Review,  Pengembangan Diri

10 Hal Dari Konsep Minimalisme ala Fumio Sasaki

Minimalisme

Konsep Minimalisme Ala Fumio Sasaki. Banyak orang mengatakan minimalisme sekarang ini seperti new religion. Orang mulai mengikuti prinsip dan gaya hidup ini dan tidak sedikit yang mengatakan menemukan kebahagiaan setelah menjalankannya.

 

Saya mulai mengenal minimalisme baru beberapa tahun terakhir ini, walau konsep ini sebenarnya sudah diajarkan di dalam ajaran agama saya yaitu Islam. 

Nabi Muhammad SAW mencontohkan konsep hidup ini, yang lebih dikenal dengan zuhud, yang artinya meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat.

 

Cerita saya bermula dari menonton Youtube tentang mengorganisasi barang, namun akhirnya saya berakhir di video tentang hidup minimalism. Namun saat itu, walau saya menonton tapi pola berbelanja tetap sama, tetap konsumtif. 

Baju, sepatu, tas, kosmetik, buku dan sederetan list barang lainnya yang tetap saya beli walau yang lama belum rusak atau belum habis. Lucunya dari sekian banyak yang saya beli, yang saya pakai ya yang itu itu lagi. Ada yang seperti saya kah?

Jika pikiran saya sedang jernih, saya berkata pada diri sendiri ,“saya pakai itu-itu lagi, berarti yang saya butuhkan tidak banyak”. Sayangnya perkataan itu tidak berdampak lama, karena begitu saya sudah di area perbelanjaan, saya lupa sederetan barang yang jarang saya sentuh. 

 

Pikiran yang muncul saat berbelanja justru sebaliknya,  “Kalau saya beli ini, pasti akan matching sama ini atau kalau saya beli buku ini, saya akan mengalami perubahan signifikan”

Kenyataannya, seperti juga barang yang terdahulu, mereka hanya memenuhi space di lemari.

Mengapa kita menjadi seorang minimalist?

Tentunya dengan berbagai alasan. Ada yang hidupnya jadi tidak teratur karena barang-barang yang dimilikinya. Ada yang karena keterbatasan ekonomi, ada yang super kaya tapi tidak pernah merasa bahagia dengan apa yang dia miliki, ada yang ingin keluar dari depresi, ada yang karena mengalami musibah atau sesuatu yang tidak diinginkan, dan lain-lain.

Alasan saya sendiri?

Ada banyak alasan yang melatarbelakanginya, dari mulai dikejar-kejar rasa tanggung jawab untuk menggunakannya, belum lagi waktu yang harus diluangkan untuk mengurus barang-barang itu, sampai kepada pikiran jika saya meninggal, barang-barang ini akan dibuang juga pada akhirnya.

 

Alasan yang terakhir itu muncul setelah kematian mendadak mertua perempuan yang saya cintai. Saya sangat terpukul dengan peristiwa itu dan mulai menata ulang hidup.

Kisah Fumio Sasaki

Seperti halnya kita yang hidup dengan barang yang tidak kita butuhkan. Fumio hidup di dalam apartemennya di Tokyo dengan banyak barang. Dia adalah orang yang tidak bisa membuang bahkan sampai yang tidak penting sekalipun. Dulu, dia adalah seorang maksimalist, yang menyimpan apapun dan membeli barang yang dirasa paling cool, paling mahal dan paling trendi. 

Dia merasa tidak bahagia, sering membandingkan hidupnya dengan orang lain dan merasa apa yang dia miliki sekarang membatasinya untuk bisa bahagia. Dia selalu menemukan alasan atas apa yang membuatnya tidak bahagia, dan tenggelam dalam pikiran negatif. Sampai dia merasa kepercayaan dirinya hilang dan takut untuk melakukan perubahan.

Dengan menjadi minimalist, dia juga merubah gaya hidupnya. Apartemennya menjadi lebih bersih, kebiasaan minum alkohol berganti dengan olahraga karena sekarang dia memiliki space yang tadinya dipenuhi dengan barang. Akibatnya dia lebih bugar di pagi hari dan produktif di tempat kerja. Bahkan dia bisa menurunkan berat badan juga.

Cerita Fumio ini lekat dengan kehidupan kita ya. Kita yang hidup di dalam zona nyaman dengan barang-barang yang kita miliki, walau tidak semuanya kita butuhkan.

review buku goodbye things Fumio Sasaki

Konsep Minimalisme ala Fumio Sasaki

“The things you own end up owning you”

– Tyler Durden, Fight Club

Menurut Fumio Sasaki, minimalisme bukan hanya merapikan barang namun melepaskan barang yang tidak kita butuhkan, latihan untuk mencari kebahagiaan yang sejati. Dia bahkan hanya memiliki 5% dari apa yang dia punya sebelumnya.

 

Di bawah ini adalah 10 poin dari konsep minimalisme ala Fumio Sasaki

1. Kebahagiaan kita tidak ditentukan atas apa yang tidak kita punya, dengan memilikinya tidak menjamin kita bisa bahagia.

Ada yang menarik dari konsep minimalisme ini, yaitu hubungan konsumerisme dengan kebahagiaan. 

 

Ketika kita terus membeli barang, kita merasa sudah membeli kebahagiaan. Itulah kenapa kita attached dengan barang milik kita. Rasanya sulit untuk melepaskan walaupun kita tidak membutuhkannya.

2. Apa yang kita butuhkan sebenarnya sudah kita miliki.

Pernahkah kita bingung mau pakai baju apa ketika mau pergi. Lalu kita akan berkomentar, “duh nggak punya baju”.

Kalau kita perhatikan dan sadari sebenarnya apa yang kita inginkan sudah terpenuhi, dan kenapa kita masih tidak bahagia?

 

Jawabannya, sewaktu keinginan kita terpenuhi, kita jadi menyia-nyiakan apa yang kita dapatkan, sampai pada akhirnya kita merasa bosan dengan benda itu.

Mengapa seperti itu?

Stimulus wears off. 

Rasa senang dengan barang baru itu lama-lama akan hilang dan berganti dengan kebosanan. Pola ini akan terulang terus.

Kita sendiri bisa kok hidup dengan barang sedikit. Kalau soal penampilan, yang terpenting adalah rapih, bersih dan sopan. Percaya deh cuman kita yang merhatiin penampilan kita sendiri.

3. Berhenti membandingkan hidup kita dengan orang lain.

Ketika kita mulai membandingkan hidup kita dengan orang lain dari segi materi dan merasa hidup kita paling menderita sedunia, sudah saatnya kita membuang apa yang kita punya. 

 

Alasannya sederhana, 

 

untuk menghargai apa yang kita punya dan bahwa sebenarnya kita tidak butuh terlalu banyak hal di dunia ini, cukup apa yang kita perlukan.

4. Semakin banyak barang, semakin menurunkan efisiensi.

Semakin banyak barang yang kita punya = semakin banyak fokus yang harus kita bagi = semakin banyak waktu yang disisihkan = semakin banyak energi yang dikeluarkan = semakin besar tanggung jawab.

 

Apa yang kita miliki, di jaman dulu digunakan sebagai alat yang berfungsi untuk bertahan hidup. Semakin berkembangnya jaman, kemudian menjadi simbol kualitas seseorang. Tetapi jika seseorang terlalu berpegangan pada metode ini, semakin kita terikat pada kebendaan.

Kita menjadi budak dari barang-barang kita, menghabiskan waktu, energi dan bahkan emosi untuk memeliharanya.

5. Manfaatkan kemajuan teknologi.

Teknologi memudahkan kita untuk hidup tanpa banyak barang. Kita bisa memiliki apa yang  kita butuhkan contohnya saja peta, kalkulator, kamera, tv, radio dll hanya dalam satu alat yaitu smartphone.

 

Artinya barang sejenis sebenarnya sudah bisa kita sisihkan.

6. Decluttering itu adalah skill/keahlian.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk decluttering, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melakukannya. Seperti juga keahlian lainnya, kita harus selalu berlatih dan rutin melakukannya.

 

Bukan tanpa alasan, tetapi dengan cara ini kita membangun kebiasaan. Ketika sudah menjadi habit, kita akan melakukannya tanpa berpikir panjang.

 

Barang-barang yang tidak kita butuhkan, bisa kita donasikan, atau jual kembali. Walaupun nilai yang kita dapatkan tidak sama dengan nilai yang kita keluarkan saat membeli, tapi pikirkan hal yang bisa kita dapatkan setelah decluttering.

7. Minimalisme membantu mempersempit fokus kita.

Berkat teknologi zaman sekarang, kita mudah mendapatkan informasi hanya dengan mengetik kata kunci yang kita inginkan. Belum lagi ketika kita berselancar di dunia maya. Tanpa kita sadari, otak kita dipenuhi dengan terlalu banyak informasi dan dapat menyebabkan keadaan yang dinamakan “information metabolic syndrome.”

Sebuah tes menunjukan, seseorang yang terlalu banyak mengkonsumsi informasi mendapatkan hasil brain test yang lebih buruk dibandingkan ketika mereka mengkonsumsi ganja.

 

Dengan mempersempit fokus, kita dapat menghindari keadaan itu dan hanya memperhatikan apa yang penting untuk kita.

8. Jadikan pengalaman sebagai kenangan.

Yang paling sering kita lakukan adalah menyimpan benda-benda kenangan dibandingkan mengejar pengalaman. Padahal semahal atau seberapa bagus barang itu buat kita, tetap tidak akan mempunyai value yang sama untuk orang lain. Begitu juga barang-barang lain yang kita miliki.

Intinya, fokus pada apa yang kita bisa bawa kemanapun kita pergi.

9. Minimalisme adalah gaya hidup yang baik untuk jiwa dan raga.

Ketika kita sudah menerapkan konsep minimalisme, kita mempunyai lebih banyak waktu untuk fokus pada apa yang kita ingin lakukan. Stres juga dapat jauh berkurang karena tidak banyak barang yang menyita perhatian kita.

60 ribu pikiran melintas di otak kita sepanjang hari. 95 persen adalah yang kita pikirkan di hari sebelumnya dan 80 persen adalah pikiran negatif. 

 

Dengan konsep minimalisme, kita dapat mengosongkan isi pikiran kita dari yang tidak penting. Otak ibaratnya komputer, jangan ditambahin terus sampai akhirnya kita kehabisan memory.

10. Bersyukur terhadap apa yang kita miliki.

Fumio Sasaki menyadari kalau bersyukur bukan hanya sebuah metode. Bersyukur adalah bagian dari kebahagiaan. Bersyukur adalah kebahagiaan itu sendiri.

Sebuah penelitian psikologi telah menunjukan bahwa semakin orang bersyukur, maka dia semakin bahagia. Jadi tidak mengejutkan jika kita bilang kalau bersyukur adalah kebahagiaan.

Kesimpulan

“Don’t think. Discard!”

Seperti juga Fumio Sasaki yang bertahap menjalankan konsep minimalisme ini, kita pun bisa memulainya sedikit demi sedikit, mulai dari satu laci kemudian pindah ke laci lainnya.

 

Seperti yang sudah dijelaskan oleh Fumio, bahwa decluttering adalah kemampuan yang harus terus diasah dan kita peroleh dengan cara berlatih terus menerus. 

 

Apa yang kita dapatkan dari mengurangi barang kita, nilainya jauh lebih besar dari nilai barang itu sendiri. 

 

Berniat mencoba? Atau kalian sudah pernah punya pengalaman dengan konsep minimalisme ini sendiri?

Stay safe … xoxo

 

Baca juga: Review Buku Goodbye, Things Karya Fumio Sasaki.

Referensi

Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism, Fumio Sasaki (2015).

5 Komentar

  • Tika Insani

    Emang minimalisme ini susah banget untuk diterapkan. Aku juga udah baca buku ini, nonton video-video tentang orang yang bisa hidup minimal tapi ketika aku terapkan susah banget. Aku baru bisa mengerem di pembelian baju dan sepatu, yang sudah jarang aku pake pasti aku keluarkan dan kasih ke orang akibatnya jadi lumayan deh luas lemari. Tapi, printilan kecil kayak buku dan skincare itu susah banget. Sayang aja buangnya padahal ya gak dipake, apalagi buku catetan. Aku suka banget nulis-nulis di catetang sampe akhirnya banyak banget buku yang udah terisi tetep aku simpan. Sayang kalo dibuang karena jadi kenangan dan jejak hahaha apakah Mba Renov punya ide harus diapakan buku-buku catatanku ini? hhehehe

    • renov

      Hallo Kak Tika.
      Dijalani sedikit demi sedikit aja Kak. Saya juga sama kok menyetop belanja yang gak penting kaya Kak Tika juga. Buku catatan itu bisa dengan cara discanned atau diphoto.

      Saya biasanya menerapkan itu kalau sehabis pulang liburan dimana bon bon belanja pasti banyak banget. Supaya bisa mentrack pengeluaran, saya scannin satu-satu pakai app di handphone.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!