan pindah. Artinya kita akan tinggal satu kota” Ben berkata sambil kemudian menyeruput kopi yang baru saja diberikan oleh waiter.

 

“Kenapa jika satu kota, Ben?” tanyaku sambil mengaduk kopi di depanku.

 

“Kamu tidak pernah mau ketika aku ajak dulu pindah ke London. Kamu lebih memilih tinggal disini.” Ben berkata sambil memandang tajam padaku.

 

“Aku rasa kamu tau betul apa alasannya. Kamu menolak pekerjaan dari UNY, menerima tawaran dari UCL dan melupakan bahwa kita juga punya rencana disini” aku berkata sambil menatap balik Ben.

“Kamu juga pergi mengikuti Rory” lanjutku dalam hati.

 

“Tapi dear, kamu juga tau kalau UCL menawarkan pekerjaan tetap dan projek yang sangat ingin aku kerjakan” ujar Ben. Wajahnya tampak gusar, menandakan dia tidak suka dengan pembicaraan.

“Apakah kamu benar benar mau membahas ini kembali? “ lanjutnya dengan tidak sabar.

 

Sejenak kami terdiam.

 

“Ben …” aku berkata, berusaha memulai percakapan kembali

“Aku mau bilang terima kasih karena kamu mau datang hari ini di tengah kesibukanmu. Aku mendengar dari Rory kalau kamu ada seminar dan berada di New York selama seminggu karena itu aku meminta nomor teleponmu dan berusaha memberanikan diri menelpon” sambungku.

 

Tatapan mata Ben kembali melunak, wajahnya tidak lagi tegang.

“Aku kaget sekaligus senang waktu kamu sore itu telepon. Kamu tau, aku tidak bisa menghubungimu. Beberapa kali aku coba tanyakan nomor teleponmu yang baru ke Matt dan Rory, tetapi mereka tidak memberikannya. Begitu juga dengan e-mail ku tampaknya berada di spam folder mu”. Ben berkata dengan suara tenang, dia berusaha tersenyum tapi aku bisa lihat tulang muka nya mulai kembali mengeras.

 

Aku menyeruput kopi tetapi tidak lagi bisa merasakan apa rasanya. Perasaanku berkecamuk, sempat aku berpikir untuk tidak melanjutkan apa yang menjadi maksudku. Tapi pikiran lainku membantah, harus hari ini disampaikan.

 

“Ben.. ada hal penting lain yang harus aku sampaikan” Aku memberanikan diri berbicara. “Kita tidak punya banyak waktu. Bukankah kamu akan terbang pulang malam ini?”

 

“Jika soal surat perceraian, pendirianku masih sama, aku tidak akan menanda-tangani nya” kata Ben dengan nada suara lirih.

 

“Bukan soal itu .. ini soal Claire. Anakku. Anak kita” kataku tegas. Aku merasakan kelegaan walau lidah terasa berat. 

 

“Aku tidak mengerti apa maksudmu dengan anak” Ben berkata lalu mengusap kepala dengan kedua tangannya.

 

“Laura tidak memberitahukanmu?” aku balas bertanya karena bingung. Laura adalah ibu Ben, dan dia adalah satu-satunya kontak selain Rory yang aku punya sewaktu Ben pulang kembali ke London setelah menyelesaikan Ph.D nya di New York.

 

Ben tampaknya berusaha mengingat, dahinya berkerut dan tangannya masih berada di atas kepala nya.

“Seingatku, mom memberitahu kalau kamu menelpon pagi hari dan mengatakan kamu tidak mau dihubungi lagi dan akan mengirimkan berkas perceraian lewat pos udara”.

 

Aku kaget mendengar penjelasannya tapi aku berusaha tenang

“Itu pesan terakhir. Tak lama setelah kamu kembali ke London, aku menelpon untuk memberikan kabar kalau aku hamil” 

 

Sejenak aku berusaha menenangkan diri karena begitu emosional jika mengingat kejadian yang lama. “Setelah dua tahun kamu tidak mengabariku, aku menelpon Laura kembali dan meminta dia menyampaikan jika kamu memang tidak mau mempunyai anak, aku akan mengirimkan berkas berkas perceraian. Baru setelah itu aku meminta agar kamu tidak menghubungi aku lagi.”

 

“Aku benar benar tidak tahu soal ini. Kenapa kamu tidak memberitahu Rory” tanya Ben. “Rory adalah sahabatmu dan aku bertemu Rory hampir setiap hari di kampus”

 

Mendengar itu entah kenapa perasaanku sakit, aku merasa muka ku panas. Pikiranku pun melayang mengingat Rory.

 

Rory Anderson adalah sahabatku. Kami sama-sama bersekolah di Emma Willard School, sebuah boarding school khusus perempuan di kota New York. Ayahnya seorang pengusaha dari London yang pindah ke Amerika. 

 

Kami langsung akrab seperti sepasang teman yang sudah saling mengenal sejak lama. Tiga tahun yang tak terpisahkan, bahkan teman teman mengatakan kami adalah kembar. Tanpa kami sadari, kami memang mempunyai wajah yang mirip, hanya saja aku jauh lebih tinggi dan warna rambut kita berbeda. Rory dengan rambut ginger, sering menjadi bahan lelucon teman-teman. Aku yang bertubuh lebih besar biasanya yang akan menghadapi mereka.

 

Selepas sekolah, Rory melanjutkan ke University College London (UCL)  dan aku memilih University of New York (UNY). Liburan musim panas pertama di bangku kuliah, aku mengunjungi Rory dan disana lah aku mengenal Ben, teman Andrew, kakak Rory. Ben hampir setiap hari datang ke rumah Rory karena rumah mereka berdekatan di daerah West Brompton. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil.

Usia aku dan Ben terpaut enam tahun, saat itu dia sedang bekerja sebagai dosen honorer di UCL.

 

Sepulangnya aku ke Amerika, aku dan Ben sering bertukar kabar sampai tiba liburan musim panas kedua. Kali ini Ben, Rory, Andrew dan Alfie yang giliran mengunjungi ku di Amerika. Alfie adalah kekasih Rory pada saat itu. Mereka mengunjungi aku sekaligus di waktu yang sama mereka mengantarkan Ben karena Ben mendapatkan promosi Ph.D di UNY. 

 

Aku masih ingat sepulang kami dari Disneyland, Ben menyatakan perasaannya padaku. Di akhir liburan musim panas kedua, Ben mengajak aku menikah. Aku saat itu masih berusia 19 tahun dan Ben 25 tahun. Ibuku semula menentang pernikahanku, sebaliknya ayahku yang ternyata mengenal ayah Ben tidak menyatakan keberatan apa pun. 

 

Lamunanku buyar mendengar suara bass milik Ben,

“Gyda, kamu tau bahwa ini adalah masalah yang besar? Kita menikah tetapi kamu tidak memberitahukan kepadaku kalau kamu hamil? Nada suara Ben terdengar emosional.

 

“Aku masih 22 tahun ketika hamil Claire, Ben” lanjutku sambil menatapnya. “Aku mencoba menghubungi ibumu, menanyakan nomor teleponmu tetapi dia tidak pernah memberikannya. Aku coba menghubungi Andrew dan Rory, mereka mengatakan akan meminta ijin dirimu”

 

Sampai disitu aku berusaha menahan emosi dan kemudian melanjutkan kembali perkataanku,

“Andai saja aku tidak lemah dan tidak harus istirahat total dari pertengahan kehamilan, mungkin aku sudah datang ke London. Claire lahir tanggal 3 di bulan November dengan proses kelahiran memakan waktu 48 jam. Sampai usia setahun, Claire sering sekali sakit-sakitan. Aku tidak mungkin membawanya terbang atau meninggalkannya terbang ke London mencari dirimu.”

 

Aku menghela nafas sejenak dan lanjut berkata,

“Ayahku sudah menghubungi ayahmu tetapi kamu tetap tidak menghubungi aku. Ayah bahkan hendak mendatangimu di London tetapi aku larang. Ketika Claire berumur setahun, ayah kemudian menunjuk pengacara untuk mengurus berkas perceraian. Saat itulah aku kembali menelpon Laura”

 

Aku menyeruput kopi ku yang mulai dingin dan meletakan kembali di meja bar. 

 

“Ben .. bukankah seharusnya aku yang bertanya, kemanakah kamu tujuh tahun terakhir ini?” kataku sambil menoleh ke arah Ben dan tersenyum.

 

Ben terdiam dan selang setelah beberapa lama dia berkata “Ketika kamu memutuskan untuk tidak menghubungi aku lagi, dan mengurus berkas perceraian, aku marah. Seharusnya ini adalah keputusan bersama dan bukan sepihak. Kita menikah dan tiba-tiba kamu memutuskan hubungan dan memintaku tidak menghubungimu lagi seperti dua orang yang tidak pernah mengenal . Aku merasa kamu tidak berhak bersikap begitu kejam kepadaku.”

 

“Aku rasa di dunia ini sudah biasa dengan stranger becomes friends, friends becomes lovers, and lovers become strangers. Kita pun tidak saling mengenal sebelumnya” Aku mencoba berargumen

 

Tanpa menunggu jawaban dari Ben, aku meraih tas ku yang berada di bawah kursi dan mengeluarkan beberapa lembar photo Claire dari dalam tas.

 

“Claire sangat mirip dengan mu dalam banyak hal. Bukan hanya secara fisik tetapi juga kepribadian. Bahkan aku berpikir sepertinya tidak ada sisi aku pada dirinya” kataku sambil tersenyum dan menyerahkan photo.

 

Ben meraih photo itu, tangannya bergetar membuka satu persatu photo Claire.

 

Kemudian aku melanjutkan berkata,

 

“Selama ini Claire hanya mengenal Matt sebagai sosok ayah karena Matt selalu ada untuk dia. Tapi sekarang dia sudah mulai beranjak besar, mulai mengerti, bertanya dan membandingkan fisiknya dengan Matt yang berbeda. Aku rasa ini saatnya kalian saling mengenal”

 

“Ada apa dengan kamu dan Matt?” tanya Ben keluar dari topik.

Jelas ada nada marah di suaranya.

 

“Dia atasanku dan kami masih bersahabat seperti waktu kami kuliah dulu. Karena dia orang yang terdekat, otomatis dia yang paling sering berinteraksi dengan Claire” kataku menjelaskan.

 

“Kapan aku bisa bertemu dengan Claire?”tanya Ben

 

“Minggu depan, aku dan Matt akan membawa Claire ke London untuk melihat bangunan kantor baru” jawabku. “Jika kamu tidak ada acara, kita bisa atur waktu untuk bertemu. Minggu ini aku akan menyampaikan kepada Claire jika kamu setuju”.

 

“Maukah kamu tinggal untuk sementara di London. Aku ingin mengenal Claire dan juga ingin bersama mu lebih lama” sahut Ben.

 

Aku sempat tercekat mendengar kalimat terakhir Ben.

 

“Aku akan coba tanyakan Matt” jawabku sambil menatap kedua bola mata Ben yang kini lebih hangat “Karena sebenarnya kami hanya akan tinggal tiga hari saja”

 

“Bolehkah aku menyimpan photo-photo Claire?” tanya Ben

 

Aku mengangguk, mengiyakan.

 

Kemudian kami pun larut dalam pembicaraan tentang Claire, mata Ben tampak bersinar ketika dia mendengarkan bagaimana anak perempuannya tumbuh menjadi anak yang periang, pemberani dan cerdas.

 

Kami pun menikmati makan siang bersama dan ketika jam mulai menunjukan pukul 14:00 kami sepakat mengahiri pertemuan hari ini. Ben masih harus kembali ke hotelnya dan berangkat ke Airport.

 

Sebelum berpamitan, aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku

 

“Ben .. ketika dulu kamu pergi, aku berpikir karena hubungan kita tidak lagi bisa diselamatkan. Keputusan kita untuk menikah dulu pun mungkin bukan keputusan yang matang, mengingat kita relatif sangat muda saat itu” aku berkata dan menghela nafas. “Selama empat tahun kita bersama, aku makin mengetahui kalau kamu masih mencintai Rory. Kamu pun mulai menjauh seiring usaha ku untuk mendekatimu,  hingga kamu … tak bisa lagi aku gapai.”

 

Sampai disini aku sulit sekali melanjutkan kata-kata, tapi aku melihat jarum jam yang terus bergerak.

 

“Kamu bilang kamu mau melepaskan Rory tapi keputusanmu pindah ke London mengikuti Rory dibandingkan menerima tawaran di UNY membuatku sakit hati. Kamu tahu benar tawaran menjadi asisten professor bukanlah alasan utama” aku berkata dengan nada datar, menahan emosi yang berkecamuk di dada.

 

Ben menatap ku lurus tajam, raut muka nya begitu emosional tapi dia tetap diam.

 

Aku pun berpamitan sesudah itu tetapi Ben masih terdiam, aku memeluk dan mencium keningnya. Kemudian dia menahan tanganku, balas memelukku, dan dengan lirih berbisik di telingaku “bisakah kita mengulang kembali tahun yang hilang?”

 

Aku tidak menjawab dan bergegas keluar dari café, di sepanjang jalan menuju kantor aku menangis. Pertemuan ini sangat mencampur-adukkan emosiku.

 

Ben adalah satu-satunya orang yang pernah dan mungkin masih aku cintai. Tetapi dia mencintai orang lain dan hanya menyisihkan sebagian hatinya untukku.  Lalu apa artinya mempertahankan tetapi meninggalkan, menikmati kesendirian dalam hubungan dibanding melepaskan. Jika kembali bersama adalah jawaban, aku tak yakin cinta lama nya akan hilang dalam ingatan.

 

Tapi mungkin kali ini aku salah menilai seseorang, dan mungkin Ben termasuk ke dalam 20 % dari analisa yang salah.

London

London, 30 Juni 2018
Cerita Rory

Pagi ini aku menjemput Ben di bandara Heathrow. Sudah seminggu aku tidak bertemu dengannya, perasaan rindu ini begitu besar padahal hampir setiap hari kami berkomunikasi kecuali di hari terakhir keberangkatan Ben dari New York. 

 

Di pintu kedatangan, aku menyambutnya dan berusaha memeluknya. Dia berusaha melepaskan pelukanku. Aku mencoba bertanya apa yang terjadi tetapi dia tidak menjawab. Dia hanya berkata meminta agar aku menyetir karena dia terlalu lelah. Sesampainya di apartemen milik Ben, Ben memintaku agar tidak dulu pergi karena dia akan mandi dan ada sesuatu yang penting harus dibicarakan.

 

Selagi dia mandi, aku membongkar isi kopernya dan kutemukan berkas perceraian itu masih ada di koper dan belum dia tanda-tangani.

 

Ben kemudian muncul di ruang keluarga, tubuhnya mengeluarkan aroma segar, tetapi mukanya terlihat masih kusut. Aku yang menahan amarah dari tadi lalu melemparkan berkas perceraian dari Gyda ke atas meja.

 

“Apa ini? Aku pikir kamu bertemu dengan Gyda untuk menyerahkan berkas perceraian. Itu sebabnya aku memberitahu Gyda bahwa kamu ada seminar di New York dan memberikan nomor teleponmu!” Aku berkata setengah berteriak.

 

Ben memandangku tajam, membuat bulu kudukku berdiri, tidak pernah dia memandangku seperti ini.

 

Dia lanjut menjawab “Rory, aku mencintai mu tetapi aku menyayangi Gyda dan aku sudah ratusan kali mengatakan kepadamu kalau aku tidak mau berpisah dengannya. Terlebih sekarang setelah tau kalau kami mempunyai Claire”

 

Aku terperanjat, dan tidak menyangka Gyda akan menyampaikan ini kepada Ben. Bukankah Gyda sendiri yang bilang tidak ada gunanya memberitahukan Ben ketika mereka pada akhirnya akan bercerai.

 

Ben kemudian melanjutkan perkataannya,

“Rory, kenapa kamu tidak memberi tahu aku soal Claire? Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku? Tujuh tahun adalah waktu yang lama. Aku menjauh dari Gyda demi untuk bersamamu, karena kita tahu dia tidak akan bisa meninggalkan New York. Tapi tanpa Gyda pun aku merasa hampa dan kini Claire ada dan kehilangan waktu untuk bersama dengan anak perempuanku membuatku terluka. Aku pikir kita tidak bisa meneruskan hubungan ini lagi.”

 

Seketika aku teringat Gyda, sahabatku yang merebut Ben dari sisi ku. Kenapa 10 tahun yang lalu dia begitu bodoh menerima lamaran Ben? Kenapa dia tidak menyadari kalau Ben hanya berusaha membuatku cemburu karena aku bersama Alfie? Kenapa dia tidak menyadari kalau Ben menyukainya karena dia mirip aku? Kenapa dia harus hamil Claire? Kenapa dia harus merebut Ben sekali lagi dariku?… Berjuta pertanyaan muncul di pikiranku  sampai akhirnya aku tiba tiba jatuh ke lantai tersadarkan diri. Samar aku mendengar suara Ben memanggil namaku.

 

New York

New York, 8 September 2019 Cerita Ben

Hari ini aku berada di dalam taxi di kota New York khusus untuk menemui Gyda dengan membawakan bunga kesayangannya. 

 

Setahun terakhir ini kami berdua menyempatkan diri untuk saling mengunjungi. Beberapa bulan pertama Gyda tinggal di London untuk men set-up kantor baru membuatku senang karena aku bisa bertemu dengannya dan Claire. Kami menghabiskan waktu seperti layaknya keluarga normal, hanya saja terkadang dia tidak mau tinggal di apartemen ku dan lebih memilih di apartemen nya dengan alasan karena lebih dekat ke kantor. 

 

Ketika mereka sudah kembali ke New York, kerap aku pun mengunjungi mereka. Hubunganku dengan keluarga Gyda pun membaik, orang tua ku pun menerima Gyda kembali dan Claire menjadi kesayangan mereka.

 

Aku pun melepaskan hubungan dengan Rory, meski sulit apalagi ketika Gyda dan Claire tidak berada di London, sulit untuk tidak kembali ke perasaan merindukan Rory

 

Hari ini rencananya  aku meminta ijin Gyda untuk membawa Claire tinggal bersama ku di London, dan jika sedang ada liburan sekolah dia bisa mengunjungi Gyda dan keluarganya di New York. Ingin aku membawa Gyda turut serta, seandainya bisa… Aku berusaha menghibur pikiranku, aku tidak mau terlihat lemah di depannya sama seperti ketika kejadian di café tahun lalu.

 

Sepuluh menit kemudian, aku sudah sampai di tempat Gyda. Aku pun meminta taxi untuk menunggu. Suasana di sekeliling sangat sepi dan awan gelap hitam bergerak di atas kepala ku. Ketika aku berjalan, hujan pun mulai turun.

 

Sesampainya disana, di tengah hujan aku tidak kuasa menahan diri dan mulai menangis. Mungkin Gyda kebingungan pikirku. Kemudian aku meletakan bunga dan berkata

 

“Gyda, aku tau ini bukan saat yang tepat. Aku hanya ingin bilang kalau aku selalu mencintaimu, mungkin cinta yang berbeda dari yang aku rasakan kepada Rory” Tenggorokanku terasa tersekat tapi aku melanjutkan “Di awal kita bersama aku berusaha agar perasaan ini terhubung denganmu tetapi tetap tidak bisa. Aku berusaha memenuhi isi kepalaku dengan kamu tetapi aku sudah melemparkan kunci hatiku. Semakin hari aku semakin merasa kesepian. Puncaknya ketika dulu kamu tidak setuju aku memilih pulang dan kita berpisah, sesungguhnya aku lega karena kita tidak lagi bersama”

 

Aku menarik nafas, terdiam sejenak dan kemudian melanjutkan.

 

“Aku berharap kamu bisa memaafkanku. Aku sudah memberimu kesedihan hampir setengah dari usiamu, tapi aku berharap kamu bahagia ketika kita bersama setahun terakhir ini karena saat itu aku berusaha melupakan Rory dan mengisi hatiku dengan kamu” 

 

Aku terisak menangis, sakit ini begitu teramat sangat sampai bisa merobek hatiku. Dengan segenap kekuatan aku melanjutkan perkataanku,

 

“ Kali ini aku juga minta ijin untuk membawa Claire.  Ibumu sudah mengijinkan asalkan setiap tahun aku membawa Claire mengunjunginya. Matt juga memberikan sebuah amplop kepadaku, sebuah pesan dari mu. Aku akan membukanya setelah mengunjungimu”

 

Setengah jam kira-kira aku berada di tempat Gyda, hujan mulai turun dengan sangat deras. Aku meminta ijin pulang dan berkata “Aku tidak pernah mau kehilangan dirimu, tidak dengan perceraian dan tidak juga dengan kematian” kemudian aku mencium batu nisan nya.

 

Di dalam taxi, menuju rumah keluarga Gyda, aku memandang keluar jendela taxi. Hujan turun semakin deras dan tanpa aku sadari air mata mengalir. Aku teringat betapa pucatnya Gyda ketika bertemu di café setahun yang lalu. Badannya sangat kurus, aku pikir karena diet dan olahraga. Aku baru mengetahui dari Matt kalau Gyda sakit jantung coroner dan baru beberapa bulan sebelum pertemuan di café, dia menjalani operasi bypass coroner tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Masih teriang di telinga ketika Matt mengatakan kepadaku untuk tidak menyia-nyiakan waktu bersama Gyda, saat itu aku berharap Tuhan mengembalikan waktu 10 tahun yang aku sia-siakan.

 

Aku kemudian memandang ke atas pangkuanku sebuah amplop berwarna biru langit, warna kesukaanku. Akupun merobek amplop dan mengeluarkan isi surat di dalamnya.

 

Di atas kertas yang juga berwarna biru muda, di atasnya terdapat tulisan Gyda

 

puisi

Aku menutup surat itu, dan berkata

 

“Gyda, kamu selalu benar dalam menilai orang”

 

 

-TAMAT-

4 Komentar

  • eka fitriani larasati

    aku sedih bacanya, mana lagi diare lagi bacanya, wkwkwkwk, nambah deh moodnya, hahahaha. aku jadi inget filmnya anne hathaway yang judulnya ONE DAY, kisahnya hampir mirip sama kisah ini. so sad pisan lah.

  • Renov

    hi neng,
    makasih ya udah nyempetin baca…
    huhuhu .. semoga segera sembuh yaa diare nya ..
    sorry ceritanya bikin sedih 🙁

    one day teh yang temenan tea bukan sih, yang selalu ketemuan di tanggal yang sama ..?

  • eka fitriani larasati

    bukan, yang sobatan dari jaman kuliah …. si ceweknya jatuh cinta sama si sobat ini. cowoknya juga, tapi gengsi. sampai si cowok sering gontaganto pasangan dan kawin. tapi si cewek mah tetep aja single da cinta mati sama si cowok. sampai akhirnya si cowok sadar kejadiran si cewek dan mereka mau bersatu, eh ditengah jalan si cewek meninggal. sedih banget!!!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!