Kesehatan mental,  Kesehatan

Bagaimana Toxic Self-Esteem Mempengaruhi Kesehatan Mental

Listen to the audio version.
Voice: Netta Shakira

 

Di dalam kehidupan sehari-hari terutama di era sosial media seperti sekarang, banyak kita mendengar kata “Percaya Diri (PD)”. Entah itu rasa percaya diri yang berlebihan, dengan tujuan untuk mencapai popularitas, untuk menjadi viral atau sebaliknya, atau hanya sekedar posting photo untuk meningkatkan kepercayaan diri. 

 

Tapi benarkah kita tahu batas antara kepercayaan diri yang sehat dan kepercayaan diri toxic atau yang dapat berakibat buruk kepada kesehatan mental kita?

 

Sebelumnya yuk kenali dulu apa itu rasa percaya diri.

Apa itu Rasa Percaya Diri (Self-Esteem)?

Sekitar tahun 1960-an para psikolog mulai meneliti apa yang menyebabkan seseorang lebih sukses dari orang lain. Pada tahun 1969, Nathaniel Branden seorang psikoterapis berkebangsaan Kanada-Amerika menerbitkan sebuah buku dengan judul “The Psychology of Self-Esteem. 

 

Di dalam bukunya ini, dia menggambarkan rasa percaya diri sebagai hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, bagaimana seseorang memperlakukan dirinya, menghargai diri sendiri, dll. Dia menjelaskan ada dua komponen di dalam self-esteem yaitu self confidence (kepercayaan diri) untuk menghadapi tantangan hidup dan self respect atau keyakinan bahwa kita berhak memperoleh kebahagiaan, kesuksesan dan cinta. 1

 

Self-Esteem adalah bagaimana seseorang menilai dan menghargai dirinya sendiri, berdasarkan opini dan apa yang dia percaya dari dirinya bahwa dia pantas, berharga, mampu, dan berguna tanpa memperdulikan apa pun yang sudah, sedang atau akan terjadi2

 

Nathaniel Branden kemudian pada tahun 1994 menerbitkan buku yang sangat terkenal sampai sekarang, yaitu The Six Pillars of Self-Esteem (6 Pilar Kepercayaan Diri). Di dalam buku ini dijelaskan mengenai 6 pilar untuk membangun kepercayaan diri dan kesadaran diri.      

 

Benarkah Self-Esteem Dapat Membuat Kita Sukses? 

Untuk menjawab pertanyaan apakah rasa percaya diri dapat membuat kita sukses, maka kita memerlukan terlebih dahulu alat untuk mengukur self-esteem , untuk mengetahui skala self-esteem dimana kondisi ideal (sukses) terwujud. 

 

Berbagai macam alat ukur psikolog digunakan, salah satunya yang terkenal adalah skala Self-Esteem Rosenbergyang diciptakan pada tahun 1965. Bentuk alat test ini berupa 10 pertanyaan Global Self-Esteem untuk mengukur perasaan positif dan negatif tentang diri sendiri.

 

Dari hasil pengukuran dengan berbagai alat ukur, psikolog membagi jenis self-esteem  berdasarkan skala tinggi dan rendah, high self-esteem/percaya diri tinggi dan low self-esteem/minder/kurang percaya diri. 3

 

Mereka berasumsi bahwa high self-esteem lebih memberikan hasil dan manfaat yang positif. Jika semua orang mempunyai high self-esteem maka semua orang akan sukses dan bisa bahagia, dan jika semua orang ini dikumpulkan di dalam satu lingkungan maka semua orang bisa hidup kaya dan tidak ada lagi kejahatan. Sebaliknya orang cenderung gagal jika memiliki low self-esteem, dan jika banyak orang gagal akan timbul kemiskinan yang memicu kejahatan.

 

Tapi benarkah seperti itu? 

Apakah kita sekarang melihat kalau kesuksesan dapat kita raih hanya karena kita mempunyai kepercayaan diri tinggi? 

 

Penelitian terbaru pada tahun 2003 membuktikan bahwa ternyata 

hanya ada korelasi kecil antara kepercayaan diri dan kesuksesan, serta korelasi yang besar antara kepercayaan diri dan feel good/perasaan bahagia4

 

Di dalam penelitiannya ini, R.F. Baumeister menemukan bahwa 

tingginya kepercayaan diri seseorang tidak berdampak langsung terhadap kesuksesan yang diraihnya, tetapi kesuksesan yang diraih seseorang dapat membantu meningkatkan kepercayaan dirinya. 4

 

Tipe-Tipe Self-Esteem?

 

Mulanya para psikolog membagi tipe self-esteem ini ke dalam dua, yaitu high self-esteem (kepercayaan diri tinggi) dan low self-esteem (kurangnya kepercayaan diri/minder).

 

Self-esteem secara harfiah adalah penilaian dari hasil evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Maka penilaian tinggi dan rendahnya ini bisa jadi akurat menggambarkan aslinya tetapi bisa juga hanya sebatas persepsi seseorang terhadap dirinya. 

 

Seseorang yang menganggap dirinya mempunyai high self esteem dapat mengarah  kepada orang dengan pribadi narsistik atau arogan. Sebaliknya seseorang yang merasa mempunyai low self esteem dapat mengarah pada insecure dan bahkan menderita inferior kompleks.

Kemudian dalam penelitan psikolog di Jepang pada tahun 2011dan seperti yang juga pernah ditulis oleh Maslow6 Maslow, di dalam Hierarki Kebutuhan dalam Piramida Maslow, melihat harga diri sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia. Kebutuhan harga diri yang kemudian oleh Maslow dibagi menjadi dua kategori yaitu healthy dan unhealthy/toxic self-esteem. 

1.    Healthy self-esteem/ kepercayaan diri yang sehat.

Adalah kepercayaan diri yang muncul dari internal, dari dalam diri kita, dari hal hal yang dapat kita kendalikan dalam hidup kita. 

Maslow menggambarkan healthy self-esteem sebagai kebutuhan yang tinggi akan self-respect dan kompetensi, dimana ini berasal dari self-praise atau kepuasan yang muncul dari pencapaian pribadi.

Dimulai dari mencintai dan menghargai diri kita.

Kita menyadari apa kelebihan kita dan berusaha positif tanpa menjadi arogan.

Kita menyadari kekurangan kita dan mencoba untuk menjadi yang lebih baik. 

Kita menunjukan kindness kepada diri sendiri. Misal: jika kita menemukan kesulitan, kita berusaha yang terbaik tetapi tidak memaksakan harus menjadi master dalam segala hal.

Kita mampu mengambil keputusan dan menganalisa diri sendiri.

Kita terbuka terhadap hal baru dan hal yang sulit.

Kita menjadikan kesalahan di masa lalu sebagai pelajaran tanpa diiringi dengan penyesalan dan menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain. Kita tahu bahwa yang kita punya adalah masa sekarang!

Kita percaya bahwa diri kita berharga dan good enough.

Kita percaya kalau kita berhak untuk bahagia.

 

2.    Unhealthy/toxic self-esteem/kepercayaan diri yang tidak sehat.

Adalah kepercayaan diri yang berasal dari eksternal, dari luar diri kita. Ini dapat membuat hidup kita rapuh karena standar kepercayaan diri kita didasarkan atas hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan dari luar.  

Maslow menggambarkan unhealthy/toxic self-esteem sebagai kebutuhan yang rendah, yang berasal dari penghargaan orang lain terhadap diri seseorang atau kepuasan yang muncul dari faktor luar.

 

Contoh jika self-worth / harga diri ditentukan dari penampilan, sepanjang kita berpikir penampilan kita keren maka kita akan feel good/bahagia, walaupun mungkin persepsi orang terhadap penampilan kita ini berbeda. Karena didorong oleh kebutuhan untuk feel good ini maka kita akan berusaha untuk terus berpenampilan keren apa pun yang terjadi.

 

Jika manusia sudah dapat memenuhi kebutuhan untuk dihargai ini, mereka sudah siap untuk memasuki tingkat piramida selanjutnya, tingkat piramida tertinggi yaitu aktualisasi diri.

 

Pengaruh Toxic Self-Esteem terhadap Kesehatan Mental

 

Toxic self-esteem timbul dari kebiasaan seseorang untuk mendapatkan kepercayaan diri secara instan agar dia merasa nyaman dengan dirinya sendiri. 

 

Ketika healthy self-esteem fokus pada upaya/proses kita menjadi lebih baik secara kualitas, yang berpengaruh terhadap meningkatnya kepercayaan diri. Toxic self-esteem justru berfokus pada hal yang bisa membuat feel good seketika, serta dia meyakini dirinya sendiri lebih dari apa yang sebenarnya orang lihat dari dia.

 

Masih bingung?

 

Ok, saya coba berikan contoh,

 

Dea adalah seorang karyawati di sebuah kantor swasta. Setiap hari dia memakai pakaian, dan aksesories bermerek, dan dia juga mengendarai mobil bagus. Dia selalu mengatakan kalau dia berasal dari keluarga kaya, memiliki banyak harta dan asset yang tersebar.

Teman-teman kantornya mulai merasakan kejanggalan ketika dia mulai sering meminjam uang, dengan berbagai macam alasan. Belum lagi ditambah dengan Debt Collector yang mendatangi tempat kerjanya dan seorang perempuan yang tiba tiba datang ke kantor dan mengatakan bahwa Dea adalah selingkuhan suaminya.

 

Ketika temannya berusaha untuk bertanya apa yang sesungguhnya terjadi, dia membuat cerita baru dan bersifat agresif seakan dia tidak melakukan kesalahan apa pun.

 

Jika kita lihat dari contoh di atas, kita melihat Dea sebagai orang yang kurang percaya diri sehingga dia harus pura-pura menjadi orang yang bukan dirinya, pura-pura menjadi kaya.

Benda benda yang dia miliki berfungsi hanya untuk menaikan kepercayaan dirinya.

 

Tetapi di dalam dirinya, Dea tidak melihat seperti yang kita lihat. Dia percaya bahwa dia kaya, dan dia berhak atas benda-benda itu karena statusnya.

 

Seseorang dengan healthy self-esteem akan fokus kepada usaha meningkatkan kualitas dirinya sehingga suatu hari mendapatkan jabatan tinggi yang dia inginkan dengan gaji yang dapat membantu dia mewujudkan impiannya.

 

Sampai disini sudah paham?

 

Masih belum?

Ok saya kasih satu contoh lagi,

 

Sora adalah seorang artis Selebgram. Dia terkenal setelah salah satu video nya yang viral di sosial media. Sora sendiri kurang cantik menurut pendapat orang, tetapi dia meyakini bahwa dia cantik dan berbakat.

 

Orang lain melihat dari luar Sora sebagai seseorang yang butuh untuk menjadi pusat perhatian, butuh pengakuan. 

 

Sora sendiri melihat dirinya sebagai artis yang luar biasa berbakat dan cantik. Jika ada yang mencoba mengkritik kemampuan nya, maka dia akan balik mengatakan bahwa orang itu cemburu terhadap kesuksesannya. Jika misal temannya menasihati agar menahan diri untuk melakukan hal bodoh hanya dengan tujuan viral, Sora mengatakan bahwa temannya tidak mendukungnya dan malah ingin menjatuhkannya.

 

Sudah paham sampai disini?

 

Sora dan Dea meyakini sesuatu yang tidak ada, dan dia terus meyakini nya dan berbuat apa pun agar dia feel good.

Mereka tidak berusaha meningkatkan kualitas diri mereka, mereka hanya berusaha memberi makan ego mereka untuk feel good terhadap dirinya sendiri, dan mencoba membuktikan kepada orang lain bahwa dia seperti yang dia pikirkan.

 

 

Mark Manson di dalamnya buku berjudul The Subtle Art of Not Giving a F*ck / Sebuah Seni untuk Berpikir Bodo Amatmenuliskan,

 

Di jaman sekarang dengan pengaruh budaya dan sosial media, kita merasa berhak untuk selalu merasa feel good sepanjang waktu.

 

Contohnya, sosial media menjadi pelarian kita ketika sedang merasa sedih, misal untuk berbelanja walau kita merasa sedang tidak perlu, atau hanya sekedar melihat feeds kesukaan kita baik itu selebriti, teman, binatang, dll.

 

Ketika seharusnya kita belajar menerima perasaan sedih itu, kita malah membiasakan diri kita untuk menghindari perasaan sedih. Kita mencari sesuatu untuk mengkompensasi perasaan sedih.  

 

Coba bayangkan, seandainya kita membiarkan toxin ini menjadi sebuah kebiasaan. Dia akan menjalar dan mempengaruhi kesehatan mental kita.

 

Tahan diri jika di kemudian hari mendapati diri kita melemparkan kritik atas standar hidup orang yang berbeda, misal selera berpakaian, gaya hidup, parenting style, jumlah likes yang diperoleh, jumlah follower, dll. Memang rasanya sungguh menyenangkan ketika dengan mengkritik, kita mengatakan kepada diri sendiri dan bahkan kepada dunia kalau “ Saya / Pilihan Saya Lebih Baik !”.

 

Tetapi hidup tidak ditentukan dari apa yang kita berusaha tunjukan ke dunia, hidup tergantung dari usaha kita menjalani nya. Hasil tidak akan menghianati usaha, jika sekarang belum berhasil, terus mencoba memperbaiki sampai kita ada di titik yang ingin kita capai.

 

 

Kesadaran Diri (Self-Awareness) untuk Healthy Self-Esteem?

 

Anda dapat membaca di pembahasan sebelumnya (tipe-tipe Self-Esteem) indikasi seseorang dengan Healthy Self Esteem.

Sekarang coba anda jawab pertanyaan di bawah dengan jujur :

 

Pale%2BGreen%2BGrid%2BMinimalist%2BPaperclip%2BGeneral%2BMemo

 

Tandai poin mana saja yang anda berikan jawaban Tidak.

 

Sekarang fokus kepada poin tadi dan tuliskan langkah-langkah apa saja yang dapat anda lakukan setiap hari nya. Tuliskan pendekatan dan rencana yang anda rasa paling sesuai dengan anda.

 

Jika semisal anda terlalu keras kepada diri anda sendiri, tidur kurang dan telat makan karena urusan pekerjaan, kali ini anda harus memprioritaskan kebutuhan anda. Pekerjaan akan selalu ada esok hari, buatlah skala prioritas mana yang penting dan harus diutamakan.

 

Hal kecil jika dilakukan secara terus menerus akan menjadikan kebiasaan. Kebiasaan akan membentuk pribadi dan karakter. Pribadi dan Karakter akan mengarahkan anda pada takdir anda.

 

“Watch your thoughts, they become your words; watch your words, they become your actions; watch your actions, they become your habits; watch your habits, they become your character; watch your character, it becomes your destiny.”, Lao Tzu

 

 

 

References:

 

1Nathaniel Branden. The Psychology of Self-Esteem, 1969

 

2Lutan, Rusli. Self-Esteem: Landasan Kepribadian. Jakarta: Bagian Proyek Peningkatan Mutu Organisasi dan Tenaga Keolahragaan Dirjen Olahraga Depdiknas. 2003

 

3Baumeister, R.F., Campbell, J.D., Krüger, J.I., & Vohs, K.D. Does High Self Esteem Cause Better Performance, Interpersonal Success, Happiness, or Healthier Lifestyles, 2003

 

4Rosenberg, M. Society and the adolescent self-image. Princeton, NJ: Princeton University Press, 1965

 

5Ito, M., Kawasaki, N., & Kodama, M. Three Types of self-esteem: its characteristic differences of contingency and contenment of source of self-esteem. Shringaku Kenkyu: The Japanese Journal of Psychology, 81(6), 560-568

 

Maslow, Abraham. Motivation and Personality, 1954

 

7Manson,Mark. The Subtle Art of Not Giving a F*ck, 2016

11 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!