Career Skills

Mudah Menyerah? Waspadai 16 Gejala Ini!

gejala mudah menyerah

Mudah Menyerah adalah kebalikan dari sikap pantang menyerah atau gigih. Tentunya kita semua sudah tahu itu ya. Tapi fakta berikutnya mungkin tidak semua orang tahu. 

Jadi, jika kita mendapati diri kurang tekun, mudah menyerah, enggak konsisten. Sebenarnya ini adalah persoalan yang bisa diuraikan .. kaya matematika aja hehe … dan dicari solusinya.

Kita tidak mau lagi melakukannya karena terbentur akan kesulitan. Jika kita mau duduk sejenak untuk melihat apa penyebabnya, ini akan memudahkan kita untuk melihat pola dan alasan mengapa kita mudah menyerah. 

Tunggu sebentar … buat apa sih?

Tujuan utama (mungkin) untuk mendapatkan apa yang kita impikan atau idamkan selama ini.

Nah, buat memudahkan kamu untuk tahu kenapa sih mudah menyerah. Ada 16 alasan di bawah yang bisa membantumu. 

"Terus aku mesti ngapain?" ...sahutmu

Mudah aja, sekarang coba ikuti langkah berikut,

1. Ambil alat tulis, kertas dan pulpen.

2. Tuliskan hal apa yang pengen kamu raih tapi gagal dicapai karena kamu kurang grit a.k.a kurang leukeun a.k.a kurang gigih.

3. Jawab dengan jujur dan pilih salah satu atau lebih dari 16 gejala di bawah ini.

4. Adakah kesamaan gejala mudah menyerah antara kegagalan yang satu dengan kegagalan yang lain? 

5. Jika ada tuliskan di dalam buku catatan dan coba memperbaikinya ketika lain waktu kita mencoba melakukan sesuatu, mengejar apa yang ingin kita raih.

 

Gejala-gejala Mudah Menyerah

1. Gagal mengenali dan menggambarkan dengan jelas apa yang diinginkan.

2. Menunda-nunda pekerjaan, dengan atau tanpa sebab (biasanya didukung serangkaian alibi atau apologi yang hebat)

3. Kurang minat dalam memperoleh pengetahuan khusus.

4. Keraguan, kebiasaan “melempar tanggung jawab” pada setiap kesempatan, dan bukan menghadapi isu dengan jujur (biasanya juga didukung dengan alibi).

5. Kebiasaan mengandalkan alibi alih-alih menyusun rencana yang jelas demi solusi masalah.

6. Kepuasan diri (Mementingkan diri sendiri). Gejala seperti ini sulit disembuhkan dan tidak ada harapan bagi orang-orang yang mengidapnya.

7. Acuh tak acuh, biasanya tercermin dalam kesiapan seseorang untuk berkompromi dalam segala kesempatan ketimbang menghadapi oposisi lalu melawannya.

8. Kebiasaan menyalahkan orang lain atas kesalahan seseorang, dan menerima kondisi tidak menyenangkan sebagai hal yang tak mungkin dihindari.

9. Lemahnya keinginan, akibat pengabaian dalam memilih motif yang mendorong tindakan.

10. Kesudian, bahkan niatan untuk menyerah pada saat melihat sinyal kekalahan (berdasarkan satu atau lebih Enam Ketakutan Dasar-takut.

11. Kurangnya rencana yang terkelola dengan baik, yang diwujudkan dalam bentuk tertulis sehingga bisa dianalisi.

12. Kebiasaan mengabaikan untuk bergerak berdasarkan ide, atau mengambil peluang ketika muncul.

13. Hanya berandai-andai dan bukan bertekad.

14. Kebiasaan berkompromi dengan kemiskinan dan bukan mengejar kekayaan atau kesuksesan. Ini akibat tak adanya ambisi untuk menjadi, untuk melakukan, dan untuk memiliki.

15. Mencari semua jalan pintas menuju kekayaan, dengan mencoba mendapatkan tanpa memberikan apa yang sepadan, biasanya tercermin dalam kebiasaan berjudi, berusaha untuk mengajukan tawaran yang berani.

16. Takut dikritik, kegagalan untuk menyusun rencana mengubahnya menjadi tindakan, karena terpengaruh oleh apa yang akan orang pikirkan, lakukan, atau katakan. Musuh ini menduduki peringkat pertama karena ia umumnya ada di pikiran bawah sadar seseorang, dimana kehadirannya kerap tidak disadari.

The Man in the Mirror

Kebanyakan postingan di blog ini memang diperuntukan buat saya yang nulis, termasuk artikel kali ini. Terkadang di satu waktu kegagalan tidak hanya menghampiri dalam satu bentuk, namun juga beberapa bentuk. 

Boleh jika kita menoleh ke belakang untuk tahu apa penyebabnya, menganalisa supaya ke depan bisa mengambil keputusan yang bijaksana. Menganggap setiap keputusan yang diambil sebagai salah satu investasi terbesar.

Planning/rencana yang detail juga memudahkan kita untuk bangkit setelah kegagalan. Semakin kita bisa melihat diri kita dalam rencana itu, akan semakin siap mental kita. Yang sering tidak kita perhitungkan adalah kemungkinan terburuk akibat gambaran mental yang kurang jelas. Ini yang membuat kita tidak bersiap dengan kegagalan.

Referensi

Buku Think and Grow Rich Workbook

Buku bisa kalian pinjam dan baca di aplikasi ipusnas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!