Career Skills

10 Sebab Utama Kegagalan Seorang Pemimpin

kegagalan seorang pemimpin

Sebab Utama Kegagalan Seorang Pemimpin. Sore itu teman saya bercerita sambil tersedu sedan. Bukan saja karena persoalan menghadapi customer yang sulit, namun reaksi atasannya yang membuat dia merasa tidak dihargai dan tidak dilindungi. 

Apa yang terjadi? 

Tiga pria memasuki restoran tempatnya bekerja. Dua orang diantaranya bertubuh besar dan satu lagi bertubuh kecil. 

Sesuai prosedur kesehatan baru di Jerman yang mulai berlaku di pertengahan Agustus, karena melonjaknya angka kasus COVID-19, maka setiap orang yang akan dine in atau makan di dalam restoran harus membawa bukti tertulis kalau dirinya sudah menerima vaksin komplit atau hasil test lab negatif yang masih berlaku (48 jam) atau surat keterangan sembuh dari COVID-19. 

Teman saya pun menjelaskannya kepada ketiga pemuda ini. Para pemuda yang walau kelihatan gusar, akhirnya menunjukan sertifikat vaksin COVID-19 dari app. Sesuai arahan shift leader, seperti yang sebelumnya, teman saya meminta mereka untuk mengklik sertifikat agar dia bisa melihat berapa kali mereka sudah mendapatkan vaksin.

Tampaknya permintaan itu membuat pitam salah seorang yang bertubuh paling besar. Dengan kasar, dia mengatakan kalau teman saya tidak dididik dengan benar sehingga bisa-bisanya mengajukan permintaan bodoh. Dia dan kedua temannya yang lain meracau sehingga membuat kondisi di dalam restoran menjadi panas.

Salah satu shift leader mendekati dan kembali menginformasikan kepada para pemuda itu, dan meminta mereka untuk tenang atau keluar. Rupanya itu semakin membuat mereka gusar, sampai si pria besar mengatakan, “Saya minta semua nama kalian. Akan saya catat dan laporkan kepada polisi atas perbuatan tidak menyenangkan. Saya juga akan laporkan kepada atasan kamu.” sambil berteriak mencari-cari manager.

Teman saya dan shift leadernya memberikan nama mereka masing-masing. Namun para pemuda itu masih saja tidak puas. Sampai si pria besar berteriak, “Saya akan benturkan kepala kalian satu-satu ke tembok.

Mendengar hal itu, teman saya berkata kalau itu sudah masuk ke dalam ancaman dan dia bisa melaporkan ke polisi. Teman si pria yang bertubuh paling kecil mencoba menenangkan dan akhirnya mereka pun keluar.

Sesudah peristiwa itu, shift leader mencoba menghubungi manager. Seperti biasa, manager mengatakan,“Tetap tenang.”

Tidak ada yang salah dari pernyataan itu. Namun pernyataan berikutnya yang membuat teman saya menangis. 

Dia mengatakan, “Karena kalian tidak bisa mengendalikan diri. Kita kehilangan 3 orang pembeli. Jika seorang saja bertransaksi sekitar 10 euro. Maka kita sudah kehilangan 30 euro.”

Di antara nada kesedihan teman saya itu, saya kemudian berpikir dengan menciptakan perasaan tidak nyaman dan tidak aman sebenarnya seorang pemimpin sudah gagal dalam memimpin. 

Kira-kira termasuk ke dalam poin yang mana, atasan teman saya ini?

10 Sebab Utama Kegagalan Seorang Pemimpin

Salah satu dari kesalahan berikut sudah cukup untuk memicu kegagalan seorang pemimpin.

1. Ketidakmampuan untuk mengelola detail.

Kepemimpinan yang efisien menuntut adanya kemampuan untuk mengelola dan menguasai hal-hal detail. Tak ada pemimpin sejati yang “terlalu sibuk” untuk mengerjakan hal-hal yang diharapkan dari dirinya dalam kapasitas sebagai seorang pemimpin.

2. Enggan melaksanakan pekerjaan sederhana.

Kegagalan seorang pemimpin yang kedua adalah tidak mau mengerjakan pekerjaan sederhana, atau pekerjaan yang dikerjakan anak buahnya.

Para pemimpin yang benar-benar hebat selalu berkenan, ketika situasi menuntut, melakukan pekerjaan apa pun yang mereka minta untuk dikerjakan oleh para pengikutnya.

Dengan mereka mengetahui proses kerja anak buah, mereka lebih mudah melakukan analisa dan kontrol untuk hasil kerja yang lebih efektif dan efisien.

3. Mengharap bayaran atas apa yang mereka "tahu" ketimbang atas apa yang mereka lakukan berdasarkan yang mereka tahu.

Dunia tidak membayar orang-orang atas apa yang mereka “ketahui”. Dunia membayar orang atas apa yang mereka lakukan, atau karena mengajak orang lain untuk mau berbuat.

4. Takut menghadapi persaingan dari para pengikut.

Pemimpin yang takut bahwa salah seorang pengikutnya mungkin akan mengambil alih posisinya hampir bisa dipastikan menyadari ketakutan itu cepat atau lambat,

Pemimpin yang mumpuni melatih calon pengganti yang akan menerima delegasi, sewaktu-waktu, tentang detail apa saja mengenai posisinya. Hanya dengan cara inilah seorang pemimpin bisa menggandakan dirinya dan menyiapkan dirinya untuk berada di banyak tempat, dan memberi perhatian pada banyak hal pada satu waktu.

5. Kurang imajinasi.

Tanpa imajinasi, seorang pemimpin tidak akan mampu mengatasi hal-hal darurat dan tak akan mampu menyusun rencana-rencana yang digunakan untuk memandu para pengikutnya secara efisien.

6. Egois.

Pemimpin yang mengakui semua kehormatan atas pekerjaan yang dilakukan oleh para pengikutnya sebagai miliknya sendiri sudah pasti akan dihadang banyak kebencian. 

Pemimpin yang benar-benar hebat tidak akan mengakui atas kehormatan apa pun. Dia sudah cukup puas melihat kehormatan itu, jika memang ada, dialamatkan kepada para pengikutnya, karena dia tahu bahwa orang kebanyakan akan bekerja lebih keras demi mendapat pujian dan pengakuan daripada demi uang semata-mata.

7. Tak bisa mengendalikan diri.

Para pengikut tidak akan menghormati pemimpin yang tak bisa mengendalikan diri. Selain itu, ketidakmampuan untuk mengendalikan diri dalam aneka bentuknya akan menghancurkan ketahanan dan vitalitas semua orang yang terlibat di dalamnya.

8. Tidak loyal.

Pemimpin yang tidak loyal terhadap amanah yang ia emban, terhadap para rekannya, yaitu orang-orang yang ada di atasnya, dan yang ada di bawahnya.

Pemimpin yang tidak loyal tak akan mampu mempertahankan kepemimpinannya dalam waktu yang lama. Kurangnya loyalitas merupakan salah satu penyebab utama kegagalan dalam setiap lini kehidupan.

Kegagalan seorang pemimpin akibat tidak loyal ini disebabkan karena kurangnya empati dan simpati kecuali menyangkut kepentingannya.

9. Penekanan "wewenang" kepemimpinan.

Pemimpin yang efisien memimpin dengan cara menyemangati, bukan dengan cara menanamkan ketakutan di hati para pengikutnya.

Pemimpin yang mencoba membuat para pengikutnya terkesan dengan menyebut-nyebut “wewenang”-nya termasuk pemimpin yang memimpin dengan pemaksaan.

Jika seorang pemimpin memang pemimpin sejati, maka ia tak perlu menyebarkan fakta itu kecuali melalui tindakannya.

10. Penekanan pada titel.

Pemimpin yang kompeten tidak butuh “titel” untuk meraih penghormatan dari para pengikutnya. Orang yang melebih-lebihkan titelnya biasanya karena tak punya hal lain yang bisa diandalkan. Ini menutup sebab utama kegagalan seorang pemimpin.

Bagaimana Pengalamanmu?

Sepanjang kalian bekerja pasti sudah menemui berbagai macam tipe dan karakter pemimpin. Ada yang menginspirasi tetapi ada juga yang menunjukan satu atau lebih dari poin kegagalan seorang pemimpin di atas.

Punya pengalaman serupa dengan teman saya? Jika kalian menjadi pemimpin, kegagalan seorang pemimpin mana yang ingin kalian hindari dari mulai sekarang?

 

Stay safe … xoxo

Referensi

Buku Think and Grow Rich Workbook

Buku bisa kalian pinjam dan baca di aplikasi ipusnas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!