Kesehatan

Cegah Disabilitas Karena Kusta. Dukung Indonesia Bebas Kusta!

disabilitas karena kusta

Permasalahan kusta di Indonesia masih menjadi prioritas pemerintah sebagai salah satu penyakit tropis terabaikan. Selain itu pemerintah berusaha menghapus stigma di masyarakat kalau penyakit kusta tidak dapat disembuhkan.

 

Penyakit kusta  dapat disembuhkan tapi jika orang dengan kusta tidak segera diobati dan luka yang timbul tidak ditangani maka mereka beresiko disabilitas. Disabilitas ini mempunyai potensi menurunkan kualitas hidup penderita.

Pada tahun 2017, angka disabilitas kusta masih cukup tinggi yakni 6,6/1.000.000 penduduk padahal pemerintah telah menetapkan target disabilitas kusta kurang dari 1/1.000.000 penduduk. Tingginya angka disabilitas kusta mengindikasikan adanya keterlambatan penanganan dan penemuan kasus kusta.

 

Begitu juga dengan kasus baru kusta pada anak yang mencapai 9,14% berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada tanggal 13 Januari 2021. Padahal target pemerintah sendiri adalah di bawah 5%.

 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Kemudian apa saja yang bisa mencegah disabilitas karena kusta? Apa tantangan yang dihadapi dalam menghadapi disabilitas karena kusta?

 

 

Talkshow Ruang Publik KBR bekerja sama dengan NLR Indonesia dengan mengundang narasumber, Dr.dr Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi, SpK  – Konsultan, Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta) Indonesia PERDOSKI . dan Pak Dulamin, atau yang biasa dipanggil Pak Amin, Ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) Kec. Astanajpura Cirebon.

Kusta KBRx1M1C

Mengapa Penyakit Kusta Erat Kaitannya dengan Disabilitas?

Penyakit kusta yang dikenal dengan penyakit lepra atau penyakit Hansen, adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau kuman dan berpotensi besar menimbulkan disabilitas atau ketidakmampuan untuk mengerjakan pekerjaan sehari-hari jika terkena pada bagian tubuh seperti tangan, kaki dan mata. 

 

Bakteri kusta yang bernama Mycobacterium leprae (M.leprae) dapat menyerang fungsi saraf yang dapat menyebabkan,

 

  1. Mati rasa sehingga tubuh kita tidak dapat merasakan sakit atau gatal jika ada luka. Kondisi ini sangat berbahaya karena pada saat itu bakteri aktif menyebar sehingga bercak melebar dan lama kelamaan menimbulkan kerusakan jaringan yang lain termasuk tulang sehingga bentuk menjadi cacat.
  2. Kelumpuhan, yaitu lumpuh yang layu atau juga lumpuh kaku akibat mempengaruhi otot.
  3. Kekeringan kulit.

 

Penyakit kusta memiliki kecenderungan mengalami disabilitas, jika kuman yang menyerang bagian tubuh seperti tangan, kaki dan mata terlambat ditangani. Selain menyerang fungsi saraf di bagian tubuh seperti siku dan belakang kaki, bakteri kusta dapat menyerang area saraf di wajah dan kelopak mata, dan yang paling berbahaya jika menyebabkan kornea mata mati rasa sehingga dapat menimbulkan kebutaan.

 

Oleh karena itu peran aktif pasien dalam mendeteksi gejala penyakit ini dapat  membantu dokter untuk memberikan penanganan harus sesegera mungkin.

 

Gejala yang harus diperhatikan adalah,

 

  • Timbulnya bercak merah atau bercak putih. Bercak ini bisa banyak atau hanya satu. 
  • Bercak ini memberikan rasa kebal, tidak sakit dan tidak gatal. 

 

Proses dari masuknya kuman sampai timbul gejala membutuhkan proses tahunan sekitar 3-5 tahun tapi bisa juga lebih dari rentang waktu itu dan sulit diprediksi.

 

Rentang luas penyakit ini sangat luas. Ada yang tipe ringan seperti misalnya di punggung dan ada juga yang tipe berat dengan kelainan yang sudah menyeluruh dengan jumlah bakteri banyak dan daya tahan tubuh pasien yang menurun.

 

Yang harus dicurigai adalah ketika terjadi kelainan pada bentuk badan yang terkena kuman atau reaksi.

Upaya Pencegahan Penyebaran Kusta 

Jenis penyakit kusta ada kusta basah dan kusta kering. Lama penanganan penyakit ini tergantung pada jenisnya. Untuk penyakit kusta kering, penderita menjalani multi drug therapy selama kurang lebih 6 – 9 bulan. Sementara penyakit kusta basah, terapi yang diberikan adalah selama kurang lebih 12 – 18 bulan.

 

Obat yang diberikan gratis oleh Puskesmas berupa paket berisi dua obat untuk kusta kering (paucibacillary leprosy), berisi antibiotik dan dapsone. Paket dan berisi tiga obat untuk kusta basah (multibacillary leprosy) berisi antibiotik, dapsone dan lamprin. Pengobatan tidak boleh putus dikonsumsi. Jika putus, maka pasien harus mengulangnya dari awal, ini untuk mencegah kekebalan terhadap bakteri yang dapat menimbulkan berkurangnya efek obat pada penyakit.

 

Kusta yang terlambat diobati dapat menyebabkan disabilitas pada tangan, mata atau kaki. Oleh karena itu pasien kusta yang sudah mengalami disabilitas perlu merawat diri dengan menggunakan prinsip 3 M, yaitu membersihkan, merawat dan melindungi bagian tubuhnya yang mengalami disabilitas karena kusta.

ruang publik KBR

Luka yang timbul dari penyakit kusta lama kelamaan menebal seperti kapalan.

 

Dari pengalaman Pak Amin  sebagai penderita dan Ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) Kec. Astanajpura Cirebon., beliau mengajak 20 orang anggotanya untuk merendam luka di air minimal selama 20 menit, angkat dan keringkan, kemudian  membersihkannya dengan batu apung. Kulit yang menebal itu bisa menipis dan luka menjadi bersih. 

 

Sayangnya informasi seperti ini belum banyak diketahui oleh masyarakat terutama penderita kusta itu sendiri. Luka yang dibiarkan tidak terawat berpotensi menularkan kepada orang lain.

Stigma Kusta yang Beredar di Masyarakat

Stigma yang beredar di masyarakat perihal penyakit kusta adalah penyakit genetis adalah salah. 

 

Penyakit kusta ada yang tidak menular, yaitu jika jumlah kumannya sedikit (kusta kering) dan ada yang menular. Penyakit kusta menular terjadi pada kelainan yang banyak dan saraf yang terkena pun banyak.

 

Penyakit kusta menular namun bukan penyakit genetis yang diwariskan dari orangtua kepada anaknya. Seorang ibu hamil yang menderita kusta tidak akan melahirkan bayi dengan penyakit kusta.

 

Penyakit kusta disebabkan oleh transmisi antar manusia. Hanya di Amerika saja, yang penyebarannya bisa dari hewan (Armadillo) ke manusia dan di Afrika, yang penularannya dari tikus dan monyet.

 

Pada prinsipnya jika memiliki kontak lama dan erat dengan penderita kusta yang belum diobati dan mempunyai jumlah kuman yang banyak, misalnya di satu rumah, akan meningkatkan resiko penyebaran terutama anak-anak. Anak-anak lebih rentan terkena penyakit menular kusta dibandingkan orang dewasa.

 

Salah satu metode pencegahan penyebaran adalah menjaga jarak, dan menghindari tetesan air dari mulut atau hidung penderita kusta yang tidak diobati ketika mereka bersin atau batuk.

 

Selain itu penularan tergantung juga kepada daya tahan tubuh orang yang akan ditulari.

 

Baik itu penyakit kusta yang tidak menular maupun yang menular mempunyai potensi disabilitas yang sama bila terjadi kerusakan pada saraf.

Suara untuk Indonesia Bebas Kusta

Jika penderita kusta sudah mulai mengalami reaksi terhadap peradangan hebat pada saraf, segera diobati untuk mencegah disabilitas. Menurut WHO, sekali pengobatan dapat membunuh bakteri sebanyak kurang lebih 99%. 

 

Lamanya pengobatan karena banyaknya bakteri yang dalam kondisi dorman/tidak melakukan kegiatan apapun. 

 

Pemerintah Indonesia menjadikan program Penyelenggaraan Penanggulangan ( P2) Kusta sebagai Program Prioritas Nasional (Pro-PN).

 

Program tersebut meliputi promosi kesehatan, surveilans, kemoprofilaksis (pemberian obat rifampisin dosis tunggal pada orang yang memiliki kontak dengan penderita kusta) dan tata laksana Penderita Kusta.

 

Selain itu lembaga seperti NLR Indonesia juga banyak melakukan program awareness disabilitas karena kusta, salah satunya adalah talk show KBR yang dihadiri juga oleh para member komunitas 1M1C dan komunitas blogger lainnya.

Referensi

Talkshow Ruang Publik KBR, “Yuk Cegah Disabilitas Karena Kusta”, hari Senin tanggal 20 Desember 2021 Pk 09:00 – 10:00

 

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Kusta

 

Prevalensi Kusta Pada Anak Tinggi, Ini Upaya Kemenkes, sehatnegeriku.kemkes.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!